CHAPTER 8
ARGUING
Pagi itu
sarapan sudah terhidang di atas meja makan. Meja makan itu cukup lebar untuk menampung
sepuluh orang.
“Apa Diana
belum bangun?” tanya Profesor Widianto yang juga ayah Diana kepada salah kepala
pelayang yang berdiri di samping ayahnya.
“Dia sudah
berangkat” jawab kakek Diana sambil menyantap beberapa roti isi di hadapannya.
“Pagi-pagi
sudah berangkat ke mana? Dia bahkan melewatkan sarapan.” Tanya Profesor
Widianto kepada ayanya.
“Kau pikir kemana perginya anak tujuh belas
tahun setiap pagi? Dia sudah pergi ke sekolah, aku sudah mendaftarkannya ke
sekolah barunya kemarin lusa.” Jawab Kakek Diana. “Ayah mendaftarkannya
kemana?” Saat menanyakannya wajah Profesor terlihat sangat cemas. “Dimana lagi?
Tentu saja sekolah yang paling dekat dari sini. Itu akan jauh lebih aman kan?”
jawab Kakek Diana.
Brakk..
Profesor memukul meja makan di hadapannya seraya bangkit dari kursinya untuk
melampiaskan kekesalannya. Ia menatap ayahnya dengan pandangan tajam. “Apa yang
kau lakukan?” Teriak ayahnya kesal. Profesor
meninggikan nada bicaranya. “Kau tau itu lebih mmbahayakan Diana?” Tanya
Profesor. “Bagaimana kalau mereka tau jika kedua anak itu satu sekolah? Diana
akan dalam bahaya!” Profesor menggertakkan giginya. Ia benar-benar dikuasai
oleh kemarahan.
“Sudah cukup” Kakek Diana merendahkan suaranya untuk
meredakan amarah anaknya itu. “Sudah saatnya kita menyerahkan semuanya pada
mereka. Kita sudah terlalu lama melindungi mereka tanpa tau bahwa kita
sebenarnya sudah menyakiti mereka.” Kakek Diana bangkit dari kursinya dan
menuju ke depan jendela. “Kita hanya bisa berusaha sampai disini. Mereka harus
menerima takdir mereka dan menghadapinya apapun yang terjadi. Kalau tidak
permasalahan ini tidak akan pernah selesai.” Kata-kata itu terucap oleh Kakek
Diana sambil memandangi langit biru di luar jendela.
“Apa maksudmu, Diana tidak tahu apapun tentang itu. Dan
aku tidak akan pernah membiarkannya tahu.” Perkataan anaknya itu membuat Kakek
Diana terejut. “Sebagai seorang ayah aku tidak bisa membiarkan putriku dalam
bahaya. Dan berhubungan dengan Hilmi akan membuatnya dalam keadaan bahaya. Ayah
tau selama ini mereka selalu mengawasi Hilmi? Mereka benar-benar waspada dengan
kembalinya ingatan bocah itu. Diana akan dalam bahaya jika ia bersama bocah itu
saat ingatannya kembali. Aku sudah mengatakannya berkali-kali untuk tidak
menemui bocah itu lagi meski aku tidak pernah memberitahu alasannya. Aku bahkan
mengirimnya ke luar negeri. Semua itu untuk membuatnya aman. Tapi, setelah apa
yang aku lakukan, kenapa ayah malah mengirimnya ke sekolah itu?” Profesor
menaikkan nada bicaranya pada kalimat terakhirnya.
“Berapa lama lagi kita harus menutup mata?” Kakek Diana
membalikkan padannya menghadap anaknya yang dipenuhi dengan amarah. “Selama ini
mereka selalu hidup dalam kebohongan. Anak laki-laki itu, kita berperan besar
merekayasa masa lalunya, kita sudah membuang kenangan berharganya. Lalu Diana,
kita sudah memisahkannya dari orang yang disayanginya, teman pertama yang ia
dapatkan setelah bersusah payah. Aku mengerti rasa sakitnya karena aku
menjaganya setiap hari dan selalu mendengarkan ceritanya. Kemarin kau bahkan
terkejut ketika Diana berteriak padamu kan? Tapi itulah dirinya yang
sebenarnya. Di depanmu dia berusaha mennjaga sikap dan emosinya karena ia
menghormati dan menyayangimu. Karena ia yang paling tau penderitaanmu saat
ibunya meninggal dunia.” Ucapannya terhenti ketika telepon genggam Professor
berdering di saku celananya. Ia melihat wajah anaknya tertunduk memikirkan
perkataannya hingga ia tak menyadari bunyi telepon genggamnya sendiri.
“Teleponmu bordering, cepat angkat! Mungkin itu panggilan yang penting.” Berkat
perkataan ayahnya, Professor menyadari suara handphonenya lalu ia
mengangkatnya. Tak lama berbicara ia menutup telponnya. “Aku harus berangkat
sekarang.”
Kata Profesor sambil
meletakkan kembali handphone di saku celananya. Ayahnya mengangguk dengan
senyum di wajahnya. Kemudian Profesor mengambbil tas nya dan berjalan pergi.
“Ah…”
Suara ayahnya membuat langkahnya terhenti dan berbalik. “Aku sudah menceritakan
semuanya pada Diana, dan dia cukup mengerti keadaannya. Dia tidak akan
bertindak gegabah. Dia itu pintar dan kuat. Aku juga akan melindunginya dari
belakang. Jadi kau tidak perlu khawatir.” Mendengar ucapan ayahnya Profesor
terkejut lalu mendesah. “Aku mengerti. Kita bicarakan lagi nanti. Untuk saat
ini aku akan melihat dulu perkembangannya.” Kemudian Profesor berlalu pergi.
Saat
itu pria tua berumur tujuh puluh empat tahun itu merasa memenangkan adu
argumentasi ini. Ia juga sudah memikirkan banyak hal hingga mengambil keputusan
ini pikirnya.
================================================================
Akhirnya bisa di post juga... ^_^
Sorry for long waiting....
Selamat membaca....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar