CHAPTER
9
SLIGHT
MEMORY
Sejak pertemuannya dengan Diana, Hilmi sadar dia tidak
pernah memimpikan gadis kecil itu lagi. Namun malam itu, mimpi yang lebih buruk
muncul. Ia bahkan tidak pernah terpikir akan memimpikan hal semacam itu.
Dalam mimpinya, ia masih diusia sekolah dasar.Ia berada di dalam mobil, wajahnya sangat
gembira, ia tertawa bersama ayah dan ibunya,mendengar lelucon yang dilontarkan
oleh ayahnya. Gadis kecil itu jga tertawa bersama mereka. Lalu tiba-tiba
suasana menjadi sunyi senyap. Semuanya berhenti tertawa. Lalu ia mendengar
ayahnya berkata dengan suara yang sangat pelan. “Maafkan kami, Hilmi.” Setelah
mengatakannya, ayahnya menekan salah satu tombol yang ada di sebelah kemudinya.
Seketika itu juga pintu mobil terbuka padahal mobil sedang melaju dengan
kencang melewati jalan pegunungan. Ia menoleh ke arah pintu keluar, wajahnya
berubah menjadi pucat. Seketika itu juga ia menoleh balik kearah gadis kecil di
sampingnya namun gadis itu mendorongnya hingga tubuhnya terlempar ke luar
mobil.
“Hilmi, hilmi! Bangun!” Suara itu perlahan membawanya menuju
kesadarannya. Ia perlahan membuka matanya dan merasakan tubuhnya yang basah
dengan keringat. “Kau baik-baik saja? Apa kau bermimpi buruk?” Mendengar suara
itu ia akhirnya kembali ke kesadarannya yang seutuhnya. Ia melihat wajah
khawatir kakaknya. Dan mencoba mengangkat tubuhnya untuk bangun.
“Kakak? Kau bilang tidak pulang ke rumah?” Tanya Hilmi
heran.
“Ah, Pekerjaannku selesai jam dua pagi, tapi aku
memutuskan untuk pulang. Kalau tidak, siapa yang akan menyiapkan sarapanmu?”
Penjelasan ringan itu tidak bisa sepenuhnya di terima oleh Hilmi. Namun ia
tidak bisa lanjut bertanya apa lagi mengenai perkerjaan kakaknya. Ia sudah
diperingatkan untuk tidak bertanya oleh kakaknya. Namun kakaknya sudah menjamin
itu bukan pekerjaan berbahaya ataupun pekerjaan yang haram. “Aku sudah selesai
menyiapkan sarapan, segeralah mandi dan berpakaian kemudian sarapan.” Hilmi
melihat kakaknya menuju pintu kamar sambil mengatakannya.
“Lain kali tidak perlu pulang kalau sudah lewat tengah
malam. Kakak itu masih seorang perempuan. Tidak perlu mengkhawatirkan hal
sepele seperti sarapan pagi.” Setelah mengatakannya Hilmi bangkit dari tempat
tidurnya, mengambil handuk dan berjalan menuju kamar mandi melewati kakaknya
yang tidak bergerak setelah mendengar ucapan Hilmi.
Sebelum
tiba di kamar mandi ia ingat shampoo yang baru dibelinya tertinggal di kamar.
Sebelum sempat membuka pintu kamarnya ia mendengar seorang terisak dan menangis
cukup kencang. Hilmi menghentikan langkahnya, ia tidak tau harus berbuat apa di
depan kakaknya. Ini bukan pertama kalinya ia mendengar kakaknya mengangis
sendirian. Namun setiap kali bertanya kakaknya hanya berkata “Aku hanya sedikit
lelah. Jangan khawatir.” Sambil tersenyum dan mengusap air matanya. Berpikir
jawabannya akan sama jika ia bertanya, Hilmi memutuskan untuk berbalik menuju
kamar mandi tanpa mengambil samponya. Hari itu suasana sarapan pagi jadi terasa
canggung bagi Hilmi. Pada akhirnya ia memilih untuk diam menghabiskan
makanannya dan pergi ke sekolah.
***
“Hilmi, bisa bicara sebentar? Berdua saja.” Tanya Diana.
Jam istirahat itu seharusnya dihabiskan untuk mengisi kembali energinya yang
telah dipakai untuk belajar. Hilmi sedikit terkejut dengan ajakan Diana.
Pasalnya, kemarin mereka sama sekali tidak bisa berbicara. Dan Hilmi tidak
menyangka Diana lebih dahulu mengajaknya bicara.
“Oke” Hilmi berdiri dari kursinya.
“Oy,
kau mau meninggalkanku makan sendirian?” Tanya Salman sedikit kesal.
“Maaf,
sebentar saja. Duluan saja ke kantin, nanti aku menyusul.” Hilmi menepuk pundak
Salman sambil tersenyum.
“Huuufth,
apa boleh buat, jangan lama-lama ya!” Salman bangkit dan benjalan menuju kantin
sedangkan Hilmi mengikuti langkah Diana.
Mereka
berjalan tanpa sepatah katapun terlontar. Hingga akhirnya Diana menghentikan
langkah kakinya di taman belakang gedung sekolah. Ia membalikkan badannya dan
tersenyum dengan lebar. Sebuah kata keluar dari mulutnya. Ia menyebutkan nama
seseorang yang membuat Hilmi benar-benar terkejut. Seluruh tubuhnya gemetar
mengungkapkan perasaan takut yang amat besar.
Sebuah
ingatan terlintas dalam benaknya. Ia melihat sebuah nametag bertuliskan “Dr. Reinhard” kemudian pandangannya tertuju
pada wajah pemilik nametag itu namun sefokus apapun ia ingin melihat wajah itu
dengan jelas, seakan ada sebuah dinding besar yang tidak tertembus dalam
ingatannya sehingga wajah itu hanya terlihat buram. Kakinya tak sanggup menahan
luapan emosi yangtiba-tiba saja keluar setelah mendengar nama itu. Hilmi
akhirnya jatuh terduduk sambil memegangi kepalanya yang terasa nyeri tak
terkira. Namun demikian ia berusahan untuk tetap menjaga kesadarannya. “Kalau aku hilang kesadaran saat ini, maka
tidak ada lagi kesempatan kedua untuk menjaga ingatan yang akhirnya kembali.
Tidak ada jaminan setelah kembali sadar ingatan ini tetap ada dan tidak
menghilang lagi” – pikirnya.
Diana
duduk di depan Hilmi, melihatnya dengan pandangan mengejek. “Bukankah ini yang
selama ini kau mau? Ingatanmu, kau ingin semuanya kembali, iya kan?” Ia
mengulurkan tangannya. Telapak tangannya menyentuh pipi Hilmi yang penuh dengan
keringat karena menahan sakit dikepalanya. “Hilmi, aku akan membantumu
mengembalikan semuanya. Ingatan bahagia… Ingatan menyedihkan… bahkan ingatan
menakutkan yang ingin kau kubur selamanya.” Diana tersenyum kemudian berdiri. “Untuk
hari ini sepertinya sudah cukup. Jiwamu mungkin tidak akan sanggup jika ada
ingatan yang terbuka selanjutnya. Istirahatlah sebentar sampai kondisimu
kembali seperti semula. Mereka bilang jika tiba-tiba ingatan yang hilang
kembali seluruhnya, bisa terjadi kerusakan otak atau malah kau akan mengubur
ingatan itu lebih dalam lagi. Besok kita akan bertemu lagi di tempat yang
berbeda, aku akan beritahu lokasinya.” Ia berbalik dan pergi.
“Tu…
tunggu” Suara paraunya tidak bisa menjangkau Diana. Hilmi berharap bisa
mendengar lebih banyak tapi sepertinya Diana tidak ingin menjelaskan apapun.
===========================================================
Selamat membaca Minnasan ...... ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar