CHAPTER 2
I THINK I HAVE FOUND YOU
Malam itu Hilmi tidak bisa tidur
memikirkan apa yang ia lihat siang tadi. Gadis
itu pasti dia. Itulah yang ia pikirkan semalaman. “Jika saja gadis kecil
yang ada di dalam mimpiku sudah dewasa, pasti sangat mirip seperti gadis yang
aku lihat siang tadi.”
“Oy...
Hilmi, Kau baik-baik saja?” panggilan dari Salman kembali membangunkannya dari
lamunannya. “ Bukankah sebaiknya istirahat dulu dirumah? Kemarin kau
benar-benar membuat khawatir. Jangan pasang wajah seperti itu lagi oke?”
“Kenapa
harus istirahat? aku tidak sakit.” Kata Hilmi dengan tampang datar. “Ayo pergi
ke pasar lagi hari ini.”
“Eh...
kenapa? Sebaiknya hari ini langsung pulang saja.” saran Salman
“Kau
mau menemaniku atau tidak? Aku mau mastikan sesuatu.” Hilmi memandang Salman
dengan lekat. “Dan saat aku sudah memastikannya, katakan bagaimana pendapatmu.”
Wajahnya begitu serius. Ini pertama kalinya ia menunjukkan wajah seperti itu.
Sebuah wajah keingintahuan yang luar biasa.
Mereka
pergi menelusuri pasar itu. Meski ramai tapi pedagang tertata dengan rapi. lagi
pula tempat itu dari pada dibilang pasar lebih cocok disebut pusat pertokoan.
Meski ada berbagai macam pedagang yang menjual berbagai barang, Stand pedagang
tertata dengan rapi dan disekelilingnya terdapat pertokoan.
“Kita
sudah satu jam berkeliling, apa yang kau cari sebenarnya?” Salman sudah tampak
kehabisan tenaga mengingat hari ini matahari bersinar dengan terik. “Kita
benar-benar menghabiskan energi disini huft... Apa sih yang sebenarnya kau
cari? “ Badannya sudah membungkuk kehabisan energi. Wajah Hilmi masih tetap
bersemangat dan sama sekali tidak berubah meskipun ia sendiri juga sudah
kelelahan.
***
“Kau
masih belum membayarnya, kembalikan barang itu jika kau tidak mau membayar.”
Seorang paman setengah baya berteriak kepada seorang gadis.
“Baru
saja aku membayarnya, dengan bibi yang ada disini.” gadis itu menunjuk ke sudut
toko. “Eh... kemana bibi itu pergi? Aku benar-benar menyerahkan uangnya
kepadanya tadi.” wanita itu bersikeras bahwa ia memang sudah membayarnya.
“Aku
disini bejualan sendirian tidak ada pelayan toko yang lain. Kembalikan
barangnya jika kau tidak ingin membayar!” pemilik toko menunjukkan wajah
marahnya dan membuat gadis itu akhirnya menyerah.
“Eh...
nona, kau disini rupanya, ini barang yang ingin kau beli ditokoku, tadi kau
menitipkan belanjaanmu karena ingin ke toilet kan? Kenapa kau ada disini?
Untung saja pemuda ini menunjukkan tempatmu. Toko kami berdua memang sangat
mirip dari segi tata letak dan barang yang dijual. Bukan hanya kau yang
tertukar, kadang orang lain pun juga tertukar.” Bibi itu menjelaskan sambil
tersenyum.
“Jadi
ini bukan toko bibi? Kalau begitu aku yang salah.” Wajah kecewa pada diri
sendiri tidak dapat disembunyikan oleh gadis itu. “Maaf paman. Aku yang salah”
kata itu terlontar sambil menahan malu.
“Jadi
ini pelanggan tokomu? Ya ampun, lagi-lagi terjadi begini. Aku rasa harus
merubah tampilan tokoku sedikit. Sebenarnya kejadian seperti ini cukup sering
terjadi, apa lagi pada pelanggan baru. Jadi ya tidak apa-apa, hari ini aku
maafkan. Lain kali jangan salah lagi nona muda.” paman itu menurunkan nada
bicaranya.
“Terima
kasih banyak” gadis itu membalas. “Maaf merepotkan bibi.”
“Ah,
tadi ada anak muda yang memberitahu kau ada dimana, sepertinya ia tahu kau
habis berbelanja ditempatku, ia juga bilang kau sedang dimarahi disini
gara-gara tidak membayar belanjaan. Aku jadi sadar apa yang terjadi, kenapa kau
lama sekali di toilet” Bibi itu menjelaskan sambil tersenyum.
“Pemuda?
dimana dia sekarang?” gadis itu ingin tahu.
Bibi
itu menoleh kebelakang, tapi tidak ada siapapun yang berdiri dibelakangnya.
“Tadi dia dibelakangku, kemana dia sekarang?”
--------------------------------------------------------------------------------------------- BERSAMBUNG
Tidak ada komentar:
Posting Komentar