Senin, 04 Mei 2015

[Tugas Pra Ulangan XI MIA 6] SOAL-SOAL UJI HIPOTESIS

Keterangan :
Pilih dua problem card dari enam problem card yang ada dibawah ini. Print kemudia DI ISI dan DIKUMPULKAN sebelum pelaksanaan Ulangan.

Problem Card 1
Preview



Problem Card 2
Preview



Problem Card 3
Preview


Problem Card 4
Preview



Problem Card 5
Preview


Problem Card 6
Preview



Salam
Dyah Tantri K.

Minggu, 03 Mei 2015

Langkah-Langkah Uji Hipotesis

Berikut ini akan saya Share langkah-langkah yang harus dilakukan untuk melakukan Uji Hipotesis.

Bagi kalian yang masih SMA kelas XI dan sekolahnya menganut kurikulum 2013, di metematika peminatan pasti ada materi Statistika Inferensia Sub Materi Uji Hipotesis

Bagi para mahasiswa, Uji Hipotesis harus diawali dulu dengan Uji Normalitas dan Uji Homogenitas.

1. Menentukan hipotesis nol (Ho) dan hipotesis alternatif (Ha).

Hipotesis nol adalah suatu hipotesis yang menyatakan bahwa nilai populasi adalah sama dengan nilai yang kitakita duga. Sedangkan Hipotesis alternatif adalah hipotesis yang berisi pernyataan yang menerima semua nilai yang tidak dimasukkan dalam hipotesis nol.

2. Menentukan nilai kritis.

Yaitu nilai terluar (jarak terbesar) yang menentukan apakah perbedaan antara dugaan dengan nilai sampel tersebut cukup dekat ataukah tidak.

3. Menentukan Nilai Uji.

Yaitu dengan statistik uji terhadap nilai sampel.

4. Membuat keputusan:

Menerima Ho, bila nilai uji berada dibawah nilai kritis atas,
Menerima Ho, bila nilai uji diatas nilai kritis bawah
Menolak Ho, jika nilai uji dibawah nilai kritis bawah

Jumat, 01 Mei 2015

[Chapter 3] THE LOST MEMORY

CHAPTER 3

THE REASON I HAVE TO MEET YOU

Hilmi dan Salman duduk untuk beristirahat karena kelelahan berputar mengelilingi pasar. Meraka menyantap sekaleng minuman dingin untuk pelepas dahaga. “Aahh... rasanya seperti hidup kembali. Minuman dingin memang paling mantap saat musim panas” nada kepuasan tak terelakkan dari ucapan Salman.
“Kau melihatnya? Gadis itu ...” belum selesai Hilmi berbicara Salman memotong ucapan Hilmi.
“Iya aku melihatnya, melihat bagaimana wajahmu terpesona oleh seorang gadis pada pandangan pertama” pandangan candaan dan senyuman lebar muncul di wajah Salman.
Wajah Hilmi memerah. “Bukan itu maksudku, dasar bodoh” Jitakan Hilmi melayang ke kepala Salman.
“Aww... kau memukulku lagi?” Salman mendesah.
“Gadis itu, jika gadis kecil yang ada dimimpiku sudah dewasa, mungkin dia akan mirip seperti gadis yang kita temui di pasar tadi. Tidak, aku rasa itu memang dia. Entah kenapa aku benar-benar yakin akan hal itu” lagi-lagi wajah serius itu semakin sering muncul dari wajah Hilmi.
“Maksudmu gadis itu adalah gadis kecil yang ada di dalam mimpimu?” Salman benar-benar kaget dengan apa yang diutarakan Hilmi. “Bodoh! ” Salman memberi jitakan balasan kepada Hilmi, namun tidak ada respon sama sekali dari Hilmi. “Kalau kau yakin kenapa tadi tidak tanyakan langsung? itu jalan terbaik untuk membuktikannya kan?”
“He... tanya apa? apa kau gadis didalam mimpiku?apa kau pernah mengenalku? kalau ternyata bukan dia orangnya, aku akan benar-benar dianggap sebagi orang aneh kan? Itu memalukan.” Hilmi mengambil napas panjang dan mengeluarkannya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
“Boleh aku tanya beberapa hal?” Salman memandang Hilmi dengan tatapan penuh rasa ingin tahu
“Apa?” Sekarang pandangan mereka bertemu. Hilmi melihat wajah Salman yang serius
“Kenapa ingin sekali menemukan gadis itu? Apa akan ada yang berubah jika kau menemukannya? Bagaimana jika itu cuma mimpi, dan gadis itu tidak benar-benar nyata. Bukankah kau sama saja membuang waktumu?” Salman terdiam berharap mendapat jawaban seketika itu juga, ia memandang wajah Hilmi dengan lekat.
Hilmi memalingkan tatapannya dari Salman dan wajahnya menjadi murung seakan ia tidak ingin memberikan jawabannya. Raut wajah Salman berubah kaget sekaligus ia seperti mengerti akan segalanya, segala yang dipikirkan sahabat yang sudah ia kenal selama enam tahun lamanya. Lama menunggu Hilmi tak juga membuka mulutnya, Salman akhirnya memutuskan untuk berdiri dan mengajak Hilmi pulang.
“Gadis itu...” akhirnya sepatah kata keluar dari mulut Hilmi. Salman yang sudah dalam posisi berdiri menoleh kearah Hilmi.
“Aku berpikir dia adalah kunci dari ingatanku yang sampai sekarang masih belum kembali. Entah kenapa, dalam mimpiku aku merasa gadis itu sudah lama aku kenal. Seorang gadis yang hilang dari ingatanku. Dan semua orang berusaha menyembunyikan dia dariku.” Hilmi menghentikan perkataannya sebentar.
“Menyembunyikan? maksudmu mereka tahu tapi tidak memberitahumu?” Silmi kembali duduk untuk mendengarkan penjelasan Hilmi selanjutnya.
“Kecelakaan itu merenggut semua ingatanku. Ingatan tentang diriku, tentang orang tuaku, tentang teman-temanku, tentang keluargaku. Aku sadarkan diri sehari sebelum orang tuaku meninggal. Bahkan saat semua orang menangis karena kepergian mereka, aku bahkan tidak bisa merasakan kesedihan sedikitpun. Semua orang yang datang memelukku dan mengatakan agar aku tabah, mereka juga mengatakannya sambil menangis. Kakakku tidak berhenti menangis hari itu. Karena hal itu aku merasa jadi orang yang benar-benar jahat. Meski mereka bilang, aku belum mengerti apa yang terjadi pada orang tuaku, karena itu aku tidak menangis, sebenarnya itu karena aku sama sekali tidak ingat apapun tentang mereka.” Hilmi menundukkan wajahnya berharap tidak ada yang melihatnya dengan raut wajah seperti itu.
“Tapi kakakmu bilang malam itu ia melihatmu benar-benar menangis.”
“Itu karena aku berpikir itulah yang seharusnya dilakukan seorang anggota keluarga. Aku pikir akan baik-baik saja, saat ingatanku kembali nanti aku akan dengan puas menangis untuk mereka. Menangis karena aku mengingat kenangan bersama mereka. Tapi bahkan setelah satu bulan sehat dan berada dirumah, aku tidak diijinkan keluar rumah oleh kakek yang saat itu merawat kami. Lalu saat kembali kesekolah, semua orang tau kalau aku kehilangan ingatanku sebelum kecelakaan dan mereka bersikap baik, memperkenalkan diri mereka kembali, begitu juga para guru. Bukan hanya itu, seluruh sanak saudara juga begitu. Mereka menceritakan segala hal yang tidak aku ingat.” Hilmi berhenti sejenak dan memandang Salman. “Kau mengerti sekarang, kenapa aku pikir mereka menyembunyikan sesuatu?”
“Maksudmu tidak menunjukkan sikap ingatlah aku tapi yang mereka tunjukkan adalah inilah kau yang sekarang tidak perlu mengingat masalalu karena aku yang akan memberitahukannya.” Wajah Salman sedikit kaget dengan apa yang dikatakannya sendiri. tapi ia melihat Hilmi yang menganggukkan kepala sehingga ia menjadi yakin akan pernyataannya. “Dengan kata lain mereka ingin membiarkan dirimu yang sebelum kecelakaan menghilang dan menjadi dirimu yang baru?” Silmi berhenti dan menundukkan wajahnya “Tapi itu benar-benar kejam. Maksudku, bagaimana bisa mereka semua bersekongkol untuk benar-benar menghilangkan ‘Hilmi sebelum kecelakaan’. Apa ada yang mengatur segalanya?” Sekarang wajah Salman dipenuhi keheranan antara percaya dan tidak percaya.
“Aku selalu ingin bertanya kepada kakak, apa ada sesuatu yang ia sembunyikan. Tapi itu akan melukai hatinya kan? Lagipula aku takut seandainya semua yang aku pikirkan tentang mereka adalah kebenarannya. Tapi semenjak gadis itu muncul di mimpiku, aku mulai mengingat beberapa hal meski itu hanya sekilas dan samar-samar. Aku mulai mengingat bagaimana orang tuaku tersenyum kepadaku. Karena itu aku ingin menemukannya. Gadis itu mungkin adalah kunci ingatanku yang disembunyikan oleh mereka semua.” Pandangan Hilmi berpindah ke langit. Ia melihat langit yang mulai berubah menjadi kemerahan karena matahari sebentar lagi akan terbenam. “Aku akan menemukannya lagi. Sebelum itu, aku akan mempersiapkan pertanyaan.” Senyum kecil terlihat di wajah Hilmi. Sebuah senyum optimis ia bisa mendapatkan kembali ingatannya. Karena ingatan itu adalah dia yang sebenarnya.
“Ngomong-ngomong kenapa kau tau kalau gadis mengambil barang di toko yang salah?” Salman bertanya penasaran. “Hmm… itu karena bibi Ros bilang sedang mencari seorang gadis yang tidak mengambil barangnya karena pergi ke toilet. Begitu melihat seorang gadis dimarahi di toko yang mirip dengan toko bibi Ros aku menyadarinya.” Jelas Hilmi. “Haah… cuma itu? Wah… sepertinya kau berbakat.” Ia bergumam sambil menegakkan badannya dan berdiri.”Barbakat? Berbakat apa?” Tanya Hilmi penasaran. “Berbakat mengejutkan orang lain” Salman tersenyum lebar sambil memamerkan gigi putihnya kemudian mereka berdua tertawa bersama.
--------------------------------------------------------------------------------------- BERSAMBUNG

[Chapter 2] THE LOST MEMORY

CHAPTER 2

I THINK I HAVE FOUND YOU

              Malam itu Hilmi tidak bisa tidur memikirkan apa yang ia lihat siang tadi. Gadis itu pasti dia. Itulah yang ia pikirkan semalaman. “Jika saja gadis kecil yang ada di dalam mimpiku sudah dewasa, pasti sangat mirip seperti gadis yang aku lihat siang tadi.”
            “Oy... Hilmi, Kau baik-baik saja?” panggilan dari Salman kembali membangunkannya dari lamunannya. “ Bukankah sebaiknya istirahat dulu dirumah? Kemarin kau benar-benar membuat khawatir. Jangan pasang wajah seperti itu lagi oke?”
            “Kenapa harus istirahat? aku tidak sakit.” Kata Hilmi dengan tampang datar. “Ayo pergi ke pasar lagi hari ini.”
            “Eh... kenapa? Sebaiknya hari ini langsung pulang saja.” saran Salman
            “Kau mau menemaniku atau tidak? Aku mau mastikan sesuatu.” Hilmi memandang Salman dengan lekat. “Dan saat aku sudah memastikannya, katakan bagaimana pendapatmu.” Wajahnya begitu serius. Ini pertama kalinya ia menunjukkan wajah seperti itu. Sebuah wajah keingintahuan yang luar biasa.
            Mereka pergi menelusuri pasar itu. Meski ramai tapi pedagang tertata dengan rapi. lagi pula tempat itu dari pada dibilang pasar lebih cocok disebut pusat pertokoan. Meski ada berbagai macam pedagang yang menjual berbagai barang, Stand pedagang tertata dengan rapi dan disekelilingnya terdapat pertokoan.
            “Kita sudah satu jam berkeliling, apa yang kau cari sebenarnya?” Salman sudah tampak kehabisan tenaga mengingat hari ini matahari bersinar dengan terik. “Kita benar-benar menghabiskan energi disini huft... Apa sih yang sebenarnya kau cari? “ Badannya sudah membungkuk kehabisan energi. Wajah Hilmi masih tetap bersemangat dan sama sekali tidak berubah meskipun ia sendiri juga sudah kelelahan.
***
            “Kau masih belum membayarnya, kembalikan barang itu jika kau tidak mau membayar.” Seorang paman setengah baya berteriak kepada seorang gadis.
            “Baru saja aku membayarnya, dengan bibi yang ada disini.” gadis itu menunjuk ke sudut toko. “Eh... kemana bibi itu pergi? Aku benar-benar menyerahkan uangnya kepadanya tadi.” wanita itu bersikeras bahwa ia memang sudah membayarnya.
            “Aku disini bejualan sendirian tidak ada pelayan toko yang lain. Kembalikan barangnya jika kau tidak ingin membayar!” pemilik toko menunjukkan wajah marahnya dan membuat gadis itu akhirnya menyerah.
            “Eh... nona, kau disini rupanya, ini barang yang ingin kau beli ditokoku, tadi kau menitipkan belanjaanmu karena ingin ke toilet kan? Kenapa kau ada disini? Untung saja pemuda ini menunjukkan tempatmu. Toko kami berdua memang sangat mirip dari segi tata letak dan barang yang dijual. Bukan hanya kau yang tertukar, kadang orang lain pun juga tertukar.” Bibi itu menjelaskan sambil tersenyum.
            “Jadi ini bukan toko bibi? Kalau begitu aku yang salah.” Wajah kecewa pada diri sendiri tidak dapat disembunyikan oleh gadis itu. “Maaf paman. Aku yang salah” kata itu terlontar sambil menahan malu.
            “Jadi ini pelanggan tokomu? Ya ampun, lagi-lagi terjadi begini. Aku rasa harus merubah tampilan tokoku sedikit. Sebenarnya kejadian seperti ini cukup sering terjadi, apa lagi pada pelanggan baru. Jadi ya tidak apa-apa, hari ini aku maafkan. Lain kali jangan salah lagi nona muda.” paman itu menurunkan nada bicaranya.
            “Terima kasih banyak” gadis itu membalas. “Maaf merepotkan bibi.”
            “Ah, tadi ada anak muda yang memberitahu kau ada dimana, sepertinya ia tahu kau habis berbelanja ditempatku, ia juga bilang kau sedang dimarahi disini gara-gara tidak membayar belanjaan. Aku jadi sadar apa yang terjadi, kenapa kau lama sekali di toilet” Bibi itu menjelaskan sambil tersenyum.
            “Pemuda? dimana dia sekarang?” gadis itu ingin tahu.
            Bibi itu menoleh kebelakang, tapi tidak ada siapapun yang berdiri dibelakangnya. “Tadi dia dibelakangku, kemana dia sekarang?”

--------------------------------------------------------------------------------------------- BERSAMBUNG

[Chapter 1] THE LOST MEMORY

CHAPTER 1

LITTLE GIRL IN THE DREAM

“Tunggu, jangan pergi!”. Terdengar seseorang memanggil dari belakang. Kemudian Hilmi menoleh kebelakang, terlihat seorang gadis keil berambut lurus dan panjang menyodorkan tangan kanannya sambil berlari. “Jangan Pergi!” Hilmi pun hanya diam memandangi gadis itu. Namun entah kenapa meski ia hanya diam sambil menoleh kebelakang, semakin gadis itu berlari mendekatinya, jarak mereka semakin jauh kedepan. Mata Hilmi terbelalak menyadari pandangannya itu. Tanpa disadari ia menyodorkan tangannya berharap bisa meraih gadis kecil itu, tapi gadis kecil yang berlari mendekat itu malah semakin jauh.
“Hilmi! Sampai kapan kau akan tidur? Kau akan terlambat berangkat sekolah!”. Teriakan kakak perempuannya membuatnya sadar bahwa ia baru saja bermimpi. “Iya, beri aku lima menit!” sambil memeluk bantal gulingnya. “ Cepatlah bersiap-siap, sarapan sudah siap” sambil berjalan menuju luar ruangan.
Gadis itu lagi. Siapa dia sebenarnya? Ah, itu kan cuma mimpi, kenapa harus dipikirkan, katanya dalam hati. Ini bukan pertama kali gadis kecil itu ada didalam mimpinya, itulah yang membuatnya memikirkannya.
Hilmi dan kakak perempuannya hanya tinggal berdua saja. Orang tua mereka telah meninggal dunia karena kecelakaan mobil saat Hilmi baru berusia delapan tahun. Saat itu mereka merencanakan liburan ke pantai. Kakaknya tidak bisa ikut karena ada ujian masuk SMP Namun hari itu kecelakaanpun terjadi. Hanya Hilmi yang berhasil selamat dari kecelakaan naas tersebut.
“Apa mimpi yang sama lagi?”. Pertanyaan kakaknya membuatnya terbangun dari lamunannya saat makan. “Hmm...” ia menganggukkan kepalanya. Raut wajah bingung dan khawatirnya tidak bisa ia sembunyikan dari kakaknya. “Apa aku benar-benar tidak pernah memiliki teman perempuan seperti itu sewaktu kecil?” pertanyaan itu terlontar begitu saja karena ia sudah pernah menceritakan ciri-ciri gadis kecil didalam mimpinya itu. Namun kakaknya menggelengkan kepala. “Teman yang selalu kau bawa kerumah selalu laki-laki. jadi aku tidak tau. Kau juga tidak ingat semua wajah teman SD mu kan? Mungkin gadis itu adalah salah-satunya. Mendengar perkataan kakaknya, ia pikir kemungkinan seperti itu selalu ada. Tapi kecelakaan itu menyebabkan ia kehilangan sebagian ingatannya. Ia bisa mengingat semua wajah teman sekolah dasarnya. Namun jika gadis itu sudah pindah sekolah sebelum keelakaan terjadi, maka ia pasti tidak bisa mengingatnya.
“Bagaimana kalau mengecek catatan di SD nya?”. saran Nana.
“Sudah kucoba, tapi tiga tahun yang lalu terjadi kebakaran yang menghanguskan seluruh ruang arsip di sekolah itu. mereka bilang hanya data selama tiga tahun yang berhasil terselamatkan.” ia memberikan penjelasan sambil merapikan piring yang ada diatas meja. “ Kalau begitu aku berangkat kesekolah dulu. Mungkin itu cuma mimpi saja.”
“Iya, jangan terlalu dipikirkan. Fokus saja mengikuti ujian kelulusan” Nana tersenyum lebar untuk menyemangati sang adik.
Namun tidak bisa dipungkiri, mimpi itu menjadi pikirannya selama perjalanan menuju kesekolah. Apa ada sesuatu yang hilang seiring dengan hilangnya ingatannya karena kecelakaan itu? Apa gadis itu benar-benar pernah satu sekolah dengannya, tapi mengapa teman sekelasnya dulu tidak pernah bercerita tentang siswa yang pernah pindah sekolah? Semua pertanyaan itu berputar dikepalanya sampai ia disadarkan dengan seseorang.
“Hoy... Masih pagi begini sudah melamun. Apa yang kau pikirkan?” Salman menepuk bahu sahabat karibnya itu.
Bahu Hilmi terasa sedikit sakit karena pukulan temannya. “Kau benar-benar mengagetkan ku!” Ia setengah berteriak karena marah dan membalas pukulan temannya dengan sebuah jitakan di kepala.
“Sakiittt..... kenapa kau selalu memukul kepalaku.” protes Salman.
“Setidaknya gunakanlah otakmu sedikit” Hilmi memberi saran dengan nada datar
“Masih memikirkan gadis kecil itu? Apa mimpinya semakin sering?”
“Iya, semakin sering sampai itu jadi mengganggu.”
“Mau menyelidiki sekali lagi? mungkin kali ini kita bisa dapat petujuk.” saran Salman. “Kau tau, bagaimana kalau kita bertanya pada teman-teman sekolah dasarmu dulu?”
“Aku sudah menanyakannya ke semua temanku lewat sosial media, tapi tidak ada satupun yang tahu mengenai gadis itu. Jangan-jangan dia hanya ada di dalam khayalanku saja. Seorang gadis kecil yang sebenarnya memang tidak nyata.” Wajah Hilmi terlihat sedikit kecewa mengatakan hal itu.
“Ee.... Apa kau ingin gadis itu benar-benar ada? Kenapa wajahmu jadi kecewa begitu?” Salman meletakkan tasnya diatas meja. Sekarang mereka sudah sampai dikelasnya. Masih ada sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi dan mereka melanjutkan obrolannya. Salman sedikit khawatir melihat sahabatnya itu. Mereka sudah berteman semenjak SMP hingga sekarang hampir lulus SMA.
“Dulu setelah kecelakaan, dokter bilang aku bisa mendapatkan kembali ingatan yang hilang itu secara bertahap. Tapi ini sudah hampir sembilan tahun. Tidak ada satupun yang aku ingat. Hanya bagian samar-samar tentang kedua orang tuaku. Meski kakak sering bercerita mengenai mereka, tapi aku ingin mengingat mereka sendiri.” Wajah Hilmi menoleh kelangit. letak tempat duduknya yang dekat dengan jendela memudahkannya melihat keluar ruangan. Ia memandang langit yang biru cerah diluar jendela dan mulutnya bergumam “Hari ini langit terlihat begitu tinggi”
***
“Aahhh.... aku tidak menyangka hari ini ulangan Matematika mendadak.” Pak Yudi bernar-banar kejam.” Wajah Salma menunjukkan seakan ia orang paling menderita sedunia. Kepalanya terus saja menunduk sepanjang jalan pulang.
“Semangat-semangat....” kata Hilmi sambil tersenyum. “Sesekali harus ada kejutan supaya hidup tidak membosankan kan?” Senyumnya semakin lebar. Ia mengatakannya tanpa tahu kejutan apa yang akan ia alami sebentar lagi.
“Buat orang jenius sepertimu, itu memang tidak masalah. Semalaman aku mengerjakan script buat ekskul teater . Huft.... padahal deadlinenya diundur. Arrrgghh... harusnya belajar matematika saja tadi malam.” Wajah Salman semakin cemberut. “Ayo mampir ke pasar sebentar, aku ingin membeli perlengkapan untuk pertunjukkan teater minggu depan. Kau tidak ada acara lain lagi kan?”
“Baiklah.” Hilmi menerima ajakan itu begitu saja. “Hari ini traktir makan bakso ya!, sebagi ganti telah menemanimu hehe....” Hilmi tersenyum puas.
Wajah Salman terlihat kaget lalu ia menghela napas panjang. “Oke Oke...”.
Begitu Salman menoleh ke arah Hilmi, ia tidak ada disampingnya. Hilmi tertinggal dibelakang “ Oy...” teriak Salman. Namun Hilmi tidak mendengarkan. Wajahnya berubah pucat, pandangannya terpaku ke depan. Salman yang khawatir dengan sahabatnya mendekatinya. “Oy... kau baik-baik saja? kenapa kau seperti melihat hantu begitu?” Tidak ada respon dari Hilmi sampai Salman menggoyang bahu Hilmi.
Pandangan Hilmi kembali namun kini wajahnya dipenuhi keringat. Ia memegang dahinya dengan telapak tangannya. “Aku pasti sudah gila” gumamnya.
Salman yang sangat khawatir langsung menanyakan kondisinya. “Kau baik-baik saja? Apa kau sakit? Sebaiknya kita pulang saja kalau begini. Ayo, kita pulang saja.” Salman menarik lengan Hilmi melewati pasar.
-------------------------------------------------------------------------------------------BERSAMBUNG

Selasa, 28 April 2015

Format RPP K-13

Contoh Format RPP Kurikulum 2013 Berdasarkan Lampiran Permendikbud No 103 2014 - Kegiatan pembelajaran K13


Download FILE PDF nya DISINI

Semoga Bermanfaat ^_^

Senin, 27 April 2015

[Curhat] God's Quiz Seasons

God's Quiz adalah Drama Seri dari OCN bergenre Medical, Thriller, Mysteri.
God's Quiz bercerita tentang Medical Forensic Team / Tim Forensik Medis, kalo di Indonesia Tim Otopsi mayat. Dari hasil otopsi, tim forensic bersama detektif menemukan pelakunya. Tapi tim Forensik yang satu ini berbeda dengan tim Forensik lain. Tim Forensik dari rumah sakit Hanguk ini khusus menyelidiki penyakit-penyakit langka. Menurut saya ini adalah daya teri tersendiri dari drama ini.
Nonton drama ini saya jadi berpikir, ternyata masi banyak hal yang belum saya ketahui. Dari seluruh medical drama yang saya tonton, yang ini benar-benar unik, bukan hanya tentang bedah jantung atau bedah syaraf yang sering menjadi pusat dari medical drama. Drama ini menyajikan sesuatu yang baru yang hanya sedikit orang mengetahuinya. terutama penyakit langkanya yang bikin kita bilang "WOW Ternyata ada ya yang seperti itu"
Tokoh utamanya dari season 1 sampai season 4 masih sama Dr. Han Jin Woo (Ryu Duk Hwan). Dokter Han ini punya karakter yang unik. Sebagai dokter yang super jenius dia punya karakter yang kocak haha... Orangnya jarang serius kecuali kalau sudah berkaitan sama kasus kriminal.

Setelah absen selama 2 tahun. Akhirnya God's Quiz Season 4 muncul dengan melanjutkan Season ke 3 nya yang tayang Mei 2012 lalu. bagi yang belum nonton Season 1, 2 dan 3 nya, maka saya merekomendasikan drama ini.

Drama ini saya tonton mulai dari season 3 haha... intinya saya nonton ga berurutan. Karena season 3 - nya yang menarik jadi pinginnonton season 2 nya....
Akhirnya di ontonlah season 2. Dan ternyata season 2 nya juga menarik. Akhirnya timbul rasa ingin tahu dari mana kisah ini berawal. Akhirnya saya tonton lah season 1 - Awal dari segalanya-

Dari season 1, 2 dan 3 yang paling berkesan adalah season 3.