Minggu, 21 Februari 2016

THE LOST MEMORY [CHAPTER 7] NEW CLASSMATE

CHAPTER 7
NEW CLASSMATE
            Hari itu sepanjang perjalanan pulang Hilmi terus memikirkan pertemuannya dengan Diana hingga ia tiba di depan gerbang rumahnya. “Kau tau ini demi kebaikanmu! Suatu saat ia akan mengetahui segalanya, takdir apa yang seharusnya di milikinya, kalau terus begini, kau hanya membuatnya dalam bahaya!” Langkah Hilmi terhenti, ia melihat laki-laki didepan pintu rumahnya bersama kakaknya. Laki-laki itu berbicara penuh dengan kekesalan seakan menimpahkan semua kesalahan pada kakaknya namun kakaknya hanya berpaling, tertunduk dan tidak mampu melihat wajah lelaki itu. Alisnya mengerut menahan agar air matanya tidak sampai menetes.
            Hilmi berlari menghampiri keduanya. “Kakak, kau baik-baik saja?” Kakaknya menoleh dan terkejut melihat Hilmi. Laki-laki itupun menoleh ke arah Hilmi. “Kita sambung pembicaraan ini nanti. Untuk sekarang aku akan kembali.” Laki-laki itu melihat wajah kakak Hilmi kemudian berbalik dan pergi.
***
            Kajadian kemarin masih membuat Hilmi bertanya-tanya. Namun kemarin ia tidak bisa menanyakan apapun mengenai laki-laki itu karena kakaknya langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu. Pagi ini pun kakaknya bahkan sudah berangkat kerja sebelum Hilmi bangun. Sarapan sudah tersedia di atas meja makan beserta memo yang ditinggalkan kakaknya
Habiskan sarapanmu sebelum berangkat, aku ada pekerjaan mendadak malam ini mungkin tidak bisa pulang ke rumah.
            “Ini pertama kalinya kakak tidak pulang ke rumah karena pekerjaan” gumam Hilmi. Tanpa pikir panjang ia menghabiskan makanannya, mengunci pintu dan berangkat ke sekolah.
***
            Hilmi berjalan di lorong sekolah, ia tiba lima menit sebelum bel berbunyi. Ia tersentak ketika seseorang tiba-tiba merangkulkan tangannya ke pundaknya. “Pagi...” Wajah itu cemerlang seperti biasanya, senyum lebarnya setiap pagi selalu menambah semangat Hilmi di pagi hari. Hilmi membalas sapaan salman dengan senyum.
            “Oo.... Sepertinya ada seseorang yang sedang bahagia? Apa ada kabar bagus?” Salman menggoda Hilmi.
            “Mau dengar?” tanya Hilmi. Mendengar ucapan Hilmi, Salman jadi semakin penasaran dan ia pun menganggukkan kepalanya tanpa ragu lalu tersenyum lebar. Pagi itu Hilmi menceritakan pertemuannya dengan Diana. “Jadi, kau dapat alamatnya? Nomor telponnya?” tanya Salman. Hilmi terdiam sambil mengusap-ngusap kepalanya. “Jangan-jangan cuma tahu namanya saja?” tegas Salman.
            “Kita baru saja bertemu mana bisa –“ perkataan Hilmi terpotong ketika mendengar bel berbunyi. Pak Wahyu wali kelas mereka masuk ke kelas dan ketua kelas menyiapkan. Selesai menjawab salam siswa-siswanya, Pak Wahyu memberikan pengumuman.
            “Anak-anak, hari ini kita kedatangan siswi baru. Silahkan masuk!” Seorang anak perempuan berambut hitam panjang masuk. Alis mata Salman terangkat seketika ketika melihat gadis yang berjalan masuk tersebut.
            “Hey, bukankah dia orangnya?” tanya Salman sambil berbisik kepada Hilmi. Hilmi hanya mengangguk, wajah keterkejutannya dapat dilihat dengan jelas oleh Salman.
“Silahkan perkenalkan diri!” Ucap Pak Wahyu.
            “Aku Diana Yulia Widianto, panggil saja Diana. Salam kenal” Diana mengakhiri perkenalannya dengan senyum.
            “Diana tinggal di Amerika selama empat tahun. Dan tahun ini ia baru kembali dari Amerika. Semuanya, bertemanbaiklah dengan Diana!” Pak Wahyu tersenyum kepada seluruh siswanya. “Diana, kau bisa duduk di kursi kosong di belakang.” Ujar Pak Wahyu.
            Diana berjalan menuju kursi kosong di belakang, masih ada satu kursi di belakang Diana. Di sana seorang laki-laki memperhatikannya sampai ia tiba di kursinya. Salman tesenyum sambil menopang dagunya dengan tangan kirinya. “Salman, salam kenal” Salman menyodorkan tangan kanannya untuk berjabat tangan. Diana pun menanggapi Salman dengan menjabat tangannya dan tersenyum. Di pojok belakang, Diana melihat Hilmi yang sedang memperhatikannya. Tanpa berkata apapun Diana segera berbalik dan duduk di kursinya.
                 Saat istirahat siang Diana sudah dikerubungi oleh teman-teman sekelasnya. Pada akhirnya, hari itu ia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Diana.
=================================================================================
BERSAMBUNG

Maaf telat update, harusnya kemarin tapi ga sempat hehe....
Chapter 8 nanti akan sedikit menguak masa lalu ditunggu ya....

Untuk Update selanjutnya mungkin akan terlambat beberapa hari

Ada deadline cerpen yang mau dikirim untuk lombanya Asma Nadia. berhubung batas pengumpulan akhirnya tanggal 26 Februari dan cerpennya masih dalam proses jadi aku mau fokus untuk menyelesaikan cerpen.

Mohon do'anya supaya cerpennya sukses ya... ^_^

Salam Hangat
D_Tantri

Minggu, 14 Februari 2016

THE LOST MEMORY - CHAPTER 6

CHAPTER 6
DIANA
            Diana bersama keenam bodyguard nya akhirnya tiba di rumah. Rumah itu memiliki pagar yang jauh dari pintu masuk rumahnya. Halaman rumah yang sangat luas itu dikelilingi oleh rerumputan dan bunga-bunga yang tertata rapi. Terdapat air mancur di tengah-tengah halaman rumah. Pintu pagar dibuka oleh satpam kemudian dua mobil masuk kedalamnya. Di depan pintu masuk Diana disambut dengan beberapa pelayan rumah dan kepala pelayan berdiri di tengah-tengah. Pria berumur enam puluh tahunan itu menyambut Diana dengan ucapan selamat datang. Diana membalas dengan senyum.
            “Tuan besar sudah menunggu anda di ruang keluarga, ia ingin langsung menemui anda.” Diana berjalan menuju ruang keluarga dan melihat ayahnya sedang duduk santai menekan-nekan tombol remot TV. Rasa rindu yang dirasakan Diana selama sebulan terakhir akhirnya bisa terbalaskan. Ia melingkarkan tangannya di pundak ayahnya dan memejamkan matanya, merasakan kehangatan tubuh ayah yang sangat ia sayangi.
            “Kau sudah kembali?” kata ayah Diana yang masih menekan-nekan remot TV.
            “Mmm..” Diana mengangguk. “Aku merindukan Ayah” Diana mempererat pelukannya.
            “Kalau merindukan ayah kenapa tidak langsung kembali ke rumah setelah sampai di Jakarta? Kau bahkan membuat masalah sampai dibawa ke kantor polisi.” Mendengar perkataan ayahnya, Diana kaget, membuka matanya dan melepaskan pelukan ayahnya.
            “Bagaimana kau bisa sampai berurusan dengan polisi?” Ayah Diana mengatakannya dengan wajah datar. Raut wajah Diana berubah menjadi sedih. Entah apa yang membuatnya ingin menangis. Namun ia tahu bahwa sangat mengkhawatirkannya. Mengingat hak itu Diana berusaha tetap tersenyum.
            “Mmm” Diana mengangguk mengiyakan perkataan ayahnya. “Aku sedikit membuat masalah. Ayah mau dengar ceritaku?” Diana berjalan ke depan sofa dan duduk di samping ayahnya. “Saat tiba dibandara aku menerima telepon dari Azura, ia bilang butuh bantuan. Saat itu suaranya gemetaran dan aku tahu terjadi sesuatu yang buruk. Akhirnya aku datang kerumahnya. Di sana tidak ada seorangpun kecuali Azura, saat aku memasuki rumahnya, rumahnya berantakan tidak karuan. Azura saat hanya duduk di pojok rumahnya, wajahnya pucat dan gemetaran. Aku menunggunya tenang dan akirnya ia menceritakan segalanya.” Jelas Diana
            “Apa yang dikatakannya?” tanya ayahnya.
            “Ia melihat seseorang mengobrak-abrik seisi rumahnya, mereka sepertinya mencari sesuatu. Diana hanya melihat dari luar jendela, orang-orang itu untungnya tidak melihat Diana, malam itu Azura keluar sebentar menuju minimarket dan saat sampai dirumahnya ia melihat semua kejadian itu. Kami langsung melapor polisi dan harus mengikuti serangkian interogasi. Orang tuanya baru bisa kembali besok sorenya. Karena itu aku menemaninya sampai orang tuanya kembali.” Jelas Diana.
            “Tapi ayah, ada yang aneh.” Lanjut Diana. “Tak ada satupun barang dirumahnya yang hilang, sepertinya mereka bukan pencuri biasa yang mengincar uang atau perhiasan. Mungkin mereka punya tu—“ Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Diana melihat ayahnya meletakkan remot TV di atas meja dan berdiri.
            “Jangan terlalu banyak ikut campur masalah orang lain, berapa kali aku haus mengatakannya padamu?” Saat mendengar ucapan itu, Diana melihat wajah ayahnya yang berubah menjadi sangat serius. “Sebaiknya kau istirahat” saran ayahnya sambil berpaling menjauh darisofa dan berjalan menuju ruang kerjanya. Genggaman tangan Diana semakin kencang menahan rasa marahnya namun rasa marah itu sudah mencapai titik di mana ia tidak dapat menahannya lagi. Kepalanya tertunduk, air matanya menetes, ia mengigit bibirnya.
            “AZURA...—“ Ia berteriak hingga seisi rumah mendengarnya, ayahnya berhenti. “Azura adalah sahabat yang selalu bersamaku bahkan saat ayah dan ibu tidak pernah sedikitpun peduli padaku. Bagaimana bisa ayah bilang tidak perlu ikut campur saat ia sedang dalam masalah? Saat aku melihatnya duduk gemetaran di pojok ruangan, aku teringat diriku yang dulu. Aku yang tidak berdaya dan tidak ada seorangpun di sana yang bisa aku minta pertolongan.” Air matanya semakin deras menetes, Diana berusaha mengontrol emosinya dan melanjutkan ucapannya. “Bahkan ayah dan ibu.” Ucapan itu dilanjutkan dengan suara yang jauh lebih pelan seakan ia ingin ayahnya tidak mendengarnya namun ia juga ingin ayahnya mendengarnya.
Diana bangkit dari sofa dan berlari menuju kamarnya. Ia membanting pintu dan melemparkan diri ke tempat tidurnya. Tangisannya ia lanjutkan hingga seluruh perasaannya terluapkan. Saat emosinya mulai stabil ia mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya. Diana bahkan terlalu malas untuk bergerak saat itu.
“Kau sudah tenang? Besok pagi aku ingin melihat wajah cucuku yang ceria seperti biasanya, jadi malam ini kau bisa menangis sepuasnya.” Ucapan kakeknya membuat Diana ingin menangis lebih lama namun ia begitu lelah hingga tak lama ia tertidur.
==================================================================
BERSAMBUNG

Chapter 6 ini kisahnya lebih panjang, untuk perkenalan siapa Diana dan bagaiman wataknya saya rasa chapter 6 sudah mewakili.
Penulis akan hiatus lagi selama dua minggu karena harus menyelesaikan tugas kuliahnya dan tugas pekerjaannya....
Bearti Update chapter 7 mungkin sekitar tanggal 28 Februari....
Mohon maaf apabila ada salah pengetikan dalam ceritanya.
Terima kasih buat yang sudah menyempatkan diri membaca... ^_^

Rabu, 10 Februari 2016

CHAPTER 5 [THE LOST MEMORY]

CHAPTER 5
HER ANSWER
            Diana menarik napas panjang dan menghembuskannya. Kemudian ia tersenyum kepada Hilmi dan akhirnya membuka suaranya. “Ini pertama kalinya kita saling memberikan nama.” jelas Diana. Hilmi menurunkan keseriusan wajahnya, ia menyadari dari sekian banyak wanita, bagaimana ia bisa sangat yakin bahwa gadis didepannya adalah gadis kecil yang ada di mimpinya. “Lagipula itu hanya sebuah mimpi, wajah gadis kecil itu hanya bisa kulihat didalam mimpi secara samar, bodohnya aku menanggapi ini dengan terlalu serius” pikir Hilmi.
            “Ah... Maaf, aku pikir kau mirip dengan seorang gadis kecil yang pernah kulihat” tak sengaja Hilmi mengutarakan hal itu hingga membuat Diana heran. “Hah? Gadis kecil? Aku tidak punya adik, lagipula mengatakan wajahku mirip seperti seorang anak kecil itu tidak sopan.” Nada suara Diana setengah marah, wajahnya menandakan bahwa ia kesal dengan perkataan Hilmi.
“Eh, bukan maksudku –“ Hilmi berusaha menjelaskan
“Haah... sudahlah” Diana melihat jam tangannya dan ia terkejut, “Maaf, sudah waktunya kembali, Hilmi, terima kasih banyak sudah menolongku” Diana tersenyum sambil berlari menjauh. Hilmi hanya bisa melihat rambut panjang lurus Diana yang mengayun sembari ia berjalan menjauh.
***
Diana berlari cukup jauh, merasa ia sudah jauh dari jarak pandang Hilmi, sekarang ia hanya berjalan biasa di trotoar mengikuti kecepatan pejalan kaki yang lainnya. Diana menurunkan kecepatannya dan menghela napas panjang,. “Kita memang baru pertama kali saling berkenalan, jadi aku tidak berbohong” pikirnya. Tanpa sadar Diana tersenyum, “Senangnya bisa bertemu”. “Tapi masih belum saatnya, sepertinya segel ingatannya sudah tidak akan bertahan lama” Diana bergumam sendiri sambil berjalan.
Tenggelam dalam pikirannya, Diana tidak sadar tiga orang pria yang mngejarnya tadi sudah ada di depannya dan tiga orang lagi berdiri di belakannya.”Ahh... aku tertangkap” ia mengeluh setengah berteriak.
“Nona, ayo sudahi saja kejar-kejarannya dan ikut kami kembali ke rumah!” bujuk pria yang tinggi dan berkumis.

“Oke, tapi sebelum pulang ayo kita makan Ice Cream! Aku akan traktir kalian karena sudah bekerja dengan baik hari ini” Diana tersenyum ramah, senyumannya membuat mereka tidak bisa menolak dan mereka masuk ke kafe untuk menikmati es krim.
================================================================
BERSAMBUNG
Chapter lima agak lebih sesikit dari yang lain karena ini jadi antiklimaks dari cahpter sebelumnya, Enjoy the story.... ^_^ oh iya, Chapter 6 akan rilis di hari Minggu 14 Februari 2016.
Aku pingin banget membuat karakter yang kuat dari Hilmi dan Diana tapi belum tau deh hasilnya. Ikuti terus ya....
Salam Penulis.