Jumat, 01 Mei 2015

[Chapter 3] THE LOST MEMORY

CHAPTER 3

THE REASON I HAVE TO MEET YOU

Hilmi dan Salman duduk untuk beristirahat karena kelelahan berputar mengelilingi pasar. Meraka menyantap sekaleng minuman dingin untuk pelepas dahaga. “Aahh... rasanya seperti hidup kembali. Minuman dingin memang paling mantap saat musim panas” nada kepuasan tak terelakkan dari ucapan Salman.
“Kau melihatnya? Gadis itu ...” belum selesai Hilmi berbicara Salman memotong ucapan Hilmi.
“Iya aku melihatnya, melihat bagaimana wajahmu terpesona oleh seorang gadis pada pandangan pertama” pandangan candaan dan senyuman lebar muncul di wajah Salman.
Wajah Hilmi memerah. “Bukan itu maksudku, dasar bodoh” Jitakan Hilmi melayang ke kepala Salman.
“Aww... kau memukulku lagi?” Salman mendesah.
“Gadis itu, jika gadis kecil yang ada dimimpiku sudah dewasa, mungkin dia akan mirip seperti gadis yang kita temui di pasar tadi. Tidak, aku rasa itu memang dia. Entah kenapa aku benar-benar yakin akan hal itu” lagi-lagi wajah serius itu semakin sering muncul dari wajah Hilmi.
“Maksudmu gadis itu adalah gadis kecil yang ada di dalam mimpimu?” Salman benar-benar kaget dengan apa yang diutarakan Hilmi. “Bodoh! ” Salman memberi jitakan balasan kepada Hilmi, namun tidak ada respon sama sekali dari Hilmi. “Kalau kau yakin kenapa tadi tidak tanyakan langsung? itu jalan terbaik untuk membuktikannya kan?”
“He... tanya apa? apa kau gadis didalam mimpiku?apa kau pernah mengenalku? kalau ternyata bukan dia orangnya, aku akan benar-benar dianggap sebagi orang aneh kan? Itu memalukan.” Hilmi mengambil napas panjang dan mengeluarkannya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
“Boleh aku tanya beberapa hal?” Salman memandang Hilmi dengan tatapan penuh rasa ingin tahu
“Apa?” Sekarang pandangan mereka bertemu. Hilmi melihat wajah Salman yang serius
“Kenapa ingin sekali menemukan gadis itu? Apa akan ada yang berubah jika kau menemukannya? Bagaimana jika itu cuma mimpi, dan gadis itu tidak benar-benar nyata. Bukankah kau sama saja membuang waktumu?” Salman terdiam berharap mendapat jawaban seketika itu juga, ia memandang wajah Hilmi dengan lekat.
Hilmi memalingkan tatapannya dari Salman dan wajahnya menjadi murung seakan ia tidak ingin memberikan jawabannya. Raut wajah Salman berubah kaget sekaligus ia seperti mengerti akan segalanya, segala yang dipikirkan sahabat yang sudah ia kenal selama enam tahun lamanya. Lama menunggu Hilmi tak juga membuka mulutnya, Salman akhirnya memutuskan untuk berdiri dan mengajak Hilmi pulang.
“Gadis itu...” akhirnya sepatah kata keluar dari mulut Hilmi. Salman yang sudah dalam posisi berdiri menoleh kearah Hilmi.
“Aku berpikir dia adalah kunci dari ingatanku yang sampai sekarang masih belum kembali. Entah kenapa, dalam mimpiku aku merasa gadis itu sudah lama aku kenal. Seorang gadis yang hilang dari ingatanku. Dan semua orang berusaha menyembunyikan dia dariku.” Hilmi menghentikan perkataannya sebentar.
“Menyembunyikan? maksudmu mereka tahu tapi tidak memberitahumu?” Silmi kembali duduk untuk mendengarkan penjelasan Hilmi selanjutnya.
“Kecelakaan itu merenggut semua ingatanku. Ingatan tentang diriku, tentang orang tuaku, tentang teman-temanku, tentang keluargaku. Aku sadarkan diri sehari sebelum orang tuaku meninggal. Bahkan saat semua orang menangis karena kepergian mereka, aku bahkan tidak bisa merasakan kesedihan sedikitpun. Semua orang yang datang memelukku dan mengatakan agar aku tabah, mereka juga mengatakannya sambil menangis. Kakakku tidak berhenti menangis hari itu. Karena hal itu aku merasa jadi orang yang benar-benar jahat. Meski mereka bilang, aku belum mengerti apa yang terjadi pada orang tuaku, karena itu aku tidak menangis, sebenarnya itu karena aku sama sekali tidak ingat apapun tentang mereka.” Hilmi menundukkan wajahnya berharap tidak ada yang melihatnya dengan raut wajah seperti itu.
“Tapi kakakmu bilang malam itu ia melihatmu benar-benar menangis.”
“Itu karena aku berpikir itulah yang seharusnya dilakukan seorang anggota keluarga. Aku pikir akan baik-baik saja, saat ingatanku kembali nanti aku akan dengan puas menangis untuk mereka. Menangis karena aku mengingat kenangan bersama mereka. Tapi bahkan setelah satu bulan sehat dan berada dirumah, aku tidak diijinkan keluar rumah oleh kakek yang saat itu merawat kami. Lalu saat kembali kesekolah, semua orang tau kalau aku kehilangan ingatanku sebelum kecelakaan dan mereka bersikap baik, memperkenalkan diri mereka kembali, begitu juga para guru. Bukan hanya itu, seluruh sanak saudara juga begitu. Mereka menceritakan segala hal yang tidak aku ingat.” Hilmi berhenti sejenak dan memandang Salman. “Kau mengerti sekarang, kenapa aku pikir mereka menyembunyikan sesuatu?”
“Maksudmu tidak menunjukkan sikap ingatlah aku tapi yang mereka tunjukkan adalah inilah kau yang sekarang tidak perlu mengingat masalalu karena aku yang akan memberitahukannya.” Wajah Salman sedikit kaget dengan apa yang dikatakannya sendiri. tapi ia melihat Hilmi yang menganggukkan kepala sehingga ia menjadi yakin akan pernyataannya. “Dengan kata lain mereka ingin membiarkan dirimu yang sebelum kecelakaan menghilang dan menjadi dirimu yang baru?” Silmi berhenti dan menundukkan wajahnya “Tapi itu benar-benar kejam. Maksudku, bagaimana bisa mereka semua bersekongkol untuk benar-benar menghilangkan ‘Hilmi sebelum kecelakaan’. Apa ada yang mengatur segalanya?” Sekarang wajah Salman dipenuhi keheranan antara percaya dan tidak percaya.
“Aku selalu ingin bertanya kepada kakak, apa ada sesuatu yang ia sembunyikan. Tapi itu akan melukai hatinya kan? Lagipula aku takut seandainya semua yang aku pikirkan tentang mereka adalah kebenarannya. Tapi semenjak gadis itu muncul di mimpiku, aku mulai mengingat beberapa hal meski itu hanya sekilas dan samar-samar. Aku mulai mengingat bagaimana orang tuaku tersenyum kepadaku. Karena itu aku ingin menemukannya. Gadis itu mungkin adalah kunci ingatanku yang disembunyikan oleh mereka semua.” Pandangan Hilmi berpindah ke langit. Ia melihat langit yang mulai berubah menjadi kemerahan karena matahari sebentar lagi akan terbenam. “Aku akan menemukannya lagi. Sebelum itu, aku akan mempersiapkan pertanyaan.” Senyum kecil terlihat di wajah Hilmi. Sebuah senyum optimis ia bisa mendapatkan kembali ingatannya. Karena ingatan itu adalah dia yang sebenarnya.
“Ngomong-ngomong kenapa kau tau kalau gadis mengambil barang di toko yang salah?” Salman bertanya penasaran. “Hmm… itu karena bibi Ros bilang sedang mencari seorang gadis yang tidak mengambil barangnya karena pergi ke toilet. Begitu melihat seorang gadis dimarahi di toko yang mirip dengan toko bibi Ros aku menyadarinya.” Jelas Hilmi. “Haah… cuma itu? Wah… sepertinya kau berbakat.” Ia bergumam sambil menegakkan badannya dan berdiri.”Barbakat? Berbakat apa?” Tanya Hilmi penasaran. “Berbakat mengejutkan orang lain” Salman tersenyum lebar sambil memamerkan gigi putihnya kemudian mereka berdua tertawa bersama.
--------------------------------------------------------------------------------------- BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar