CHAPTER 1
LITTLE GIRL IN THE DREAM
“Tunggu, jangan
pergi!”. Terdengar seseorang memanggil dari belakang. Kemudian Hilmi menoleh
kebelakang, terlihat seorang gadis keil berambut lurus dan panjang menyodorkan
tangan kanannya sambil berlari. “Jangan Pergi!” Hilmi pun hanya diam memandangi
gadis itu. Namun entah kenapa meski ia hanya diam sambil menoleh kebelakang,
semakin gadis itu berlari mendekatinya, jarak mereka semakin jauh kedepan. Mata
Hilmi terbelalak menyadari pandangannya itu. Tanpa disadari ia menyodorkan
tangannya berharap bisa meraih gadis kecil itu, tapi gadis kecil yang berlari
mendekat itu malah semakin jauh.
“Hilmi! Sampai
kapan kau akan tidur? Kau akan terlambat berangkat sekolah!”. Teriakan kakak
perempuannya membuatnya sadar bahwa ia baru saja bermimpi. “Iya, beri aku lima
menit!” sambil memeluk bantal gulingnya. “ Cepatlah bersiap-siap, sarapan sudah
siap” sambil berjalan menuju luar ruangan.
Gadis
itu lagi. Siapa dia sebenarnya? Ah, itu kan cuma mimpi, kenapa harus dipikirkan,
katanya dalam hati. Ini bukan pertama kali gadis kecil itu ada didalam
mimpinya, itulah yang membuatnya memikirkannya.
Hilmi dan kakak
perempuannya hanya tinggal berdua saja. Orang tua mereka telah meninggal dunia
karena kecelakaan mobil saat Hilmi baru berusia delapan tahun. Saat itu mereka
merencanakan liburan ke pantai. Kakaknya tidak bisa ikut karena ada ujian masuk
SMP Namun hari itu kecelakaanpun terjadi. Hanya Hilmi yang berhasil selamat
dari kecelakaan naas tersebut.
“Apa mimpi yang
sama lagi?”. Pertanyaan kakaknya membuatnya terbangun dari lamunannya saat
makan. “Hmm...” ia menganggukkan kepalanya. Raut wajah bingung dan khawatirnya
tidak bisa ia sembunyikan dari kakaknya. “Apa aku benar-benar tidak pernah
memiliki teman perempuan seperti itu sewaktu kecil?” pertanyaan itu terlontar
begitu saja karena ia sudah pernah menceritakan ciri-ciri gadis kecil didalam
mimpinya itu. Namun kakaknya menggelengkan kepala. “Teman yang selalu kau bawa
kerumah selalu laki-laki. jadi aku tidak tau. Kau juga tidak ingat semua wajah teman
SD mu kan? Mungkin gadis itu adalah salah-satunya. Mendengar perkataan
kakaknya, ia pikir kemungkinan seperti itu selalu ada. Tapi kecelakaan itu
menyebabkan ia kehilangan sebagian ingatannya. Ia bisa mengingat semua wajah
teman sekolah dasarnya. Namun jika gadis itu sudah pindah sekolah sebelum
keelakaan terjadi, maka ia pasti tidak bisa mengingatnya.
“Bagaimana kalau
mengecek catatan di SD nya?”. saran Nana.
“Sudah kucoba,
tapi tiga tahun yang lalu terjadi kebakaran yang menghanguskan seluruh ruang arsip
di sekolah itu. mereka bilang hanya data selama tiga tahun yang berhasil
terselamatkan.” ia memberikan penjelasan sambil merapikan piring yang ada
diatas meja. “ Kalau begitu aku berangkat kesekolah dulu. Mungkin itu cuma
mimpi saja.”
“Iya, jangan
terlalu dipikirkan. Fokus saja mengikuti ujian kelulusan” Nana tersenyum lebar
untuk menyemangati sang adik.
Namun tidak bisa
dipungkiri, mimpi itu menjadi pikirannya selama perjalanan menuju kesekolah.
Apa ada sesuatu yang hilang seiring dengan hilangnya ingatannya karena
kecelakaan itu? Apa gadis itu benar-benar pernah satu sekolah dengannya, tapi
mengapa teman sekelasnya dulu tidak pernah bercerita tentang siswa yang pernah
pindah sekolah? Semua pertanyaan itu berputar dikepalanya sampai ia disadarkan
dengan seseorang.
“Hoy... Masih
pagi begini sudah melamun. Apa yang kau pikirkan?” Salman menepuk bahu sahabat
karibnya itu.
Bahu Hilmi
terasa sedikit sakit karena pukulan temannya. “Kau benar-benar mengagetkan ku!”
Ia setengah berteriak karena marah dan membalas pukulan temannya dengan sebuah
jitakan di kepala.
“Sakiittt.....
kenapa kau selalu memukul kepalaku.” protes Salman.
“Setidaknya
gunakanlah otakmu sedikit” Hilmi memberi saran dengan nada datar
“Masih
memikirkan gadis kecil itu? Apa mimpinya semakin sering?”
“Iya, semakin
sering sampai itu jadi mengganggu.”
“Mau menyelidiki
sekali lagi? mungkin kali ini kita bisa dapat petujuk.” saran Salman. “Kau tau,
bagaimana kalau kita bertanya pada teman-teman sekolah dasarmu dulu?”
“Aku sudah
menanyakannya ke semua temanku lewat sosial media, tapi tidak ada satupun yang
tahu mengenai gadis itu. Jangan-jangan dia hanya ada di dalam khayalanku saja.
Seorang gadis kecil yang sebenarnya memang tidak nyata.” Wajah Hilmi terlihat
sedikit kecewa mengatakan hal itu.
“Ee.... Apa kau
ingin gadis itu benar-benar ada? Kenapa wajahmu jadi kecewa begitu?” Salman
meletakkan tasnya diatas meja. Sekarang mereka sudah sampai dikelasnya. Masih
ada sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi dan mereka melanjutkan obrolannya.
Salman sedikit khawatir melihat sahabatnya itu. Mereka sudah berteman semenjak
SMP hingga sekarang hampir lulus SMA.
“Dulu setelah
kecelakaan, dokter bilang aku bisa mendapatkan kembali ingatan yang hilang itu
secara bertahap. Tapi ini sudah hampir sembilan tahun. Tidak ada satupun yang
aku ingat. Hanya bagian samar-samar tentang kedua orang tuaku. Meski kakak
sering bercerita mengenai mereka, tapi aku ingin mengingat mereka sendiri.”
Wajah Hilmi menoleh kelangit. letak tempat duduknya yang dekat dengan jendela
memudahkannya melihat keluar ruangan. Ia memandang langit yang biru cerah
diluar jendela dan mulutnya bergumam “Hari ini langit terlihat begitu tinggi”
***
“Aahhh.... aku
tidak menyangka hari ini ulangan Matematika mendadak.” Pak Yudi bernar-banar
kejam.” Wajah Salma menunjukkan seakan ia orang paling menderita sedunia.
Kepalanya terus saja menunduk sepanjang jalan pulang.
“Semangat-semangat....”
kata Hilmi sambil tersenyum. “Sesekali harus ada kejutan supaya hidup tidak
membosankan kan?” Senyumnya semakin lebar. Ia mengatakannya tanpa tahu kejutan
apa yang akan ia alami sebentar lagi.
“Buat orang
jenius sepertimu, itu memang tidak masalah. Semalaman aku mengerjakan script
buat ekskul teater . Huft.... padahal deadlinenya diundur. Arrrgghh... harusnya
belajar matematika saja tadi malam.” Wajah Salman semakin cemberut. “Ayo mampir
ke pasar sebentar, aku ingin membeli perlengkapan untuk pertunjukkan teater
minggu depan. Kau tidak ada acara lain lagi kan?”
“Baiklah.” Hilmi
menerima ajakan itu begitu saja. “Hari ini traktir makan bakso ya!, sebagi
ganti telah menemanimu hehe....” Hilmi tersenyum puas.
Wajah Salman
terlihat kaget lalu ia menghela napas panjang. “Oke Oke...”.
Begitu Salman
menoleh ke arah Hilmi, ia tidak ada disampingnya. Hilmi tertinggal dibelakang “
Oy...” teriak Salman. Namun Hilmi tidak mendengarkan. Wajahnya berubah pucat,
pandangannya terpaku ke depan. Salman yang khawatir dengan sahabatnya
mendekatinya. “Oy... kau baik-baik saja? kenapa kau seperti melihat hantu
begitu?” Tidak ada respon dari Hilmi sampai Salman menggoyang bahu Hilmi.
Pandangan Hilmi
kembali namun kini wajahnya dipenuhi keringat. Ia memegang dahinya dengan
telapak tangannya. “Aku pasti sudah gila” gumamnya.
Salman yang
sangat khawatir langsung menanyakan kondisinya. “Kau baik-baik saja? Apa kau
sakit? Sebaiknya kita pulang saja kalau begini. Ayo, kita pulang saja.” Salman
menarik lengan Hilmi melewati pasar.
-------------------------------------------------------------------------------------------BERSAMBUNG