Jumat, 01 Mei 2015

[Chapter 1] THE LOST MEMORY

CHAPTER 1

LITTLE GIRL IN THE DREAM

“Tunggu, jangan pergi!”. Terdengar seseorang memanggil dari belakang. Kemudian Hilmi menoleh kebelakang, terlihat seorang gadis keil berambut lurus dan panjang menyodorkan tangan kanannya sambil berlari. “Jangan Pergi!” Hilmi pun hanya diam memandangi gadis itu. Namun entah kenapa meski ia hanya diam sambil menoleh kebelakang, semakin gadis itu berlari mendekatinya, jarak mereka semakin jauh kedepan. Mata Hilmi terbelalak menyadari pandangannya itu. Tanpa disadari ia menyodorkan tangannya berharap bisa meraih gadis kecil itu, tapi gadis kecil yang berlari mendekat itu malah semakin jauh.
“Hilmi! Sampai kapan kau akan tidur? Kau akan terlambat berangkat sekolah!”. Teriakan kakak perempuannya membuatnya sadar bahwa ia baru saja bermimpi. “Iya, beri aku lima menit!” sambil memeluk bantal gulingnya. “ Cepatlah bersiap-siap, sarapan sudah siap” sambil berjalan menuju luar ruangan.
Gadis itu lagi. Siapa dia sebenarnya? Ah, itu kan cuma mimpi, kenapa harus dipikirkan, katanya dalam hati. Ini bukan pertama kali gadis kecil itu ada didalam mimpinya, itulah yang membuatnya memikirkannya.
Hilmi dan kakak perempuannya hanya tinggal berdua saja. Orang tua mereka telah meninggal dunia karena kecelakaan mobil saat Hilmi baru berusia delapan tahun. Saat itu mereka merencanakan liburan ke pantai. Kakaknya tidak bisa ikut karena ada ujian masuk SMP Namun hari itu kecelakaanpun terjadi. Hanya Hilmi yang berhasil selamat dari kecelakaan naas tersebut.
“Apa mimpi yang sama lagi?”. Pertanyaan kakaknya membuatnya terbangun dari lamunannya saat makan. “Hmm...” ia menganggukkan kepalanya. Raut wajah bingung dan khawatirnya tidak bisa ia sembunyikan dari kakaknya. “Apa aku benar-benar tidak pernah memiliki teman perempuan seperti itu sewaktu kecil?” pertanyaan itu terlontar begitu saja karena ia sudah pernah menceritakan ciri-ciri gadis kecil didalam mimpinya itu. Namun kakaknya menggelengkan kepala. “Teman yang selalu kau bawa kerumah selalu laki-laki. jadi aku tidak tau. Kau juga tidak ingat semua wajah teman SD mu kan? Mungkin gadis itu adalah salah-satunya. Mendengar perkataan kakaknya, ia pikir kemungkinan seperti itu selalu ada. Tapi kecelakaan itu menyebabkan ia kehilangan sebagian ingatannya. Ia bisa mengingat semua wajah teman sekolah dasarnya. Namun jika gadis itu sudah pindah sekolah sebelum keelakaan terjadi, maka ia pasti tidak bisa mengingatnya.
“Bagaimana kalau mengecek catatan di SD nya?”. saran Nana.
“Sudah kucoba, tapi tiga tahun yang lalu terjadi kebakaran yang menghanguskan seluruh ruang arsip di sekolah itu. mereka bilang hanya data selama tiga tahun yang berhasil terselamatkan.” ia memberikan penjelasan sambil merapikan piring yang ada diatas meja. “ Kalau begitu aku berangkat kesekolah dulu. Mungkin itu cuma mimpi saja.”
“Iya, jangan terlalu dipikirkan. Fokus saja mengikuti ujian kelulusan” Nana tersenyum lebar untuk menyemangati sang adik.
Namun tidak bisa dipungkiri, mimpi itu menjadi pikirannya selama perjalanan menuju kesekolah. Apa ada sesuatu yang hilang seiring dengan hilangnya ingatannya karena kecelakaan itu? Apa gadis itu benar-benar pernah satu sekolah dengannya, tapi mengapa teman sekelasnya dulu tidak pernah bercerita tentang siswa yang pernah pindah sekolah? Semua pertanyaan itu berputar dikepalanya sampai ia disadarkan dengan seseorang.
“Hoy... Masih pagi begini sudah melamun. Apa yang kau pikirkan?” Salman menepuk bahu sahabat karibnya itu.
Bahu Hilmi terasa sedikit sakit karena pukulan temannya. “Kau benar-benar mengagetkan ku!” Ia setengah berteriak karena marah dan membalas pukulan temannya dengan sebuah jitakan di kepala.
“Sakiittt..... kenapa kau selalu memukul kepalaku.” protes Salman.
“Setidaknya gunakanlah otakmu sedikit” Hilmi memberi saran dengan nada datar
“Masih memikirkan gadis kecil itu? Apa mimpinya semakin sering?”
“Iya, semakin sering sampai itu jadi mengganggu.”
“Mau menyelidiki sekali lagi? mungkin kali ini kita bisa dapat petujuk.” saran Salman. “Kau tau, bagaimana kalau kita bertanya pada teman-teman sekolah dasarmu dulu?”
“Aku sudah menanyakannya ke semua temanku lewat sosial media, tapi tidak ada satupun yang tahu mengenai gadis itu. Jangan-jangan dia hanya ada di dalam khayalanku saja. Seorang gadis kecil yang sebenarnya memang tidak nyata.” Wajah Hilmi terlihat sedikit kecewa mengatakan hal itu.
“Ee.... Apa kau ingin gadis itu benar-benar ada? Kenapa wajahmu jadi kecewa begitu?” Salman meletakkan tasnya diatas meja. Sekarang mereka sudah sampai dikelasnya. Masih ada sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi dan mereka melanjutkan obrolannya. Salman sedikit khawatir melihat sahabatnya itu. Mereka sudah berteman semenjak SMP hingga sekarang hampir lulus SMA.
“Dulu setelah kecelakaan, dokter bilang aku bisa mendapatkan kembali ingatan yang hilang itu secara bertahap. Tapi ini sudah hampir sembilan tahun. Tidak ada satupun yang aku ingat. Hanya bagian samar-samar tentang kedua orang tuaku. Meski kakak sering bercerita mengenai mereka, tapi aku ingin mengingat mereka sendiri.” Wajah Hilmi menoleh kelangit. letak tempat duduknya yang dekat dengan jendela memudahkannya melihat keluar ruangan. Ia memandang langit yang biru cerah diluar jendela dan mulutnya bergumam “Hari ini langit terlihat begitu tinggi”
***
“Aahhh.... aku tidak menyangka hari ini ulangan Matematika mendadak.” Pak Yudi bernar-banar kejam.” Wajah Salma menunjukkan seakan ia orang paling menderita sedunia. Kepalanya terus saja menunduk sepanjang jalan pulang.
“Semangat-semangat....” kata Hilmi sambil tersenyum. “Sesekali harus ada kejutan supaya hidup tidak membosankan kan?” Senyumnya semakin lebar. Ia mengatakannya tanpa tahu kejutan apa yang akan ia alami sebentar lagi.
“Buat orang jenius sepertimu, itu memang tidak masalah. Semalaman aku mengerjakan script buat ekskul teater . Huft.... padahal deadlinenya diundur. Arrrgghh... harusnya belajar matematika saja tadi malam.” Wajah Salman semakin cemberut. “Ayo mampir ke pasar sebentar, aku ingin membeli perlengkapan untuk pertunjukkan teater minggu depan. Kau tidak ada acara lain lagi kan?”
“Baiklah.” Hilmi menerima ajakan itu begitu saja. “Hari ini traktir makan bakso ya!, sebagi ganti telah menemanimu hehe....” Hilmi tersenyum puas.
Wajah Salman terlihat kaget lalu ia menghela napas panjang. “Oke Oke...”.
Begitu Salman menoleh ke arah Hilmi, ia tidak ada disampingnya. Hilmi tertinggal dibelakang “ Oy...” teriak Salman. Namun Hilmi tidak mendengarkan. Wajahnya berubah pucat, pandangannya terpaku ke depan. Salman yang khawatir dengan sahabatnya mendekatinya. “Oy... kau baik-baik saja? kenapa kau seperti melihat hantu begitu?” Tidak ada respon dari Hilmi sampai Salman menggoyang bahu Hilmi.
Pandangan Hilmi kembali namun kini wajahnya dipenuhi keringat. Ia memegang dahinya dengan telapak tangannya. “Aku pasti sudah gila” gumamnya.
Salman yang sangat khawatir langsung menanyakan kondisinya. “Kau baik-baik saja? Apa kau sakit? Sebaiknya kita pulang saja kalau begini. Ayo, kita pulang saja.” Salman menarik lengan Hilmi melewati pasar.
-------------------------------------------------------------------------------------------BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar