Minggu, 08 Mei 2016

[THE LOST MEMORY] CHAPTER 9 - SLIGHT MEMORY

CHAPTER 9
SLIGHT MEMORY
            Sejak pertemuannya dengan Diana, Hilmi sadar dia tidak pernah memimpikan gadis kecil itu lagi. Namun malam itu, mimpi yang lebih buruk muncul. Ia bahkan tidak pernah terpikir akan memimpikan hal semacam itu.
            Dalam mimpinya, ia masih diusia sekolah dasar.Ia  berada di dalam mobil, wajahnya sangat gembira, ia tertawa bersama ayah dan ibunya,mendengar lelucon yang dilontarkan oleh ayahnya. Gadis kecil itu jga tertawa bersama mereka. Lalu tiba-tiba suasana menjadi sunyi senyap. Semuanya berhenti tertawa. Lalu ia mendengar ayahnya berkata dengan suara yang sangat pelan. “Maafkan kami, Hilmi.” Setelah mengatakannya, ayahnya menekan salah satu tombol yang ada di sebelah kemudinya. Seketika itu juga pintu mobil terbuka padahal mobil sedang melaju dengan kencang melewati jalan pegunungan. Ia menoleh ke arah pintu keluar, wajahnya berubah menjadi pucat. Seketika itu juga ia menoleh balik kearah gadis kecil di sampingnya namun gadis itu mendorongnya hingga tubuhnya terlempar ke luar mobil.
            “Hilmi, hilmi! Bangun!” Suara itu perlahan membawanya menuju kesadarannya. Ia perlahan membuka matanya dan merasakan tubuhnya yang basah dengan keringat. “Kau baik-baik saja? Apa kau bermimpi buruk?” Mendengar suara itu ia akhirnya kembali ke kesadarannya yang seutuhnya. Ia melihat wajah khawatir kakaknya. Dan mencoba mengangkat tubuhnya untuk bangun.
            “Kakak? Kau bilang tidak pulang ke rumah?” Tanya Hilmi heran.
            “Ah, Pekerjaannku selesai jam dua pagi, tapi aku memutuskan untuk pulang. Kalau tidak, siapa yang akan menyiapkan sarapanmu?” Penjelasan ringan itu tidak bisa sepenuhnya di terima oleh Hilmi. Namun ia tidak bisa lanjut bertanya apa lagi mengenai perkerjaan kakaknya. Ia sudah diperingatkan untuk tidak bertanya oleh kakaknya. Namun kakaknya sudah menjamin itu bukan pekerjaan berbahaya ataupun pekerjaan yang haram. “Aku sudah selesai menyiapkan sarapan, segeralah mandi dan berpakaian kemudian sarapan.” Hilmi melihat kakaknya menuju pintu kamar sambil mengatakannya.
            “Lain kali tidak perlu pulang kalau sudah lewat tengah malam. Kakak itu masih seorang perempuan. Tidak perlu mengkhawatirkan hal sepele seperti sarapan pagi.” Setelah mengatakannya Hilmi bangkit dari tempat tidurnya, mengambil handuk dan berjalan menuju kamar mandi melewati kakaknya yang tidak bergerak setelah mendengar ucapan Hilmi.
Sebelum tiba di kamar mandi ia ingat shampoo yang baru dibelinya tertinggal di kamar. Sebelum sempat membuka pintu kamarnya ia mendengar seorang terisak dan menangis cukup kencang. Hilmi menghentikan langkahnya, ia tidak tau harus berbuat apa di depan kakaknya. Ini bukan pertama kalinya ia mendengar kakaknya mengangis sendirian. Namun setiap kali bertanya kakaknya hanya berkata “Aku hanya sedikit lelah. Jangan khawatir.” Sambil tersenyum dan mengusap air matanya. Berpikir jawabannya akan sama jika ia bertanya, Hilmi memutuskan untuk berbalik menuju kamar mandi tanpa mengambil samponya. Hari itu suasana sarapan pagi jadi terasa canggung bagi Hilmi. Pada akhirnya ia memilih untuk diam menghabiskan makanannya dan pergi ke sekolah.
             ***
            “Hilmi, bisa bicara sebentar? Berdua saja.” Tanya Diana. Jam istirahat itu seharusnya dihabiskan untuk mengisi kembali energinya yang telah dipakai untuk belajar. Hilmi sedikit terkejut dengan ajakan Diana. Pasalnya, kemarin mereka sama sekali tidak bisa berbicara. Dan Hilmi tidak menyangka Diana lebih dahulu mengajaknya bicara.
            “Oke” Hilmi berdiri dari kursinya.
“Oy, kau mau meninggalkanku makan sendirian?” Tanya Salman sedikit kesal.
“Maaf, sebentar saja. Duluan saja ke kantin, nanti aku menyusul.” Hilmi menepuk pundak Salman sambil tersenyum.
“Huuufth, apa boleh buat, jangan lama-lama ya!” Salman bangkit dan benjalan menuju kantin sedangkan Hilmi mengikuti langkah Diana.
Mereka berjalan tanpa sepatah katapun terlontar. Hingga akhirnya Diana menghentikan langkah kakinya di taman belakang gedung sekolah. Ia membalikkan badannya dan tersenyum dengan lebar. Sebuah kata keluar dari mulutnya. Ia menyebutkan nama seseorang yang membuat Hilmi benar-benar terkejut. Seluruh tubuhnya gemetar mengungkapkan perasaan takut yang amat besar.
Sebuah ingatan terlintas dalam benaknya. Ia melihat sebuah nametag bertuliskan “Dr. Reinhard” kemudian pandangannya tertuju pada wajah pemilik nametag itu namun sefokus apapun ia ingin melihat wajah itu dengan jelas, seakan ada sebuah dinding besar yang tidak tertembus dalam ingatannya sehingga wajah itu hanya terlihat buram. Kakinya tak sanggup menahan luapan emosi yangtiba-tiba saja keluar setelah mendengar nama itu. Hilmi akhirnya jatuh terduduk sambil memegangi kepalanya yang terasa nyeri tak terkira. Namun demikian ia berusahan untuk tetap menjaga kesadarannya. “Kalau aku hilang kesadaran saat ini, maka tidak ada lagi kesempatan kedua untuk menjaga ingatan yang akhirnya kembali. Tidak ada jaminan setelah kembali sadar ingatan ini tetap ada dan tidak menghilang lagi” – pikirnya.
Diana duduk di depan Hilmi, melihatnya dengan pandangan mengejek. “Bukankah ini yang selama ini kau mau? Ingatanmu, kau ingin semuanya kembali, iya kan?” Ia mengulurkan tangannya. Telapak tangannya menyentuh pipi Hilmi yang penuh dengan keringat karena menahan sakit dikepalanya. “Hilmi, aku akan membantumu mengembalikan semuanya. Ingatan bahagia… Ingatan menyedihkan… bahkan ingatan menakutkan yang ingin kau kubur selamanya.” Diana tersenyum kemudian berdiri. “Untuk hari ini sepertinya sudah cukup. Jiwamu mungkin tidak akan sanggup jika ada ingatan yang terbuka selanjutnya. Istirahatlah sebentar sampai kondisimu kembali seperti semula. Mereka bilang jika tiba-tiba ingatan yang hilang kembali seluruhnya, bisa terjadi kerusakan otak atau malah kau akan mengubur ingatan itu lebih dalam lagi. Besok kita akan bertemu lagi di tempat yang berbeda, aku akan beritahu lokasinya.” Ia berbalik dan pergi.

“Tu… tunggu” Suara paraunya tidak bisa menjangkau Diana. Hilmi berharap bisa mendengar lebih banyak tapi sepertinya Diana tidak ingin menjelaskan apapun.

===========================================================

Selamat membaca Minnasan ...... ^_^

Jumat, 06 Mei 2016

THE LOST MEMORY - CHAPTER 8

CHAPTER 8
ARGUING
            Pagi itu sarapan sudah terhidang di atas meja makan. Meja makan itu cukup lebar untuk menampung sepuluh orang.
            “Apa Diana belum bangun?” tanya Profesor Widianto yang juga ayah Diana kepada salah kepala pelayang yang berdiri di samping ayahnya.
            “Dia sudah berangkat” jawab kakek Diana sambil menyantap beberapa roti isi di hadapannya.
            “Pagi-pagi sudah berangkat ke mana? Dia bahkan melewatkan sarapan.” Tanya Profesor Widianto kepada ayanya. “Kau pikir kemana perginya anak tujuh belas tahun setiap pagi? Dia sudah pergi ke sekolah, aku sudah mendaftarkannya ke sekolah barunya kemarin lusa.” Jawab Kakek Diana. “Ayah mendaftarkannya kemana?” Saat menanyakannya wajah Profesor terlihat sangat cemas. “Dimana lagi? Tentu saja sekolah yang paling dekat dari sini. Itu akan jauh lebih aman kan?” jawab Kakek Diana.
            Brakk.. Profesor memukul meja makan di hadapannya seraya bangkit dari kursinya untuk melampiaskan kekesalannya. Ia menatap ayahnya dengan pandangan tajam. “Apa yang kau lakukan?” Teriak ayahnya kesal.  Profesor meninggikan nada bicaranya. “Kau tau itu lebih mmbahayakan Diana?” Tanya Profesor. “Bagaimana kalau mereka tau jika kedua anak itu satu sekolah? Diana akan dalam bahaya!” Profesor menggertakkan giginya. Ia benar-benar dikuasai oleh kemarahan.
            “Sudah cukup” Kakek Diana merendahkan suaranya untuk meredakan amarah anaknya itu. “Sudah saatnya kita menyerahkan semuanya pada mereka. Kita sudah terlalu lama melindungi mereka tanpa tau bahwa kita sebenarnya sudah menyakiti mereka.” Kakek Diana bangkit dari kursinya dan menuju ke depan jendela. “Kita hanya bisa berusaha sampai disini. Mereka harus menerima takdir mereka dan menghadapinya apapun yang terjadi. Kalau tidak permasalahan ini tidak akan pernah selesai.” Kata-kata itu terucap oleh Kakek Diana sambil memandangi langit biru di luar jendela.
            “Apa maksudmu, Diana tidak tahu apapun tentang itu. Dan aku tidak akan pernah membiarkannya tahu.” Perkataan anaknya itu membuat Kakek Diana terejut. “Sebagai seorang ayah aku tidak bisa membiarkan putriku dalam bahaya. Dan berhubungan dengan Hilmi akan membuatnya dalam keadaan bahaya. Ayah tau selama ini mereka selalu mengawasi Hilmi? Mereka benar-benar waspada dengan kembalinya ingatan bocah itu. Diana akan dalam bahaya jika ia bersama bocah itu saat ingatannya kembali. Aku sudah mengatakannya berkali-kali untuk tidak menemui bocah itu lagi meski aku tidak pernah memberitahu alasannya. Aku bahkan mengirimnya ke luar negeri. Semua itu untuk membuatnya aman. Tapi, setelah apa yang aku lakukan, kenapa ayah malah mengirimnya ke sekolah itu?” Profesor menaikkan nada bicaranya pada kalimat terakhirnya.
            “Berapa lama lagi kita harus menutup mata?” Kakek Diana membalikkan padannya menghadap anaknya yang dipenuhi dengan amarah. “Selama ini mereka selalu hidup dalam kebohongan. Anak laki-laki itu, kita berperan besar merekayasa masa lalunya, kita sudah membuang kenangan berharganya. Lalu Diana, kita sudah memisahkannya dari orang yang disayanginya, teman pertama yang ia dapatkan setelah bersusah payah. Aku mengerti rasa sakitnya karena aku menjaganya setiap hari dan selalu mendengarkan ceritanya. Kemarin kau bahkan terkejut ketika Diana berteriak padamu kan? Tapi itulah dirinya yang sebenarnya. Di depanmu dia berusaha mennjaga sikap dan emosinya karena ia menghormati dan menyayangimu. Karena ia yang paling tau penderitaanmu saat ibunya meninggal dunia.” Ucapannya terhenti ketika telepon genggam Professor berdering di saku celananya. Ia melihat wajah anaknya tertunduk memikirkan perkataannya hingga ia tak menyadari bunyi telepon genggamnya sendiri. “Teleponmu bordering, cepat angkat! Mungkin itu panggilan yang penting.” Berkat perkataan ayahnya, Professor menyadari suara handphonenya lalu ia mengangkatnya. Tak lama berbicara ia menutup telponnya. “Aku harus berangkat sekarang.”
Kata Profesor sambil meletakkan kembali handphone di saku celananya. Ayahnya mengangguk dengan senyum di wajahnya. Kemudian Profesor mengambbil tas nya dan berjalan pergi.
“Ah…” Suara ayahnya membuat langkahnya terhenti dan berbalik. “Aku sudah menceritakan semuanya pada Diana, dan dia cukup mengerti keadaannya. Dia tidak akan bertindak gegabah. Dia itu pintar dan kuat. Aku juga akan melindunginya dari belakang. Jadi kau tidak perlu khawatir.” Mendengar ucapan ayahnya Profesor terkejut lalu mendesah. “Aku mengerti. Kita bicarakan lagi nanti. Untuk saat ini aku akan melihat dulu perkembangannya.” Kemudian Profesor berlalu pergi.

Saat itu pria tua berumur tujuh puluh empat tahun itu merasa memenangkan adu argumentasi ini. Ia juga sudah memikirkan banyak hal hingga mengambil keputusan ini pikirnya. 

================================================================
Akhirnya bisa di post juga... ^_^
Sorry for long waiting....
Selamat membaca....