Minggu, 14 Februari 2016

THE LOST MEMORY - CHAPTER 6

CHAPTER 6
DIANA
            Diana bersama keenam bodyguard nya akhirnya tiba di rumah. Rumah itu memiliki pagar yang jauh dari pintu masuk rumahnya. Halaman rumah yang sangat luas itu dikelilingi oleh rerumputan dan bunga-bunga yang tertata rapi. Terdapat air mancur di tengah-tengah halaman rumah. Pintu pagar dibuka oleh satpam kemudian dua mobil masuk kedalamnya. Di depan pintu masuk Diana disambut dengan beberapa pelayan rumah dan kepala pelayan berdiri di tengah-tengah. Pria berumur enam puluh tahunan itu menyambut Diana dengan ucapan selamat datang. Diana membalas dengan senyum.
            “Tuan besar sudah menunggu anda di ruang keluarga, ia ingin langsung menemui anda.” Diana berjalan menuju ruang keluarga dan melihat ayahnya sedang duduk santai menekan-nekan tombol remot TV. Rasa rindu yang dirasakan Diana selama sebulan terakhir akhirnya bisa terbalaskan. Ia melingkarkan tangannya di pundak ayahnya dan memejamkan matanya, merasakan kehangatan tubuh ayah yang sangat ia sayangi.
            “Kau sudah kembali?” kata ayah Diana yang masih menekan-nekan remot TV.
            “Mmm..” Diana mengangguk. “Aku merindukan Ayah” Diana mempererat pelukannya.
            “Kalau merindukan ayah kenapa tidak langsung kembali ke rumah setelah sampai di Jakarta? Kau bahkan membuat masalah sampai dibawa ke kantor polisi.” Mendengar perkataan ayahnya, Diana kaget, membuka matanya dan melepaskan pelukan ayahnya.
            “Bagaimana kau bisa sampai berurusan dengan polisi?” Ayah Diana mengatakannya dengan wajah datar. Raut wajah Diana berubah menjadi sedih. Entah apa yang membuatnya ingin menangis. Namun ia tahu bahwa sangat mengkhawatirkannya. Mengingat hak itu Diana berusaha tetap tersenyum.
            “Mmm” Diana mengangguk mengiyakan perkataan ayahnya. “Aku sedikit membuat masalah. Ayah mau dengar ceritaku?” Diana berjalan ke depan sofa dan duduk di samping ayahnya. “Saat tiba dibandara aku menerima telepon dari Azura, ia bilang butuh bantuan. Saat itu suaranya gemetaran dan aku tahu terjadi sesuatu yang buruk. Akhirnya aku datang kerumahnya. Di sana tidak ada seorangpun kecuali Azura, saat aku memasuki rumahnya, rumahnya berantakan tidak karuan. Azura saat hanya duduk di pojok rumahnya, wajahnya pucat dan gemetaran. Aku menunggunya tenang dan akirnya ia menceritakan segalanya.” Jelas Diana
            “Apa yang dikatakannya?” tanya ayahnya.
            “Ia melihat seseorang mengobrak-abrik seisi rumahnya, mereka sepertinya mencari sesuatu. Diana hanya melihat dari luar jendela, orang-orang itu untungnya tidak melihat Diana, malam itu Azura keluar sebentar menuju minimarket dan saat sampai dirumahnya ia melihat semua kejadian itu. Kami langsung melapor polisi dan harus mengikuti serangkian interogasi. Orang tuanya baru bisa kembali besok sorenya. Karena itu aku menemaninya sampai orang tuanya kembali.” Jelas Diana.
            “Tapi ayah, ada yang aneh.” Lanjut Diana. “Tak ada satupun barang dirumahnya yang hilang, sepertinya mereka bukan pencuri biasa yang mengincar uang atau perhiasan. Mungkin mereka punya tu—“ Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Diana melihat ayahnya meletakkan remot TV di atas meja dan berdiri.
            “Jangan terlalu banyak ikut campur masalah orang lain, berapa kali aku haus mengatakannya padamu?” Saat mendengar ucapan itu, Diana melihat wajah ayahnya yang berubah menjadi sangat serius. “Sebaiknya kau istirahat” saran ayahnya sambil berpaling menjauh darisofa dan berjalan menuju ruang kerjanya. Genggaman tangan Diana semakin kencang menahan rasa marahnya namun rasa marah itu sudah mencapai titik di mana ia tidak dapat menahannya lagi. Kepalanya tertunduk, air matanya menetes, ia mengigit bibirnya.
            “AZURA...—“ Ia berteriak hingga seisi rumah mendengarnya, ayahnya berhenti. “Azura adalah sahabat yang selalu bersamaku bahkan saat ayah dan ibu tidak pernah sedikitpun peduli padaku. Bagaimana bisa ayah bilang tidak perlu ikut campur saat ia sedang dalam masalah? Saat aku melihatnya duduk gemetaran di pojok ruangan, aku teringat diriku yang dulu. Aku yang tidak berdaya dan tidak ada seorangpun di sana yang bisa aku minta pertolongan.” Air matanya semakin deras menetes, Diana berusaha mengontrol emosinya dan melanjutkan ucapannya. “Bahkan ayah dan ibu.” Ucapan itu dilanjutkan dengan suara yang jauh lebih pelan seakan ia ingin ayahnya tidak mendengarnya namun ia juga ingin ayahnya mendengarnya.
Diana bangkit dari sofa dan berlari menuju kamarnya. Ia membanting pintu dan melemparkan diri ke tempat tidurnya. Tangisannya ia lanjutkan hingga seluruh perasaannya terluapkan. Saat emosinya mulai stabil ia mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya. Diana bahkan terlalu malas untuk bergerak saat itu.
“Kau sudah tenang? Besok pagi aku ingin melihat wajah cucuku yang ceria seperti biasanya, jadi malam ini kau bisa menangis sepuasnya.” Ucapan kakeknya membuat Diana ingin menangis lebih lama namun ia begitu lelah hingga tak lama ia tertidur.
==================================================================
BERSAMBUNG

Chapter 6 ini kisahnya lebih panjang, untuk perkenalan siapa Diana dan bagaiman wataknya saya rasa chapter 6 sudah mewakili.
Penulis akan hiatus lagi selama dua minggu karena harus menyelesaikan tugas kuliahnya dan tugas pekerjaannya....
Bearti Update chapter 7 mungkin sekitar tanggal 28 Februari....
Mohon maaf apabila ada salah pengetikan dalam ceritanya.
Terima kasih buat yang sudah menyempatkan diri membaca... ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar