Jumat, 13 Oktober 2017

"Doubtful Victory" , Yoon Kyun Sang's Next Project

Doubtful Victory


So guys..
Kemarin saya dikejutkan oleh berita dari Soompi tentang dikonfirmasinya Yoon Kyun Sang sebagai leadmale di drama baru berjudul DOUBTFUL VICTORY. Sementara sebagai leadfemale-nya adalah Jung Hye Sung. Drama ini akan tayang pada akhir tahun 2017 ini tepatnya di 27 November 2017 menggantikan slot Temperature of Love pada Senin dan Selasa pukul 22.00 KST.

So here this Oppa will become a simple and innocent detective. Banyak sinopsis bertebaran di Internet dengan versi yang berbeda cukup membuah saya kaget. Dari apa yang bisa saya simpulkan adalah karakter Oh Il Seung yang diperangkan Yoon Kyun Sang adalah karakter yang simple dan innocent. Meski sudah dewasa tapi karakternya lebih seperti remaja berusia 18 tahun. Il Seung dituduh melakukan tindakan kriminal yang tidak dilakukannya hingga menjalankan hukuman penjara selama 10 tahun dan akan dilaksanakan hukuman mati. Namun entah bagaimana ia berhasil kabur dari penjara dan berusaha membersihkan namanya. Ia menjadi seorang polisi gadungan dan berusaha menemukan uang tersembunyi sebesar 100 milyar won untuk biaya identitas yang baru. Salah satu kelebihan karakter Il Seung memiliki kelebihan kemampuan investigasi yang hebat walaupun memiliki sifat yang polos dan ia berusaha untuk menjadi detektif yang sebenarnya sehingga membuat tertarik Jin Jin Young (Jung Hye Sung). Jin Jin Young adalah seorang detektif wanita yang sangat kompeten namun kurang baik dalam bekerjasama karena sifatnya yang kompetitif. Jin Jin Young adalah wanita yang berusaha menjadi detektif demi menguak kasus di balik kematian ayahnya.

And what I wrote above just my conclusion for all of the article that i read.
Bisa jadi cerita aslinya akan berbeda atau ada susunan alur yang tidak sesuai dengan sinopsis di atas. Tidak banya yang bisa saya dapatkan di Internet bahkan poster visualnya belum ada di mana mana. kita tunggu saja beberapa minggu lagi.

Dari membaca sinopsisnya saya cukup tertarik dengan alur yang disuguhkan sehingga This drama already on my Whistlist...

Saya harap info ini bermanfaat dan kalian juga memasukkannya kedalam list kdrama yang akan ditonton selanjutnya

-Salam Hangat

-Tyas 

Rabu, 12 April 2017

[ANIME] FIRST IMPRESSION - SAKURADA RESET





Perhatian!
Artikel ini ditulis oleh saya yang belum pernah membaca manga dari anime inidan mengenal cerita ini hanya melalui Anime.
THEME
Tema yang diusung mirip seperti anime CHARLOTE dengan orang-orang yang memiliki kekuatan supranatural. Perbedaannya disini, kalau dalam Charlote pemilik kekuatan tersebar di seluruh dunia, namun pada Sakurada Reset hanya orang-orang di desa Sakurada yang memilikinya dan ketika seorang pemilik kekuatan keluar dari Sakurada, mereka akan kehilangan kekuatannya.

Temanya saja sudah cukup membuat saya tertarik seperti saat akan menonton Charlote, walaupun settingnya lebih kecil.

PLOT
Seperti namanya "RESET" meskipun alurnya di satu episode ada yang berulang tapi akan tetap maju. Akan lebih baik kalau plotnya bisa membuat penontonnya berpikir.

CHARACTER
Saya cenderung menyukai karakter-karakter anime yang cenderung mengisolasi diri dari kehidupan sosial yang berlebihan. Like Oreki Style, disini karakter "Asai Kei" diceritakan sebagai orang yang tertutup, namun bukan orang yang sulit bergaul dan pilihannya sendiri untuk lebih tertutup kepada orang lain. Kemampuan Asai Kei adalah dapat menarik ingatan masalalu yang tersimpan di dalam otaknya kapanpun ia perlukan. Kemampuan ini juga bisa diaplikasikan pada orang lain.

Karakter Haruki Misora adalah yang memiliki kemampuan RESET asalkan ia melakukan SAVING pada kejadian yang ia lalui maksimal 3 hari kebelakang. Namun sayangnya ketika RESET dijalankan, Haruki tidak dapat mengingat kejadian sebelum RESET. Haruki adalah orang yang tertutup dan sulit bersosialisasi sampai-sampai, Asai Kei adalah orang yang paling banyak berbicara dengannya selama di kelas 2 padahal saat itu adalah pertemuan pertama mereka.

Dua karakter utama ini dipertemukan oleh Souma Sumire, Ia adalah ketua kelas Haruki dan teman SMP Haruki dan Kei.

Saya lebih penasaran untuk melihat perkembangan karakter mereka serta perkembangan hubungan ketiganya. Saya sedikit berharap ada perkembangan hubungan antara Kei dan Haruki dalam artian hubungan Romantis >_<

Bagian awal cerita memang terkesan lambat namun saya tidak sabar untuk melihat mereka menyelesaikan masalah dengan kekuatan supranatural mereka dalam klub Houshi. Mungkin butuh lebih dari satu episode untuk memunculkan ketertarikan, tapi episode pertama tak jarang menjari episode yang menentukan apakah saya akan melanjutkan menonton sampai selesai atau tidak melanjutkannya sama sekali. Dan Sakurada Reset adalah salah satu Anime musim ini yang akan saya tonton sampai habis. Sakurada Reset akan jadi anime ringan kesekian yang saya tonton setiap minggunya.

Bagaimana menurutmu?

Posted by
D_Tantri

Minggu, 09 April 2017

[CERPEN] SENANDUNG HUJAN

SENANDUNG HUJAN
Oleh : Tyas

            Hari itu langit cerah tertutupi awan abu-abu kelam. Tetesan air sedikit demi sedikit jatuh menetes lama kelamaan semakin deras.  Mendengar suara tetesan air hujan yang semakin lama semakin deras, seorang gadis kecil langsung beranjak dari tempat tidurnya dengan kakinya yang lemah. Dilihatnya keluar jendela, hujan begitu deras hingga seluruh pemandangan di luar jendela tertutup kabut putih. Ia mencondongkan badannya agar lebih dekat ke kaca jendela dan melirik ke kanan dan ke kiri. Mulutnya tersenyum lebar ketika ia melihat seorang anak laki-laki berdiri di depan gerbang rumahnya dan melambaikan tangannya. Anak laki-laki itu tersenyum hingga gigi putihnya terlihat jelas. “Syifa...!” Teriaknya. Syifa yang melihat dari balik jendela hanya bisa membaca mimik wajah laki-laki itu namun ia tahu bahwa namanya sedang diteriakkan. Syifa membalas dengan melambaikan tangan dan tersenyum lebar.
            Syifa mendengar seseorang membuka pintu kamarnya. “Syifa, sudah waktunya minum obat.” Seorang wanita paruh baya menengok ke kanan dan ke kiri untuk mencari gadis kecil yang disayanginya itu. Akhirnya ia menemukan Syifa sedang berdiri di depan jendela. “Syifa! Sudah ibu bilang jangan terlalu banyak bergerak dulu, nanti bekas operasinya terbuka.” Wanita itu menuntun anaknya kembali ke tempat tidur. Dengan wajah kecewa, Syifa mengikuti ibunya ke tempat tidur. Syifa kemudian meminum obat yang diberikan oleh ibunya.
            “Mama, dia datang lagi.” Syifa memberitahu ibunya dengan senyum mengembang di wajahnya. “Anak laki-laki itu?” tanya wanita itu kepada anaknya. Melihat Syifa mengangguk dengan antusias, wanita itu juga ikut tersenyum. “Syifa ingin bicara dengannya?” Tanya ibunya.“Iya, aku mau. Boleh?” Tanya Syifa dengan polosnya. “Kalau dia datang lagi, panggil mama. Mama akan suruh dia masuk agar Syifa bisa menemuinya. Oke?” Ucap wanita itu sambil tersenyum. Syifa mengangguk mendengar ucapan ibunya. “Sekarang Syifa istirahat dulu supaya besok wajah Syifa tidak pucat saat bertemu dia.” Wanita itu kemudian membaringkan anaknya di tempat tidur dan menyelimutinya kemudian ia keluar. Syifa yang masih penasaran dengan anak laki-laki itu akhirnya bangun dari tempat tidurnya dan kembali ke jendela namun anak laki-laki itu sudah pergi.
“Mama, kenapa tidak juga turun hujan? Syifa ingin melihatnya.” Syifa hanya bisa menangis di atas tempat tidurnya. Ia melampiaskan kekecewaannya karena hujan tak kunjung datang selama satu minggu itu. Keesokan harinya, awan mendung terlihat menyelimuti langit dan siang itu hujan turun seakan menjawab do’a Syifa. Syifa terperanjat mendengar tetesan hujan. Matanya berbinar dan senyumnya mengembang. Ia berlari mendekati jendela menunggu seseorang datang. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, tiga puluh menit Syifa menunggu tak ada seorangpun yang muncul. Hujan berikutnya Syifa melakukan hal yang sama. Menunggu dan terus menunggu hingga hujan reda namun anak laki-laki yang ditunggunya tak kunjung datang. Hari itu Syifa menangis sekeras-kerasnya. Kesempatannya memiliki teman pertama kali dalam hidupnya hilang begitu saja.
***
“Syifa...!” Seseorang berteriak memanggil namanya. Ia menoleh, di belakangnya seseorang berlari menuju kearahnya kemudian merangkul pundaknya. “Hari rabu nanti ayo pergi ke karaoke sama-sama” Alisa mengajak Syifa dengan penuh semangat. Syifa membalik badannya dan melekatkan kedua telapak tangannya di depan Alisa. “Maaf, hari rabu ada jadwal checkup jadi gak bisa ikut.” Ujar Syifa. “Ah... gak kenapa napa kalau gitu, mungkin lain kali.” Alisa menepuk kedua pundak Syifa dengan kedua tangannya. “Aku duluan ya, sebentar lagi kelas olahraga akan dimulai, jadi harus ganti pakaian dulu.” Alisa berlari melewati Syifa menuju ruang ganti.
Syifa duduk di bawah pohon di pinggir lapangan. Ia melihat anak-anak yang lain berolahraga dan bersenang-senang. “Selalu saja begini setiap hari.” Syifa menghela napas panjang. Dalam hatinya ia ingin sekali bergabung dengan mereka. “Kapan aku bisa berlarian seperti mereka?” Gumam Syifa.
“Waah... Di sini sejuk sekali. Sepertinya enak duduk di sini.” Seorang laki-laki tiba-tiba duduk di sebelah Syifa. Setelah melihat wajahnya, ternyata dia adalah siswa pindahan di kelasnya yang baru saja masuk hari ini. Namanya Fauzan, ia siswa pindahan dari Bandung. “Ah... Tadi pagi kakiku terkilir, jadi aku minta izin untuk gak ikut olahraga.” Fauzan tersenyum sambil menggaruk belakang kepalanya. “Gak nanya.” Balas Syifa dingin. Mendengar balasan Syifa, Fauzan hanya tertawa.
“Syifa gak kesepian?” Tanya Fauzan. Melihat Syifa kaget dengan pertanyaan seperti itu Fauzan memalingkan pandangannya dan langsung menambahkan kalimatnya. “Ah, Aku dengar Syifa gak pernah ikut pelajaran olahraga dan selalu duduk di sini sendirian, di kelas juga jarang ngobrol dengan teman yang lain. Makanya aku na –.Perkataan Fauzan terpotong saat melihat air mata jatuh mengalir di pipi gadis di depannya itu.
“KAMU TAU APA?” Teriak Syifa, “Ga usah sok akrab padahal baru kenal tadi, dan ga usah ikut campur sama urusan orang lain!” Syifa berlari meninggalkan Fauzan. Syifa tau ia tidak seharusnya berlari. Jantungnya berdegup kencang, rasa sakitnya membuat Syifa berhenti berlari sambil memegangi dada kirinya. Napasnya terengah-engah, ia pikir mungkin jantungnya akan berhenti. Ia menyandarkan tubuhnya ke tembok di sebelah kirinya. Tubuhnya akan segera ambruk.
“Kau baik-baik saja? Seseorang memegang lengannya sebelum ia terjatuh. Syifa mengenal suara itu dan langsung berusaha melepaskan lengannya dari genggaman Fauzan. “Le… lepas!” Namun energinya tidak cukup untuk menarik lengannya.
Saat itu seorang guru perempuan lewat dan melihat wajah Syifa yang pucat pasi sambil memegangi dadanya. Dia adalah Bu Susan, guru yang bertanggung jawab untuk UKS. Fauzan melihat Bu Susan dengan wajah khawatirnya berlari menuju mereka. Saat itu juga ia melepaskan lengan Syifa yang digenggamnya.
“Di mana obatmu?” Tanya Bu Susan panik.  “Te… tertinnggal di tas.” Fauzan yang mendengar ucapan Syifa yang samar-samar langsung berlari ke kelas. Tak lama kemudian ia kembali dengan obat dan air mineral di tangannya. Tak lama setelah mengkonsumsi obatnya, rasa sakit di dada Syifa semakin berkurang. Ia melepaskan genggamannya dari dadanya dan menghela napas panjang. Bu Susan dan Fauzan pun ikut menghela napas panjang.
“Sebaiknya istirahat saja di ruang UKS” Saran Bu Susan. Syifa mengangguk. Akhirnya Bu Susan memapahnya menuju ruang UKS dan meninggalkannya setelah membaringkannya di tempat tidur.
            Setelah mengantar Syifa ke ruang UKS, Fauzan berbicara dengan Bu Susan di ruang guru yang saat itu sedang kosong karena semuanya mengajar. “Bu Susan, aku ingin tau lebih banyak mengenai Syifa.” Mendengar pernyataan Fauzan, Bu Susan memandangnya lekat namun ia tidak menemukan keraguan dalam wajah Fauzan saat menanyakan pertanyaan itu.
Bu Susan menghela napas panjang dan mulai membuka mulutnya. ”Hal itu sering kali terjadi saat Syifa tidak sanggup mengontrol emosinya. Saat ia berumur delapan tahun ia harus mengalami operasi pada jantungnya. Dokter sudah mengatakan kalau ia tidak bisa sepenuhnya pulih. Suatu saat kondisinya pasti akan memburuk, dan saat itu tiba, jalan operasi tidak akan bisa digunakan lagi. Karena itu kakakku sangat protektif. Ia tidak bisa banyak bergaul dengan teman-temannya saat kecil karena kegiatan yang dilakukannya terbatas. Ia hanya bias menonton teman-temannya bermain di taman di seberang rumahnya dari kejauhan dan itu yang dilakukannya setiap hari saat cuacanya cerah, saat ia bosan dengan bonekanya, saat ia merasa kesepian. Namun ia selalu berusaha tersenyum saat berbicara dengan ibu dan ayahnya, bahkan denganku sekalipun. Dulu aku pernah bertanya kepadanya, “Apa Syifa tidak kesepian?” lalu ia tersenyum dan berkata, “Syifa sudah cukup bersyukur karena ada ayah, ibu dan tante Susan. Syifa punya keluarga yang sangat menyayangi Syifa.” Saat mendengar ucapannya, hatiku tidak sanggup menahan sakit, memikirkan anak sekecil itu sudah bisa menerima keadaan dirinya apa adanya saat anak seusianya harusnya asyik bermain dengan teman-temannya.” Bu Susan menghentikan perkataannya. Ia berusaha menata hatinya agar tidak hanyut dalam kesedihan dan meneteskan air mata. Lalu ia menghela napas panjang dan tersenyum.
“Suatu hari ia pernah bercerita kalau ia mendapat teman baru yang selalu datang saat hujan turun. Dan wajahnya saat bercerita tidak pernah lepas dari ingatanku. Itu wajah yang paling berseri-seri dan gembira sepanjang aku mengenal Syifa hingga saat ini. Suatu saat anak itu tidak pernah datang lagi berapa kalipun hujan yang ditunggu Syifa. Mungkin saat itu ia baru menyadari bahwa dirinya kesepian. Aku tidak pernah melihat senyum bahagianya lagi sejak itu. ” Ia menghentikan ucapannya. Ia memandang wajah Fauzan lekat.  Ia tersenyum. “Ah, aku harus ke kelas, sudah ganti pelajaran. Pembicaraan informal ini, jangan katakan pada siapapun ya? Aku bisa dimarahi guru-guru senior.” Ia beranjak dari kursinya dan berjalan beberapa langkah lalu berhenti. “Ah, aku sempat mencari tahu soal anak itu, sebenarnya saat aku menemukannya aku ingin menyeretnya ke depan Syifa, beraninya dia membuat senyuman semanis itu di wajah Syifa lalu menghilangkannya dalam sekejap. Keponakan manisku yang malang.” Bu Susan kembali berjalan menuju pintu keluar.
“Dia benar-benar marah” Pikir Fauzan sambil menundukkan kepalanya. Namun kata-kata terakhir Bu Susan tidak bisa lepas dari pikirannya, “Aku benar-benar jahat” pikirnya.
Sebelum kembali ke kelas ia menuju ruang UKS untuk melihat keadaan Syifa namun tidakada seorangpun di sana. Fauzan memutuskan untuk kembali ke kelas dan menemukan Syifa di sana. Hari itu ia tidak bisa berbicara dengannya karena Syifa selalu menghindarinya.
***
             Sudah tiga hari semenjak hari itu, Fauzan tak melihat Syifa masuk sekolah. Hari itu ia memutuskan untuk menemui Bu Susan untuk menanyakan keadaan Syifa. Namun sudah tiga hari juga Bu Susan tidak datang mengajar.
            Hari itu akhirnya Fauzan memutuskan datang ke rumah Syifa namun tak ada seorangpun disana. Saat itu seorang bibi tetangga lewat di depan rumah. Melihat Fauzan di depan rumah Syifa dengan mengenakan seragam sekolah, ia berhenti dan berkata “Hai anak muda, mungkinkah kau teman sekolahnya Syifa? Sepertinya tiga hari yang lalu kondisinya memburuk dan keluarganya tergesa-gesa membawanya kerumah sakit. Kebetulan suamiku yang mengantar mereka. Anakyang malang, dia masih sangat muda.” Bibi itu melanjutkan langkahnya namun tertahan karena Fauzan memegang lengannya.
            “Rumah… sakit mana?” Tanya Fauzan
            Melihat wajah pucat dan panik Fauzan bibi itu langsung menjawab pertanyaan Fauzan. Seketika itu juga ia berlari tak peduli lagi dengan keadaan sekitarnya. Kenapa… kenapa harus sekarang? Padahal akhirnya aku kembali, walaupun untuk waktu yang singkat, setidaknya aku ingin melihat wajah itu lagi. Pikirnya. Senyum lebar Syifa sewaktu kecil masih sangat jelas dalam pikirannya. Ia berlari sekuat tenaga. Tanpa sadar ada air yang mengalir membasahi pipinya. Namun awan mendung hari itu seakan ingin menyembunyikan rasa sedihnya. Air matanya dan air hujan bercampur menjadi satu tak ada yang bisa membedakan.
***
            “Syifa, sudah waktunya minum obat” Seorang wanita berbalut seragam perawat datang dengan obat-obatan dan segelas air di atas nampan yang ia bawa. Ia melihat Syifa sedang memandangi air hujan yang turun di balik jendela. “Apa kau menyukai hujan?” Perawat itu melihat Syifa tersentak.”Ah, kau benar-benar serius memandangi hujan sampai-sampai tidak menyadari aku sudah ada di sebelahmu.” Perawat itu tersenyum pada Syifa.
            “Aku… benci hujan.” Syifa menundukkan wajahnya lalu kembali memandang ke luar jendela. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan mendekati jendela hingga kedua telapak tangannya dapat menyentuhnya. “Aku sangat membenci hujan.” Ia menyentuhkan keningnya pada permukaan kaca jendela yang dingin, air matanya menetes.
            Matanya terbelalak saat melihat laki-laki berseragam sekolah melambaikan tangannya dengan senyum mengembang di wajahnya. Senyum yang sama seperti Sembilan tahun yang lalu dengan tubuh basah kuyup diguyur air hujan. Dari lantai tiga rumah sakit ia bisa melihat dengan jelas wajah laki-laki itu dan akhirnya ia tahu siapa. Rasa senang, sedih dan kesal bercampur aduk di dalam hatinya. Ia tidak tau harus berbuat apa lagi selain menangis.
            “Sampai kapan akan terus menangis?” Fauzan meletakkan telapak tangannya yang basah di atas kepala Syifa. Sekarang lelaki yang melambaikan tangannya di tengah hujan beberapa menit yang lalu ada di hadapannya dengan baju yang kering.
Syifa mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Tiba-tiba saja tamparan mendarat di pipi kiri Fauzan.Ia tak bisa berkata apa-apa selain memandang Syifa.
“Kau! Sudah delapan tahun, kenapa baru datang sekarang? Karena kau orang pertama yang ku anggap teman, aku tidak bisa melupakanmu. Meski begitu, kau pikir bisa datang dan pergi sesuka hatimu? Aku benar-benar membencimu!” Ia meluapkan semua kekesalannya dan menatap tajam ke mata Fauzan. Tatapan itu tak lama bertahan. Syifa menurunkan pandangannya, ia tersenyumdan berkata “Tapi, entah kenapa aku merasa sangat bahagia bertemu denganmu lagi” akhirnya Syifapun tumbang. Sebelum kesadarannya habis ia merasakan lengan yang hangat menopang tubuhnya agar tidak jatuh.
Malam itu Syifa kembali membuka matanya. Ia tidak melihat seorangpun di kamarnya. Ia melihat ke luar jendela. Langit malam itu sangat bersih, tak ada awan sedikitpun. Hari itu, kota bermandikan cahaya bulan dan bintang-bintang bersinar dengan sinarnya yang gemerlap. Langit yang indah pikirnya.
“Sudah sadar?” wajah laki-laki yang tak asing itu berjalan ke arahnya. Syifa tersenyum kepadanya dan kembali menatap langit. Fauzan duduk disebelahnya. “ Mana yang lebih kau suka? Langit cerah atau hujan?” Syifa terdiam mendengar ucapan Fauzan. Matanya tetap tertuju pada langit malam.
“Hmmm… mungkin langit yang cerah. Karena aku belum pernah merasakan terkena hujan” Syifa kemudian menatap Fauzan “Hei teman, aku punya satu permintaan. Mau dengar?” Syifa tersenyum.
“Katakan saja.” Fauzan tersenyum. Syifa menyampaikan permohonannya kepada Fauzan. Fauzan sedikit kaget dengan permohonan Syifa. Beberapa lama ia terdiam dan berpikir. “Oke, tapi aku juga punya permintaan. Berjanjilah akan memenuhinya kalau aku sudah memenuhi permintaanmu!” Ketika Syifa menayakan permintaan Fauzan ia hanya berkata “Setelah permintaanmu ku penuhi akan aku beritahukan.” Fauzan pun tersenyum.
“Hei Fauzan, apa kau akan datang kesini setiap hari meskipun hujan tidak turun?” Tanya Syifa. Melihat Fauzan mengangguk sambil tersenyum hatinya terasa lega. “Yah, setidaknya aku tidak kesepian sampai akhir.” Lanjut  Syifa.
***
            Biasanya setiap hari Fauzan mengunjungi Syifa meski tidak dalam waktu yang lama. Namun beberapa hari ini Fauzan sama sekali tidak datang. Susan pun menyadari akhir-akhir ini Fauzan tidak seperti biasanya. Wajahnya terlihat begitu lelah dan penuh keragu-raguan. Terkadang ia berhenti sejenak sebelum masuk ke ruang rawat Syifa. Tidak ada yang tau apa yang sedang dipikirkan Fauzan.
            “Tante Susan, apa aku terlalu membebaninya? Aku menyuruhnya datang setiap hari agar aku tidak kesepian. Tapi sepertinya akhir-akhir ini ia Nampak lelah dan tidak banyak bicara. Dan juga sepertinya banyak yang ia pikirkan. Meski begitu ia tetap tersenyum padaku dan berkata kalau dirinya baik-baik saja. Aku takut, mungkin saja dia sudah lelah menemuiku setiap hari dan akhirnya ia memutuskan untuk berhenti.” Tangan Syifa menggenggam erat selimut yang menutupi kakinya.
            Melihat keponakannya memasang wajah seduhnya ia menggenggam erat kedua tangan Syifa dan berkata “Percayalah padanya, karena kepercayaanmu akan membuatnya tetap di sisimu” Susan tersenyum memberi semangat kepada Syifa. Hatinya lega setelah melihat Syifa mengangguk sambil tersenyum.
            Malam itu kondisi Syifa memburuk, dia mengalami gagal jantung. Untung saja dokter masih sanggup menolongnya. “Waktunya sudah tidak banyak, kita harussegera menemukan donor” tentu saja perkataan dokter tersebut merupakan pukulan besar bagi keluarga Syifa.
            Syifa tersadar di pagi hari. Ia melihat ibunya sedang menangis di samping tempat tidunya. Syifa segera mengusap air mata ibunya dan tersenyum “Semua akan baik-baik saja”. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Syifa, membuat ibunya berhenti menangis dan tersenyum padanya. “Mama, aku ingin bertemu Fauzan. Dia sudah berjanji mau memenuhi permintaanku” lanjut Syifa.
            Sore itu awan mendung menyelimuti langit dan hujan turun tak lama kemudian. Syifa hanya bisa memandang hujan di luar jendela dari tempat tidurnya hingga ia mendengar suara seseorang membuka pintu. Ya, pada akhirnya orang yang ditunggu akhirnya datang juga. Fauzan masuk dengan mendorong sebuah kursi roda. Dia menyodorkan tangan kanannya kepada Syifa. “Baiklah tuan putri, hari ini permintaanmu akan menjadi kenyataan” Fauzan membantu Syifa naik ke atas kursi roda. Mereka naik lift dan tiba di lantai teratas. Fauzan berhenti, ia berjongkok di depan Syifa seraya memunggunginya. “Naiklah!” ujar Fauzan. Tanpa berkata apapun Syifa menuruti kemauan Fauzan. Suara derasnya hujan semakin terasa dekat di telinga mereka. Fauzan menggendong Syifa menaiki tangga hingga lantai teratas. Ia membuka pintu angin menerpa wajah mereka. “Kau sudah siap?” Tanya Fauzan sambil menurunkan Syifa dari punggungnya.
            Fauzan masuk ke dalam hujan. Sekarang tubuhnya basah kuyup. Syifa menadahkan kedua tangannya membiarkan air hujan memenuhinya. Ia bisa merasakan dinginnya tetesan air hujan, hal yang belum pernah ia rasakan sejak kecil. Syifa terkejut ketika Fauzan menarik tangannya agar seluruh tubuhnya masuk ke dalam hujan. Awalnya ia memejamkan mata, merasakan air hujan menetes di seluruh tubuhnya. Begitu ia membuka matanya, Fauzan tersenyum. Saat itu Syifa merasakan kebahagiaan yang sangat besar. Ia tertawa lepas sambil berputar putar di tengah hujan dengan tangannya yang direntangkan.
            Lima belas menit kemudian, hujanpun berhenti dan berubah jadi gerimis. “Lihat!” Fauzan menunjuk ke arah lengkungan setengah lingkaran berwarna-warni. “Waah… pelangi” mata Syifa berbinar. “Itu bonus” kata Fauzan sambil tertawa. “Dan satu lagi” lanjut Fauzan. Ia menarik tangan Syifa ke sisi berlawanan. Pemandangan matahari terbenam menanti mereka. Sinarnya yang kemerahan benar-benar sebuah pemandangan yang indah. “Terima kasih untuk segalanya” Syifa tersenyum pada Fauzan dengan senyuman yang manis.  “Syukurlah, sampai akhir aku masih bisa melihatmu tertawa dan tersenyum seperti ini.” Fauzan tersenyum kepada Syifa. “Aku… ingin hidup” air mata Syifa jatuh saat mengatakannya. “Kalau begitu berjuanglah untuk hidup, demi dirimu sendiri bukan demi orang lain” Fauzan menyemangati dengan senyum. Lagi-lagi senyum itu membuat semangat juang Syifa bangkit. Senyum yang tak pernah berubah selama Sembilan tahun, senyum yang selalu ia tunggu.
            “Ayo kembali ke kamar” ajak Syifa. Fauzan baru menyadari Syifa memegangi dada kirinya sejak tadi. “Tenang, aku baik-baik saja cuma sakit sedikit.” Ujar Syifa sambil tersenyum.
            Saat ia berbalik seseorang muncul di pintu atap. Itu ibu Syifa dan tantenya disusul oleh dokter yang merawat Syifa. “Kau bisa berjalankan? Pergilah, mereka mengkhawatirkanmu.” Setelah mengatakannya Fauzan mendorong Syifa agar ia berjalan. Ibu dan tantenya berlari menghampiri Syifa. Pada akhirnya Syifa meminta maaf karena telah membuat mereka khawatir.
            Bruk… terdengar suara di belakangnya. Suara itu membuatnya ketakutan apalagi saat dokter yang ada di belakang ibunya berlari ke arah datangnya suara. Ia berbalik dan melihat Fauzan sudah tak sadarkan diri. Ia ingin menghampirinya namun dadanya terasa sakit. Lebih sakit dari sebelumnya namun ia berusaha untuk tetap melangkah hingga pandangannya menjadi gelap.
***
            Satu minggu setelahnya Syifa sadarkan diri dan mereka bilang mereka mendapatkan donor yang sesuai. Syifa merasakan detakan jantung barunya. Detakannya terasa hangat membuatnya ingin menangis. “Mama dan tante akan bicara pada dokter sebentar, kau akan baik-baik saja sendirian?” Tanya ibu Syifa. Melihat syifa mengangguk ibunya tersenyum lalu keluar dariruang rawat.
            Sepucuk surat tergeletak di meja samping tempat tidur Syifa bertuliskan untuk Syifa di bagian luarnya. Ia duduk dan mengambil surat itu lalu membacanya.
Untuk Syifa,
Sejak dulu aku menyukai hujan karena hujan selalu menyembunyikan air mataku.  Saat hujan aku bisa puas menangis tanpa rasa takut. Sampai akhirnya hujan mempertemukan kita. Seorang gadis kecil dengan tatapan sedihnya melihat tetes demi tetes air hujan yang jatuh dari langit.
Aku ingin mengenalnya, aku ingin tau tentangnya. Lalu aku mencari tau tentang dirinya, tentang rasa sakitnya, tentang rasa kesepiannya. Akhirnya aku berani menyapanya, melambaikan tangan kepadanya, setiap kali hujan turun.  Ia mulai tersenyum, senyumnya sangat manis dan ia membalas lambaian tanganku Lalu aku memutuskan, aku ingin bicara dengannya
Namun takdir tidak memutuskan demikian. Sembilan tahun akhirnya harapanku jadi kenyataan namun hal pertama yang aku katakana telah menyakiti hatinya, Maaf. Maaf telah membuatmu merasa terkhianati, maaf telah membuatmu kesepian dan kehilangan senyuman. Tapi aku akan berusaha memperbaiki semuanya. Setidaknya itu hal terakhir yang bisa aku lakukan.
Ah… mengapa aku begitu peduli dengan gadis ini? Aku mulai berpikir demikian. Mungkin karena kita berbagi nasib yang sama. Namun akhirnya aku menyadari bahwa aku menyayanginya. Bahwa senyumnya adalah hal yang berharga.
Aku hanyalah tetesan air hujan yang akan segera menguap tak bersisa ketika mentari kembali bersinar. Terima kasih karena sudah membiarkanku menyirami tanah yang tandus agar bunga-bunga yang indah dapat tumbuh dan bermekaran di atasnya.
Karena sudah mengabulkan permohonanmu, aku akan memintanya sekarang. Maaf tidak bisa mengatakannya secara langsung. Tapi kau punya kewajiban memenuhinya. Permintaanku sangat sederhana. Syifa, hiduplah dengan penuh keceriaan. Bukan demi orang lain, tapi demi dirimu sendiri. Jangan pernah kehilangan senyumanmu lagi. Aku yakin kau tidak akan pernah merasa kesepian lagi.
Fauzan.
            Syifa memeluk erat surat di tangannya, air matanya tak terbendung lagi.

TAMAT

======================================================================
Word from author:
Cerpen ini pernah dikirim lomba, tapi ga ada kabar setelahnya, jadi aku pos aja di blog ini, kritik dan saran boleh ditulis di kolom komentar - Terimakasih sudah menyempatkan membaca ^_^

Senin, 30 Januari 2017

[ANIME-NEWS] DETECTIVE CONAN MOVIE 21 - CRIMSON LOVE LETTER



Hallo minna-san....
Saya mau share mengenai Movie ke-21 serial detektif yang sudah saya kenal sejak kelas 3 SD ini yaitu Detective Conan yang dalam literal jepang nya Meitantei Conan atau dalam versi internasionalnya Case Closed, yuk disimak.

Movie ke-21 ini berjudul Crimson Love Letter atau dalam bahasa Jepang Karakurenai no Rabureta .
Sesuai dengan judulnya, genre dari movie ini selain misteri juga akan dihiasi banyak romance. Tidak seperti movie sebelumnya yang benar-benar serius dimana Conan menceritakan konfrontasi Conan dkk. dengan Organisasi berbaju hitam, kali ini kisah cinta akan jadi cerita utamanya.

Crimson Love Letter ini mengambil kisah cinta di Osaka, siapa lagi kalau bukan Heiji Hattori dan Kazuha. Namun kali ini peran penting dalam kisah ini diambil oleh teman satu sekolah Heiji yang ngaku-ngaku kalau Heiji adalah suami masa depannya berarti ia adalah rival cintanya Kazuha. Namanya Momiji Ooka, ia adalah seorang juara karuta - sebuah permainan kartu tradisional di Jepang. Waah... ternyata akhirnya ada cinta segitiga selain Haibara-Conan/Shinichi-Ran yaitu Ooka-Hattori-Kazuha.

Dilansir dari Jurnalotaku.com, yang akan menyutradarai film ini adalah Kobun Shizuno dimana ia juga menyutradarai 6 film terakhir Detective Conan. Katsuo Ono sebagai komposer musiknya dan naskah cerita akan kembali dipegang oleh Takeharu Sakurai.

Yuk semuanya liat trailernya :

Kamu bisa liat Kazuha yang membara sambil memegang karuta entah api di belakangnya mewakili perasaannya atau memang situasi yang sebenarnya memang ada di tengah kebakaran - kamu sendiri memutuskan mau menafsirkannya seperti apa. Sepertinya di movie kali ini hubungan Heiji dan Kazuha akan semakin dalam. Dan adegan action Conan kali ini berada di tengah kobaran api sama seperti Movie 19 - Sunflower of Infeno setelah sebelumnya bertarung dan bertaruh di dalam lautan, di ketinggian, di tengah tumpukan salju (Movie 15) dan di tengah hujan peluru (Movie 18). Di akhir teaser ada Kazuha yang hampir tertimpa kayu yang terbakar di dalam gedung dan Hattori berusaha melindunginya. He give everything he can do for protect his beloved, So Sweet XD

Detective Conan - Crimson Love Letter ini akan tayang perdana di bioskop Jepang tanggal 15 April 2017.


Selasa, 24 Januari 2017

[ANIME-NEWS] Natsume Yuujin-chou Roku Sudah Dipastikan Tayang Musim Semi 2017


Halooo minna-san....
Siapa yang udah kangen sama nyanko sensei yang super bulet dan ngegemesin?
kabar gembira buat kita-kita penggemar Natsume Yuujinchou, season ke enam sudah dikonfirmasi akan tayang pada musim semi tahun 2017 berarti akhir Maret atau di awal April 2017. Senangnya ga harus menunggu satu tahun.

Dikutip dari jurnalotaku,com, majalah Lala milik penerbit Hakusensha pada hari selasa mengumumkan bahwa season keenam Natsume Yuujinchoui akan ditayangkan di musim semi tahun ini, Sesuai dengan season-nya yang keenam serinya akan diberi judul Natsume Yuujinchou Roku. Yap, Roku dalam bahasa Indonesia artinya enam.

Sebagaimana biasa cerita ini mengisahkan kehidupan Natsume Takashi yang memiliki kemampuan melihat mahluk halus yang disebut Youkai. Kemampuannya itu diturunkan dari neneknya Natsume Reiko yang mengumpulkan nama-nama Youkai kedalam Yuujin-Chou. Kini Natsume harus mengembalikan nama-nama itu kepada youkai yang memilikinya. Seiring berjalannya waktu hubungan terjalin antara dia dengan youkai yang berada di sekitarnya. Tak jarang mereka saling membantu.

Dikutip dari Jurnalotaku.com

Staf
  • Cerita Orisinil: Yuki Midorikawa
  • Sutradara Utama: Takahiro Omori
  • Sutradara: Kotomi Deai
  • Naskah: Sadayuki Murai
  • Desain Karakter: Akira Takada
  • Desain Youkai: Tatsuo Yamada
  • Musik: Makoto Yoshimori
  • Produksi Animasi: Shunatsu
  • Produksi: NAS
  • Produksi: “Natsume’s Book of Friends” Production Committee

Seiyuu

  • Takashi Natsume: Hiroshi Kamiya
  • Nyanko-sensei: Kazuhiko Inoue
  • Reiko Natsume: Kobayashi Sanae
  • Shuichi Natori: Akira Ishida
  • Kaname Tanuma: Kazuma Horie
  • Satoru Nishimura: Ryohei Kimura
  • Atsushi Kitamoto: Hisayoshi Suganuma
  • Jun Sasada: Miyuki Sawashiro
  • Tohru Taki: Rina Sato
  • Touko Fujiwara: Miki Ito
  • Shigeru Fujiwara: Eiji Ito
  • Seiji Matoba: Junichi Suwabe

Minggu, 22 Januari 2017

[KDRAMA] REBEL : THIEF WHO STOLE THE PEOPLE

REBEL : THIEF WHO STOLE THE PEOPLE
                                                                     Image : Asian Wiki
Anyeonghaseo.... *bungkuk 90 derajat
Untuk kesempatan ini saya mau share mengenai drama barunya uri kyun sang oppa,  one of my idol in korea. kalo kamu-kamu mungkin nyebutnya BIAS tapi kayanya ga sampe se-bias itu si... hehe...
Yuk cek Profilenya..

Sumber : Asian Wiki

English Title : Rebel : Thief Who Stole The People
Hangul : 역적: 백성을 훔친 도적
Romanization : Yeokjuk: Baeksungeul Hoomchin Dojuk
Writer : Hwang Jin Young
Director : Kim Jin Man
Network : MBC
Episodes : 30
Genre : Historical, Romance
Release Date : January 30, 2017
Runtime : Monday, Tuesday 22.00 KST
Language : Korean
Country : South Korea

Sinopsis :
Ah Mo Gae (Kim Sang Joong) adalah seorang budak yang ingin anaknya hidup sebagai manusia normal sehingga ia berusaha keras untuk membesarkan anaknya Hong Gil Dong untuk menempuh pendidikan tinggi. Hong Gil Dong (Yoon Kyun Sang) tumbuh menjadi seseorang yang mampu mencuri hati rakyat dengan panah yang ada di tangannya. Sementara itu Song Ga Ryung (Chae Soo Bin) adalah seorang yang dengan setia dan penuh kepercayaan menunggu kembalinya Hong Gil Dong "Meskipun semua orang pergi dan hanya aku sendirian, aku akan menunggumu". Hong Gil Dong yang berhasil mencuri hati rakyat menjadi sasaran iri dan dengki dari Raja Yeonsan (Kim Ji Suk). Ia merasa terancam oleh tindakan Hong Gil Dong. Sementara itu Jang Nok Soo (Honey Lee) adalah seorang gisaeng yang ingin memenangkan hati Hong Gil Dong.

Cast :
Main Cast (From Wikipedia)

Cast lainnya bisa dilihat di sini

So Guys... This will be 30 episodes and it is long enaugh for me. Saya bahkan ga selesai nontong Six Flying Dragon karena episodenya kepanjangan padahal ada Kyun Sang Oppa di sana TT. Tapi karena kali ini peran utama yang didapatkannya, ya saya akan coba tonton sampai habis. Lagipula MBC sudah terkenal dengan drama historicalnya. dengan adanya drama ini berarti slot senin selasa (yang saya tonton selasa rabu) saya yang biasanya diisi dengan Romantic Doctor dan Hwarang akan berubah menjadi Hwarang dan Rebel : Thief Who Stole The People. 

Because this will be the first lead male role for Kyun Sang Oppa, I wish he can give the best he has in this drama. Fighting Oppa!!

Nih aku kasih bonus, biasanya download drama korea di situs ini, saran hostnya pakai Openload atau Zippyshare karena selain kecepatanya lebih tinggi, ga terlalu banyak adds nya juga dan tombol downloadnya bisa di temukan dengan mudah.

Trailer #1

This is 7 Minutes Preview From Dramafever , Check This Out Guys... !



Bonus :
Link Download Rebel : The Thief Who Stole The People

Via Drakorindo
Via KshowSubIndo
Via KdramaIndo

Selamat Mendownload ^_^

Rabu, 26 Oktober 2016

PANDUAN TERBARU PENGGUNAAN KURIKULUM 2013

PANDUAN PENGGUNAAN KURIKULUM 2013
TERBARU


PERMENDIKBUD NO. 20 TAHUN 2016 TENTANG SKL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
PERMENDIKBUD NO. 21 TAHUN 2016 TENTANG STANDAR ISI PENDIDIKAN DASAR DAN MENGENGAH
PERMENDIKBUD NO. 22 TAHUN 2016 TENTANG STANDAR PROSES PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
PERMENDIKBUD NO. 23 TAHUN 2016 TENTANG STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN
PERMENDIKBUD NO. 24 TAHUN 2016 TENTANG KI DAN KD PADA KURIKULUM 2013 PADA PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH.


Yang mau cari format RPP, KI KD terbaru K13 dan lainnya dapat mendownload semua file di atas.

Terima kasih,
Semoga Bermanfaat.

Minggu, 08 Mei 2016

[THE LOST MEMORY] CHAPTER 9 - SLIGHT MEMORY

CHAPTER 9
SLIGHT MEMORY
            Sejak pertemuannya dengan Diana, Hilmi sadar dia tidak pernah memimpikan gadis kecil itu lagi. Namun malam itu, mimpi yang lebih buruk muncul. Ia bahkan tidak pernah terpikir akan memimpikan hal semacam itu.
            Dalam mimpinya, ia masih diusia sekolah dasar.Ia  berada di dalam mobil, wajahnya sangat gembira, ia tertawa bersama ayah dan ibunya,mendengar lelucon yang dilontarkan oleh ayahnya. Gadis kecil itu jga tertawa bersama mereka. Lalu tiba-tiba suasana menjadi sunyi senyap. Semuanya berhenti tertawa. Lalu ia mendengar ayahnya berkata dengan suara yang sangat pelan. “Maafkan kami, Hilmi.” Setelah mengatakannya, ayahnya menekan salah satu tombol yang ada di sebelah kemudinya. Seketika itu juga pintu mobil terbuka padahal mobil sedang melaju dengan kencang melewati jalan pegunungan. Ia menoleh ke arah pintu keluar, wajahnya berubah menjadi pucat. Seketika itu juga ia menoleh balik kearah gadis kecil di sampingnya namun gadis itu mendorongnya hingga tubuhnya terlempar ke luar mobil.
            “Hilmi, hilmi! Bangun!” Suara itu perlahan membawanya menuju kesadarannya. Ia perlahan membuka matanya dan merasakan tubuhnya yang basah dengan keringat. “Kau baik-baik saja? Apa kau bermimpi buruk?” Mendengar suara itu ia akhirnya kembali ke kesadarannya yang seutuhnya. Ia melihat wajah khawatir kakaknya. Dan mencoba mengangkat tubuhnya untuk bangun.
            “Kakak? Kau bilang tidak pulang ke rumah?” Tanya Hilmi heran.
            “Ah, Pekerjaannku selesai jam dua pagi, tapi aku memutuskan untuk pulang. Kalau tidak, siapa yang akan menyiapkan sarapanmu?” Penjelasan ringan itu tidak bisa sepenuhnya di terima oleh Hilmi. Namun ia tidak bisa lanjut bertanya apa lagi mengenai perkerjaan kakaknya. Ia sudah diperingatkan untuk tidak bertanya oleh kakaknya. Namun kakaknya sudah menjamin itu bukan pekerjaan berbahaya ataupun pekerjaan yang haram. “Aku sudah selesai menyiapkan sarapan, segeralah mandi dan berpakaian kemudian sarapan.” Hilmi melihat kakaknya menuju pintu kamar sambil mengatakannya.
            “Lain kali tidak perlu pulang kalau sudah lewat tengah malam. Kakak itu masih seorang perempuan. Tidak perlu mengkhawatirkan hal sepele seperti sarapan pagi.” Setelah mengatakannya Hilmi bangkit dari tempat tidurnya, mengambil handuk dan berjalan menuju kamar mandi melewati kakaknya yang tidak bergerak setelah mendengar ucapan Hilmi.
Sebelum tiba di kamar mandi ia ingat shampoo yang baru dibelinya tertinggal di kamar. Sebelum sempat membuka pintu kamarnya ia mendengar seorang terisak dan menangis cukup kencang. Hilmi menghentikan langkahnya, ia tidak tau harus berbuat apa di depan kakaknya. Ini bukan pertama kalinya ia mendengar kakaknya mengangis sendirian. Namun setiap kali bertanya kakaknya hanya berkata “Aku hanya sedikit lelah. Jangan khawatir.” Sambil tersenyum dan mengusap air matanya. Berpikir jawabannya akan sama jika ia bertanya, Hilmi memutuskan untuk berbalik menuju kamar mandi tanpa mengambil samponya. Hari itu suasana sarapan pagi jadi terasa canggung bagi Hilmi. Pada akhirnya ia memilih untuk diam menghabiskan makanannya dan pergi ke sekolah.
             ***
            “Hilmi, bisa bicara sebentar? Berdua saja.” Tanya Diana. Jam istirahat itu seharusnya dihabiskan untuk mengisi kembali energinya yang telah dipakai untuk belajar. Hilmi sedikit terkejut dengan ajakan Diana. Pasalnya, kemarin mereka sama sekali tidak bisa berbicara. Dan Hilmi tidak menyangka Diana lebih dahulu mengajaknya bicara.
            “Oke” Hilmi berdiri dari kursinya.
“Oy, kau mau meninggalkanku makan sendirian?” Tanya Salman sedikit kesal.
“Maaf, sebentar saja. Duluan saja ke kantin, nanti aku menyusul.” Hilmi menepuk pundak Salman sambil tersenyum.
“Huuufth, apa boleh buat, jangan lama-lama ya!” Salman bangkit dan benjalan menuju kantin sedangkan Hilmi mengikuti langkah Diana.
Mereka berjalan tanpa sepatah katapun terlontar. Hingga akhirnya Diana menghentikan langkah kakinya di taman belakang gedung sekolah. Ia membalikkan badannya dan tersenyum dengan lebar. Sebuah kata keluar dari mulutnya. Ia menyebutkan nama seseorang yang membuat Hilmi benar-benar terkejut. Seluruh tubuhnya gemetar mengungkapkan perasaan takut yang amat besar.
Sebuah ingatan terlintas dalam benaknya. Ia melihat sebuah nametag bertuliskan “Dr. Reinhard” kemudian pandangannya tertuju pada wajah pemilik nametag itu namun sefokus apapun ia ingin melihat wajah itu dengan jelas, seakan ada sebuah dinding besar yang tidak tertembus dalam ingatannya sehingga wajah itu hanya terlihat buram. Kakinya tak sanggup menahan luapan emosi yangtiba-tiba saja keluar setelah mendengar nama itu. Hilmi akhirnya jatuh terduduk sambil memegangi kepalanya yang terasa nyeri tak terkira. Namun demikian ia berusahan untuk tetap menjaga kesadarannya. “Kalau aku hilang kesadaran saat ini, maka tidak ada lagi kesempatan kedua untuk menjaga ingatan yang akhirnya kembali. Tidak ada jaminan setelah kembali sadar ingatan ini tetap ada dan tidak menghilang lagi” – pikirnya.
Diana duduk di depan Hilmi, melihatnya dengan pandangan mengejek. “Bukankah ini yang selama ini kau mau? Ingatanmu, kau ingin semuanya kembali, iya kan?” Ia mengulurkan tangannya. Telapak tangannya menyentuh pipi Hilmi yang penuh dengan keringat karena menahan sakit dikepalanya. “Hilmi, aku akan membantumu mengembalikan semuanya. Ingatan bahagia… Ingatan menyedihkan… bahkan ingatan menakutkan yang ingin kau kubur selamanya.” Diana tersenyum kemudian berdiri. “Untuk hari ini sepertinya sudah cukup. Jiwamu mungkin tidak akan sanggup jika ada ingatan yang terbuka selanjutnya. Istirahatlah sebentar sampai kondisimu kembali seperti semula. Mereka bilang jika tiba-tiba ingatan yang hilang kembali seluruhnya, bisa terjadi kerusakan otak atau malah kau akan mengubur ingatan itu lebih dalam lagi. Besok kita akan bertemu lagi di tempat yang berbeda, aku akan beritahu lokasinya.” Ia berbalik dan pergi.

“Tu… tunggu” Suara paraunya tidak bisa menjangkau Diana. Hilmi berharap bisa mendengar lebih banyak tapi sepertinya Diana tidak ingin menjelaskan apapun.

===========================================================

Selamat membaca Minnasan ...... ^_^