CHAPTER 3
THE REASON I HAVE TO MEET YOU
Hilmi dan Salman duduk untuk
beristirahat karena kelelahan berputar mengelilingi pasar. Meraka menyantap
sekaleng minuman dingin untuk pelepas dahaga. “Aahh... rasanya seperti hidup
kembali. Minuman dingin memang paling mantap saat musim panas” nada kepuasan
tak terelakkan dari ucapan Salman.
“Kau melihatnya? Gadis itu
...” belum selesai Hilmi berbicara Salman memotong ucapan Hilmi.
“Iya aku melihatnya, melihat
bagaimana wajahmu terpesona oleh seorang gadis pada pandangan pertama”
pandangan candaan dan senyuman lebar muncul di wajah Salman.
Wajah Hilmi memerah. “Bukan
itu maksudku, dasar bodoh” Jitakan Hilmi melayang ke kepala Salman.
“Aww... kau memukulku lagi?”
Salman mendesah.
“Gadis itu, jika gadis kecil
yang ada dimimpiku sudah dewasa, mungkin dia akan mirip seperti gadis yang kita
temui di pasar tadi. Tidak, aku rasa itu memang dia. Entah kenapa aku
benar-benar yakin akan hal itu” lagi-lagi wajah serius itu semakin sering
muncul dari wajah Hilmi.
“Maksudmu gadis itu adalah
gadis kecil yang ada di dalam mimpimu?” Salman benar-benar kaget dengan apa
yang diutarakan Hilmi. “Bodoh! ” Salman memberi jitakan balasan kepada Hilmi,
namun tidak ada respon sama sekali dari Hilmi. “Kalau kau yakin kenapa tadi
tidak tanyakan langsung? itu jalan terbaik untuk membuktikannya kan?”
“He... tanya apa? apa kau gadis didalam mimpiku?apa
kau pernah mengenalku? kalau
ternyata bukan dia orangnya, aku akan benar-benar dianggap sebagi orang aneh
kan? Itu memalukan.” Hilmi mengambil napas panjang dan mengeluarkannya. Ia
tidak tahu apa yang harus dilakukan.
“Boleh aku tanya beberapa
hal?” Salman memandang Hilmi dengan tatapan penuh rasa ingin tahu
“Apa?” Sekarang pandangan
mereka bertemu. Hilmi melihat wajah Salman yang serius
“Kenapa ingin sekali
menemukan gadis itu? Apa akan ada yang berubah jika kau menemukannya? Bagaimana
jika itu cuma mimpi, dan gadis itu tidak benar-benar nyata. Bukankah kau sama
saja membuang waktumu?” Salman terdiam berharap mendapat jawaban seketika itu
juga, ia memandang wajah Hilmi dengan lekat.
Hilmi memalingkan tatapannya
dari Salman dan wajahnya menjadi murung seakan ia tidak ingin memberikan
jawabannya. Raut wajah Salman berubah kaget sekaligus ia seperti mengerti akan
segalanya, segala yang dipikirkan sahabat yang sudah ia kenal selama enam tahun
lamanya. Lama menunggu Hilmi tak juga membuka mulutnya, Salman akhirnya
memutuskan untuk berdiri dan mengajak Hilmi pulang.
“Gadis itu...” akhirnya
sepatah kata keluar dari mulut Hilmi. Salman yang sudah dalam posisi berdiri
menoleh kearah Hilmi.
“Aku berpikir dia adalah
kunci dari ingatanku yang sampai sekarang masih belum kembali. Entah kenapa,
dalam mimpiku aku merasa gadis itu sudah lama aku kenal. Seorang gadis yang
hilang dari ingatanku. Dan semua orang berusaha menyembunyikan dia dariku.”
Hilmi menghentikan perkataannya sebentar.
“Menyembunyikan? maksudmu
mereka tahu tapi tidak memberitahumu?” Silmi kembali duduk untuk mendengarkan
penjelasan Hilmi selanjutnya.
“Kecelakaan itu merenggut
semua ingatanku. Ingatan tentang diriku, tentang orang tuaku, tentang
teman-temanku, tentang keluargaku. Aku sadarkan diri sehari sebelum orang tuaku
meninggal. Bahkan saat semua orang menangis karena kepergian mereka, aku bahkan
tidak bisa merasakan kesedihan sedikitpun. Semua orang yang datang memelukku
dan mengatakan agar aku tabah, mereka juga mengatakannya sambil menangis.
Kakakku tidak berhenti menangis hari itu. Karena hal itu aku merasa jadi orang
yang benar-benar jahat. Meski mereka bilang, aku belum mengerti apa yang
terjadi pada orang tuaku, karena itu aku tidak menangis, sebenarnya itu karena
aku sama sekali tidak ingat apapun tentang mereka.” Hilmi menundukkan wajahnya
berharap tidak ada yang melihatnya dengan raut wajah seperti itu.
“Tapi kakakmu bilang malam
itu ia melihatmu benar-benar menangis.”
“Itu karena aku berpikir
itulah yang seharusnya dilakukan seorang anggota keluarga. Aku pikir akan
baik-baik saja, saat ingatanku kembali nanti aku akan dengan puas menangis
untuk mereka. Menangis karena aku mengingat kenangan bersama mereka. Tapi
bahkan setelah satu bulan sehat dan berada dirumah, aku tidak diijinkan keluar
rumah oleh kakek yang saat itu merawat kami. Lalu saat kembali kesekolah, semua
orang tau kalau aku kehilangan ingatanku sebelum kecelakaan dan mereka bersikap
baik, memperkenalkan diri mereka kembali, begitu juga para guru. Bukan hanya
itu, seluruh sanak saudara juga begitu. Mereka menceritakan segala hal yang
tidak aku ingat.” Hilmi berhenti sejenak dan memandang Salman. “Kau mengerti
sekarang, kenapa aku pikir mereka menyembunyikan sesuatu?”
“Maksudmu tidak menunjukkan
sikap ingatlah aku tapi yang mereka tunjukkan adalah inilah kau yang sekarang tidak perlu mengingat masalalu
karena aku yang akan memberitahukannya.” Wajah Salman sedikit kaget dengan apa yang dikatakannya
sendiri. tapi ia melihat Hilmi yang menganggukkan kepala sehingga ia menjadi
yakin akan pernyataannya. “Dengan kata lain mereka ingin membiarkan dirimu yang
sebelum kecelakaan menghilang dan menjadi dirimu yang baru?” Silmi berhenti dan
menundukkan wajahnya “Tapi itu benar-benar kejam. Maksudku, bagaimana bisa
mereka semua bersekongkol untuk benar-benar menghilangkan ‘Hilmi sebelum
kecelakaan’. Apa ada yang mengatur segalanya?” Sekarang wajah Salman
dipenuhi keheranan antara percaya dan tidak percaya.
“Aku selalu ingin bertanya
kepada kakak, apa ada sesuatu yang ia sembunyikan. Tapi itu akan melukai
hatinya kan? Lagipula aku takut seandainya semua yang aku pikirkan tentang
mereka adalah kebenarannya. Tapi semenjak gadis itu muncul di mimpiku, aku
mulai mengingat beberapa hal meski itu hanya sekilas dan samar-samar. Aku mulai
mengingat bagaimana orang tuaku tersenyum kepadaku. Karena itu aku ingin
menemukannya. Gadis itu mungkin adalah kunci ingatanku yang disembunyikan oleh
mereka semua.” Pandangan Hilmi berpindah ke langit. Ia melihat langit yang
mulai berubah menjadi kemerahan karena matahari sebentar lagi akan terbenam.
“Aku akan menemukannya lagi. Sebelum itu, aku akan mempersiapkan pertanyaan.”
Senyum kecil terlihat di wajah Hilmi. Sebuah senyum optimis ia bisa mendapatkan
kembali ingatannya. Karena ingatan itu adalah dia yang sebenarnya.
“Ngomong-ngomong kenapa kau tau
kalau gadis mengambil barang di toko yang salah?” Salman bertanya penasaran.
“Hmm… itu karena bibi Ros bilang sedang mencari seorang gadis yang tidak
mengambil barangnya karena pergi ke toilet. Begitu melihat seorang gadis
dimarahi di toko yang mirip dengan toko bibi Ros aku menyadarinya.” Jelas
Hilmi. “Haah… cuma itu? Wah… sepertinya kau berbakat.” Ia bergumam sambil
menegakkan badannya dan berdiri.”Barbakat? Berbakat apa?” Tanya Hilmi
penasaran. “Berbakat mengejutkan orang lain” Salman tersenyum lebar sambil
memamerkan gigi putihnya kemudian mereka berdua tertawa bersama.
--------------------------------------------------------------------------------------- BERSAMBUNG
Tidak ada komentar:
Posting Komentar