Jumat, 06 Mei 2016

THE LOST MEMORY - CHAPTER 8

CHAPTER 8
ARGUING
            Pagi itu sarapan sudah terhidang di atas meja makan. Meja makan itu cukup lebar untuk menampung sepuluh orang.
            “Apa Diana belum bangun?” tanya Profesor Widianto yang juga ayah Diana kepada salah kepala pelayang yang berdiri di samping ayahnya.
            “Dia sudah berangkat” jawab kakek Diana sambil menyantap beberapa roti isi di hadapannya.
            “Pagi-pagi sudah berangkat ke mana? Dia bahkan melewatkan sarapan.” Tanya Profesor Widianto kepada ayanya. “Kau pikir kemana perginya anak tujuh belas tahun setiap pagi? Dia sudah pergi ke sekolah, aku sudah mendaftarkannya ke sekolah barunya kemarin lusa.” Jawab Kakek Diana. “Ayah mendaftarkannya kemana?” Saat menanyakannya wajah Profesor terlihat sangat cemas. “Dimana lagi? Tentu saja sekolah yang paling dekat dari sini. Itu akan jauh lebih aman kan?” jawab Kakek Diana.
            Brakk.. Profesor memukul meja makan di hadapannya seraya bangkit dari kursinya untuk melampiaskan kekesalannya. Ia menatap ayahnya dengan pandangan tajam. “Apa yang kau lakukan?” Teriak ayahnya kesal.  Profesor meninggikan nada bicaranya. “Kau tau itu lebih mmbahayakan Diana?” Tanya Profesor. “Bagaimana kalau mereka tau jika kedua anak itu satu sekolah? Diana akan dalam bahaya!” Profesor menggertakkan giginya. Ia benar-benar dikuasai oleh kemarahan.
            “Sudah cukup” Kakek Diana merendahkan suaranya untuk meredakan amarah anaknya itu. “Sudah saatnya kita menyerahkan semuanya pada mereka. Kita sudah terlalu lama melindungi mereka tanpa tau bahwa kita sebenarnya sudah menyakiti mereka.” Kakek Diana bangkit dari kursinya dan menuju ke depan jendela. “Kita hanya bisa berusaha sampai disini. Mereka harus menerima takdir mereka dan menghadapinya apapun yang terjadi. Kalau tidak permasalahan ini tidak akan pernah selesai.” Kata-kata itu terucap oleh Kakek Diana sambil memandangi langit biru di luar jendela.
            “Apa maksudmu, Diana tidak tahu apapun tentang itu. Dan aku tidak akan pernah membiarkannya tahu.” Perkataan anaknya itu membuat Kakek Diana terejut. “Sebagai seorang ayah aku tidak bisa membiarkan putriku dalam bahaya. Dan berhubungan dengan Hilmi akan membuatnya dalam keadaan bahaya. Ayah tau selama ini mereka selalu mengawasi Hilmi? Mereka benar-benar waspada dengan kembalinya ingatan bocah itu. Diana akan dalam bahaya jika ia bersama bocah itu saat ingatannya kembali. Aku sudah mengatakannya berkali-kali untuk tidak menemui bocah itu lagi meski aku tidak pernah memberitahu alasannya. Aku bahkan mengirimnya ke luar negeri. Semua itu untuk membuatnya aman. Tapi, setelah apa yang aku lakukan, kenapa ayah malah mengirimnya ke sekolah itu?” Profesor menaikkan nada bicaranya pada kalimat terakhirnya.
            “Berapa lama lagi kita harus menutup mata?” Kakek Diana membalikkan padannya menghadap anaknya yang dipenuhi dengan amarah. “Selama ini mereka selalu hidup dalam kebohongan. Anak laki-laki itu, kita berperan besar merekayasa masa lalunya, kita sudah membuang kenangan berharganya. Lalu Diana, kita sudah memisahkannya dari orang yang disayanginya, teman pertama yang ia dapatkan setelah bersusah payah. Aku mengerti rasa sakitnya karena aku menjaganya setiap hari dan selalu mendengarkan ceritanya. Kemarin kau bahkan terkejut ketika Diana berteriak padamu kan? Tapi itulah dirinya yang sebenarnya. Di depanmu dia berusaha mennjaga sikap dan emosinya karena ia menghormati dan menyayangimu. Karena ia yang paling tau penderitaanmu saat ibunya meninggal dunia.” Ucapannya terhenti ketika telepon genggam Professor berdering di saku celananya. Ia melihat wajah anaknya tertunduk memikirkan perkataannya hingga ia tak menyadari bunyi telepon genggamnya sendiri. “Teleponmu bordering, cepat angkat! Mungkin itu panggilan yang penting.” Berkat perkataan ayahnya, Professor menyadari suara handphonenya lalu ia mengangkatnya. Tak lama berbicara ia menutup telponnya. “Aku harus berangkat sekarang.”
Kata Profesor sambil meletakkan kembali handphone di saku celananya. Ayahnya mengangguk dengan senyum di wajahnya. Kemudian Profesor mengambbil tas nya dan berjalan pergi.
“Ah…” Suara ayahnya membuat langkahnya terhenti dan berbalik. “Aku sudah menceritakan semuanya pada Diana, dan dia cukup mengerti keadaannya. Dia tidak akan bertindak gegabah. Dia itu pintar dan kuat. Aku juga akan melindunginya dari belakang. Jadi kau tidak perlu khawatir.” Mendengar ucapan ayahnya Profesor terkejut lalu mendesah. “Aku mengerti. Kita bicarakan lagi nanti. Untuk saat ini aku akan melihat dulu perkembangannya.” Kemudian Profesor berlalu pergi.

Saat itu pria tua berumur tujuh puluh empat tahun itu merasa memenangkan adu argumentasi ini. Ia juga sudah memikirkan banyak hal hingga mengambil keputusan ini pikirnya. 

================================================================
Akhirnya bisa di post juga... ^_^
Sorry for long waiting....
Selamat membaca....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar