Jumat, 01 Mei 2015

[Chapter 2] THE LOST MEMORY

CHAPTER 2

I THINK I HAVE FOUND YOU

              Malam itu Hilmi tidak bisa tidur memikirkan apa yang ia lihat siang tadi. Gadis itu pasti dia. Itulah yang ia pikirkan semalaman. “Jika saja gadis kecil yang ada di dalam mimpiku sudah dewasa, pasti sangat mirip seperti gadis yang aku lihat siang tadi.”
            “Oy... Hilmi, Kau baik-baik saja?” panggilan dari Salman kembali membangunkannya dari lamunannya. “ Bukankah sebaiknya istirahat dulu dirumah? Kemarin kau benar-benar membuat khawatir. Jangan pasang wajah seperti itu lagi oke?”
            “Kenapa harus istirahat? aku tidak sakit.” Kata Hilmi dengan tampang datar. “Ayo pergi ke pasar lagi hari ini.”
            “Eh... kenapa? Sebaiknya hari ini langsung pulang saja.” saran Salman
            “Kau mau menemaniku atau tidak? Aku mau mastikan sesuatu.” Hilmi memandang Salman dengan lekat. “Dan saat aku sudah memastikannya, katakan bagaimana pendapatmu.” Wajahnya begitu serius. Ini pertama kalinya ia menunjukkan wajah seperti itu. Sebuah wajah keingintahuan yang luar biasa.
            Mereka pergi menelusuri pasar itu. Meski ramai tapi pedagang tertata dengan rapi. lagi pula tempat itu dari pada dibilang pasar lebih cocok disebut pusat pertokoan. Meski ada berbagai macam pedagang yang menjual berbagai barang, Stand pedagang tertata dengan rapi dan disekelilingnya terdapat pertokoan.
            “Kita sudah satu jam berkeliling, apa yang kau cari sebenarnya?” Salman sudah tampak kehabisan tenaga mengingat hari ini matahari bersinar dengan terik. “Kita benar-benar menghabiskan energi disini huft... Apa sih yang sebenarnya kau cari? “ Badannya sudah membungkuk kehabisan energi. Wajah Hilmi masih tetap bersemangat dan sama sekali tidak berubah meskipun ia sendiri juga sudah kelelahan.
***
            “Kau masih belum membayarnya, kembalikan barang itu jika kau tidak mau membayar.” Seorang paman setengah baya berteriak kepada seorang gadis.
            “Baru saja aku membayarnya, dengan bibi yang ada disini.” gadis itu menunjuk ke sudut toko. “Eh... kemana bibi itu pergi? Aku benar-benar menyerahkan uangnya kepadanya tadi.” wanita itu bersikeras bahwa ia memang sudah membayarnya.
            “Aku disini bejualan sendirian tidak ada pelayan toko yang lain. Kembalikan barangnya jika kau tidak ingin membayar!” pemilik toko menunjukkan wajah marahnya dan membuat gadis itu akhirnya menyerah.
            “Eh... nona, kau disini rupanya, ini barang yang ingin kau beli ditokoku, tadi kau menitipkan belanjaanmu karena ingin ke toilet kan? Kenapa kau ada disini? Untung saja pemuda ini menunjukkan tempatmu. Toko kami berdua memang sangat mirip dari segi tata letak dan barang yang dijual. Bukan hanya kau yang tertukar, kadang orang lain pun juga tertukar.” Bibi itu menjelaskan sambil tersenyum.
            “Jadi ini bukan toko bibi? Kalau begitu aku yang salah.” Wajah kecewa pada diri sendiri tidak dapat disembunyikan oleh gadis itu. “Maaf paman. Aku yang salah” kata itu terlontar sambil menahan malu.
            “Jadi ini pelanggan tokomu? Ya ampun, lagi-lagi terjadi begini. Aku rasa harus merubah tampilan tokoku sedikit. Sebenarnya kejadian seperti ini cukup sering terjadi, apa lagi pada pelanggan baru. Jadi ya tidak apa-apa, hari ini aku maafkan. Lain kali jangan salah lagi nona muda.” paman itu menurunkan nada bicaranya.
            “Terima kasih banyak” gadis itu membalas. “Maaf merepotkan bibi.”
            “Ah, tadi ada anak muda yang memberitahu kau ada dimana, sepertinya ia tahu kau habis berbelanja ditempatku, ia juga bilang kau sedang dimarahi disini gara-gara tidak membayar belanjaan. Aku jadi sadar apa yang terjadi, kenapa kau lama sekali di toilet” Bibi itu menjelaskan sambil tersenyum.
            “Pemuda? dimana dia sekarang?” gadis itu ingin tahu.
            Bibi itu menoleh kebelakang, tapi tidak ada siapapun yang berdiri dibelakangnya. “Tadi dia dibelakangku, kemana dia sekarang?”

--------------------------------------------------------------------------------------------- BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar