SENANDUNG
HUJAN
Oleh : Tyas
Hari
itu langit cerah tertutupi awan abu-abu kelam. Tetesan air sedikit demi sedikit
jatuh menetes lama kelamaan semakin deras.
Mendengar suara tetesan air hujan yang semakin lama semakin deras,
seorang gadis kecil langsung beranjak dari tempat tidurnya dengan kakinya yang
lemah. Dilihatnya keluar jendela, hujan begitu deras hingga seluruh pemandangan
di luar jendela tertutup kabut putih. Ia mencondongkan badannya agar lebih
dekat ke kaca jendela dan melirik ke kanan dan ke kiri. Mulutnya tersenyum
lebar ketika ia melihat seorang anak laki-laki berdiri di depan gerbang
rumahnya dan melambaikan tangannya. Anak laki-laki itu tersenyum hingga gigi
putihnya terlihat jelas. “Syifa...!” Teriaknya.
Syifa yang melihat dari balik jendela hanya bisa membaca mimik wajah laki-laki
itu namun ia tahu bahwa namanya sedang diteriakkan. Syifa membalas dengan
melambaikan tangan dan tersenyum lebar.
Syifa
mendengar seseorang membuka pintu kamarnya. “Syifa, sudah waktunya minum obat.”
Seorang wanita paruh baya menengok ke kanan dan ke kiri untuk mencari gadis
kecil yang disayanginya itu. Akhirnya ia menemukan Syifa sedang berdiri di
depan jendela. “Syifa! Sudah ibu bilang jangan terlalu banyak bergerak dulu,
nanti bekas operasinya terbuka.” Wanita itu menuntun anaknya kembali ke tempat
tidur. Dengan wajah kecewa, Syifa mengikuti ibunya ke tempat tidur. Syifa
kemudian meminum obat yang diberikan oleh ibunya.
“Mama,
dia datang lagi.” Syifa memberitahu ibunya dengan senyum mengembang di
wajahnya. “Anak
laki-laki itu?” tanya wanita itu kepada anaknya. Melihat Syifa mengangguk
dengan antusias, wanita itu juga ikut tersenyum. “Syifa ingin bicara
dengannya?” Tanya
ibunya.“Iya, aku mau. Boleh?” Tanya
Syifa dengan polosnya. “Kalau
dia datang lagi, panggil mama. Mama akan suruh dia masuk agar Syifa bisa
menemuinya. Oke?” Ucap
wanita itu sambil tersenyum. Syifa mengangguk mendengar ucapan ibunya.
“Sekarang Syifa istirahat dulu supaya besok wajah Syifa tidak pucat saat
bertemu dia.” Wanita itu kemudian membaringkan anaknya di tempat tidur dan menyelimutinya
kemudian ia keluar. Syifa yang masih penasaran dengan anak laki-laki itu
akhirnya bangun dari tempat tidurnya dan kembali ke jendela namun anak
laki-laki itu sudah pergi.
“Mama, kenapa tidak
juga turun hujan? Syifa ingin melihatnya.” Syifa hanya bisa menangis di atas
tempat tidurnya. Ia melampiaskan kekecewaannya karena hujan tak kunjung datang
selama satu minggu itu. Keesokan harinya, awan mendung terlihat menyelimuti
langit dan siang itu hujan turun seakan menjawab do’a Syifa. Syifa terperanjat
mendengar tetesan hujan. Matanya berbinar dan senyumnya mengembang. Ia berlari
mendekati jendela menunggu seseorang datang. Lima menit, sepuluh menit, lima
belas menit, tiga puluh menit Syifa menunggu tak ada seorangpun yang muncul.
Hujan berikutnya Syifa melakukan hal yang sama. Menunggu dan terus menunggu
hingga hujan reda namun anak laki-laki yang ditunggunya tak kunjung datang.
Hari itu Syifa menangis sekeras-kerasnya. Kesempatannya memiliki teman pertama
kali dalam hidupnya hilang begitu saja.
***
“Syifa...!” Seseorang berteriak memanggil
namanya. Ia menoleh, di belakangnya seseorang berlari menuju kearahnya kemudian
merangkul pundaknya. “Hari rabu nanti ayo pergi ke karaoke sama-sama” Alisa mengajak
Syifa dengan penuh semangat. Syifa
membalik badannya dan melekatkan kedua telapak tangannya di depan Alisa. “Maaf,
hari rabu ada jadwal checkup jadi gak bisa ikut.” Ujar Syifa. “Ah... gak kenapa napa kalau gitu,
mungkin lain kali.” Alisa menepuk kedua pundak Syifa dengan kedua tangannya.
“Aku duluan ya, sebentar lagi kelas olahraga akan dimulai, jadi harus ganti
pakaian dulu.” Alisa berlari melewati Syifa menuju ruang ganti.
Syifa duduk di bawah
pohon di pinggir lapangan. Ia melihat anak-anak yang lain berolahraga dan
bersenang-senang. “Selalu saja begini setiap hari.” Syifa menghela napas
panjang. Dalam hatinya ia ingin sekali bergabung dengan mereka. “Kapan aku bisa
berlarian seperti mereka?” Gumam
Syifa.
“Waah... Di sini sejuk
sekali. Sepertinya enak duduk di sini.” Seorang laki-laki tiba-tiba duduk di
sebelah Syifa. Setelah melihat wajahnya, ternyata dia adalah siswa pindahan di
kelasnya yang baru saja masuk hari ini. Namanya Fauzan, ia siswa pindahan dari
Bandung. “Ah... Tadi pagi kakiku terkilir, jadi aku minta izin untuk gak ikut
olahraga.” Fauzan tersenyum sambil menggaruk belakang kepalanya. “Gak nanya.” Balas Syifa dingin. Mendengar balasan Syifa, Fauzan
hanya tertawa.
“Syifa gak kesepian?”
Tanya Fauzan. Melihat Syifa kaget dengan pertanyaan seperti itu Fauzan
memalingkan pandangannya dan langsung menambahkan kalimatnya. “Ah, Aku dengar
Syifa gak pernah ikut pelajaran olahraga dan selalu duduk di sini sendirian, di
kelas juga jarang ngobrol dengan teman yang lain. Makanya aku na –.“ Perkataan Fauzan terpotong saat
melihat air mata jatuh mengalir di pipi gadis di depannya itu.
“KAMU TAU APA?” Teriak
Syifa, “Ga usah sok akrab padahal baru kenal tadi, dan ga usah ikut campur sama
urusan orang lain!” Syifa berlari meninggalkan Fauzan. Syifa tau ia tidak
seharusnya berlari. Jantungnya berdegup kencang, rasa sakitnya membuat Syifa
berhenti berlari sambil memegangi dada kirinya. Napasnya terengah-engah, ia
pikir mungkin jantungnya akan berhenti. Ia menyandarkan tubuhnya ke tembok di
sebelah kirinya. Tubuhnya
akan segera ambruk.
“Kau baik-baik saja? Seseorang memegang lengannya sebelum ia terjatuh.
Syifa mengenal suara itu dan langsung berusaha melepaskan lengannya dari
genggaman Fauzan. “Le… lepas!” Namun energinya tidak cukup untuk menarik lengannya.
Saat itu seorang guru perempuan lewat dan melihat wajah Syifa yang pucat
pasi sambil memegangi dadanya. Dia adalah Bu Susan, guru yang bertanggung jawab
untuk UKS. Fauzan melihat Bu Susan dengan wajah khawatirnya berlari menuju
mereka. Saat itu juga ia melepaskan lengan Syifa yang digenggamnya.
“Di mana obatmu?” Tanya Bu Susan panik. “Te… tertinnggal di tas.” Fauzan yang
mendengar ucapan Syifa yang samar-samar langsung berlari ke kelas. Tak lama
kemudian ia kembali dengan obat dan air mineral di tangannya. Tak lama setelah
mengkonsumsi obatnya, rasa sakit di dada Syifa semakin berkurang. Ia melepaskan
genggamannya dari dadanya dan menghela napas panjang. Bu Susan dan Fauzan pun
ikut menghela napas panjang.
“Sebaiknya istirahat saja di ruang UKS” Saran Bu Susan. Syifa
mengangguk. Akhirnya Bu Susan memapahnya menuju ruang UKS dan meninggalkannya
setelah membaringkannya di tempat tidur.
Setelah mengantar Syifa ke ruang
UKS, Fauzan berbicara dengan Bu Susan di ruang guru yang saat itu sedang kosong
karena semuanya mengajar. “Bu Susan, aku ingin tau lebih banyak mengenai
Syifa.” Mendengar pernyataan Fauzan, Bu Susan memandangnya lekat namun ia tidak
menemukan keraguan dalam wajah Fauzan saat menanyakan pertanyaan itu.
Bu Susan menghela napas panjang dan mulai membuka mulutnya. ”Hal itu
sering kali terjadi saat Syifa tidak sanggup mengontrol emosinya. Saat ia
berumur delapan tahun ia harus mengalami operasi pada jantungnya. Dokter sudah
mengatakan kalau ia tidak bisa sepenuhnya pulih. Suatu saat kondisinya pasti
akan memburuk, dan saat itu tiba, jalan operasi tidak akan bisa digunakan lagi.
Karena itu kakakku sangat protektif. Ia tidak bisa banyak bergaul dengan
teman-temannya saat kecil karena kegiatan yang dilakukannya terbatas. Ia hanya
bias menonton teman-temannya bermain di taman di seberang rumahnya dari
kejauhan dan itu yang dilakukannya setiap hari saat cuacanya cerah, saat ia
bosan dengan bonekanya, saat ia merasa kesepian. Namun ia selalu berusaha tersenyum
saat berbicara dengan ibu dan ayahnya, bahkan denganku sekalipun. Dulu aku
pernah bertanya kepadanya, “Apa Syifa tidak kesepian?” lalu ia tersenyum dan
berkata, “Syifa sudah cukup bersyukur karena ada ayah, ibu dan tante Susan.
Syifa punya keluarga yang sangat menyayangi Syifa.” Saat mendengar ucapannya,
hatiku tidak sanggup menahan sakit, memikirkan anak sekecil itu sudah bisa
menerima keadaan dirinya apa adanya saat anak seusianya harusnya asyik bermain
dengan teman-temannya.” Bu Susan menghentikan perkataannya. Ia berusaha menata
hatinya agar tidak hanyut dalam kesedihan dan meneteskan air mata. Lalu ia
menghela napas panjang dan tersenyum.
“Suatu hari ia pernah bercerita kalau ia mendapat teman baru yang selalu
datang saat hujan turun. Dan wajahnya saat bercerita tidak pernah lepas dari
ingatanku. Itu wajah yang paling berseri-seri dan gembira sepanjang aku
mengenal Syifa hingga saat ini. Suatu saat anak itu tidak pernah datang lagi
berapa kalipun hujan yang ditunggu Syifa. Mungkin saat itu ia baru menyadari
bahwa dirinya kesepian. Aku tidak pernah melihat senyum bahagianya lagi sejak
itu. ” Ia menghentikan ucapannya. Ia memandang wajah Fauzan lekat. Ia tersenyum. “Ah, aku harus ke kelas, sudah
ganti pelajaran. Pembicaraan informal ini, jangan katakan pada siapapun ya? Aku
bisa dimarahi guru-guru senior.” Ia beranjak dari kursinya dan berjalan
beberapa langkah lalu berhenti. “Ah, aku sempat mencari tahu soal anak itu,
sebenarnya saat aku menemukannya aku ingin menyeretnya ke depan Syifa,
beraninya dia membuat senyuman semanis itu di wajah Syifa lalu menghilangkannya
dalam sekejap. Keponakan manisku yang malang.” Bu Susan kembali berjalan menuju
pintu keluar.
“Dia benar-benar marah” Pikir Fauzan sambil menundukkan kepalanya. Namun
kata-kata terakhir Bu Susan tidak bisa lepas dari pikirannya, “Aku benar-benar jahat” pikirnya.
Sebelum kembali ke kelas ia menuju ruang UKS untuk melihat keadaan Syifa
namun tidakada seorangpun di sana. Fauzan memutuskan untuk kembali ke kelas dan
menemukan Syifa di sana. Hari itu ia tidak bisa berbicara dengannya karena
Syifa selalu menghindarinya.
***
Sudah tiga hari semenjak hari itu, Fauzan tak
melihat Syifa masuk sekolah. Hari itu ia memutuskan untuk menemui Bu Susan
untuk menanyakan keadaan Syifa. Namun sudah tiga hari juga Bu Susan tidak
datang mengajar.
Hari itu akhirnya Fauzan memutuskan
datang ke rumah Syifa namun tak ada seorangpun disana. Saat itu seorang bibi
tetangga lewat di depan rumah. Melihat Fauzan di depan rumah Syifa dengan
mengenakan seragam sekolah, ia berhenti dan berkata “Hai anak muda, mungkinkah
kau teman sekolahnya Syifa? Sepertinya tiga hari yang lalu kondisinya memburuk
dan keluarganya tergesa-gesa membawanya kerumah sakit. Kebetulan suamiku yang
mengantar mereka. Anakyang malang, dia masih sangat muda.” Bibi itu melanjutkan
langkahnya namun tertahan karena Fauzan memegang lengannya.
“Rumah… sakit mana?” Tanya Fauzan
Melihat wajah pucat dan panik Fauzan
bibi itu langsung menjawab pertanyaan Fauzan. Seketika itu juga ia berlari tak
peduli lagi dengan keadaan sekitarnya. Kenapa…
kenapa harus sekarang? Padahal akhirnya aku kembali, walaupun untuk waktu yang
singkat, setidaknya aku ingin melihat wajah itu lagi. Pikirnya. Senyum
lebar Syifa sewaktu kecil masih sangat jelas dalam pikirannya. Ia berlari
sekuat tenaga. Tanpa sadar ada air yang mengalir membasahi pipinya. Namun awan
mendung hari itu seakan ingin menyembunyikan rasa sedihnya. Air matanya dan air
hujan bercampur menjadi satu tak ada yang bisa membedakan.
***
“Syifa, sudah waktunya minum obat” Seorang
wanita berbalut seragam perawat datang dengan obat-obatan dan segelas air di atas
nampan yang ia bawa. Ia melihat Syifa sedang memandangi air hujan yang turun di
balik jendela. “Apa kau menyukai hujan?” Perawat itu melihat Syifa
tersentak.”Ah, kau benar-benar serius memandangi hujan sampai-sampai tidak
menyadari aku sudah ada di sebelahmu.” Perawat itu tersenyum pada Syifa.
“Aku… benci hujan.” Syifa menundukkan
wajahnya lalu kembali memandang ke luar jendela. Ia bangkit dari tempat
tidurnya dan mendekati jendela hingga kedua telapak tangannya dapat
menyentuhnya. “Aku sangat membenci hujan.” Ia menyentuhkan keningnya pada
permukaan kaca jendela yang dingin, air matanya menetes.
Matanya terbelalak saat melihat
laki-laki berseragam sekolah melambaikan tangannya dengan senyum mengembang di
wajahnya. Senyum yang sama seperti Sembilan tahun yang lalu dengan tubuh basah
kuyup diguyur air hujan. Dari lantai tiga rumah sakit ia bisa melihat dengan
jelas wajah laki-laki itu dan akhirnya ia tahu siapa. Rasa senang, sedih dan
kesal bercampur aduk di dalam hatinya. Ia tidak tau harus berbuat apa lagi
selain menangis.
“Sampai kapan akan terus menangis?”
Fauzan meletakkan telapak tangannya yang basah di atas kepala Syifa. Sekarang
lelaki yang melambaikan tangannya di tengah hujan beberapa menit yang lalu ada
di hadapannya dengan baju yang kering.
Syifa mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Tiba-tiba saja
tamparan mendarat di pipi kiri Fauzan.Ia tak bisa berkata apa-apa selain memandang
Syifa.
“Kau! Sudah delapan tahun, kenapa baru datang sekarang? Karena kau orang
pertama yang ku anggap teman, aku tidak bisa melupakanmu. Meski begitu, kau
pikir bisa datang dan pergi sesuka hatimu? Aku benar-benar membencimu!” Ia
meluapkan semua kekesalannya dan menatap tajam ke mata Fauzan. Tatapan itu tak
lama bertahan. Syifa menurunkan pandangannya, ia tersenyumdan berkata “Tapi,
entah kenapa aku merasa sangat bahagia bertemu denganmu lagi” akhirnya Syifapun
tumbang. Sebelum kesadarannya habis ia merasakan lengan yang hangat menopang
tubuhnya agar tidak jatuh.
Malam itu Syifa kembali membuka matanya. Ia tidak melihat seorangpun di
kamarnya. Ia melihat ke luar jendela. Langit malam itu sangat bersih, tak ada
awan sedikitpun. Hari itu, kota bermandikan cahaya bulan dan bintang-bintang
bersinar dengan sinarnya yang gemerlap. Langit
yang indah pikirnya.
“Sudah sadar?” wajah laki-laki yang tak asing itu berjalan ke arahnya. Syifa
tersenyum kepadanya dan kembali menatap langit. Fauzan duduk disebelahnya. “
Mana yang lebih kau suka? Langit cerah atau hujan?” Syifa terdiam mendengar
ucapan Fauzan. Matanya tetap tertuju pada langit malam.
“Hmmm… mungkin langit yang cerah. Karena aku belum pernah merasakan
terkena hujan” Syifa kemudian menatap Fauzan “Hei teman, aku punya satu
permintaan. Mau dengar?” Syifa tersenyum.
“Katakan saja.” Fauzan tersenyum. Syifa menyampaikan permohonannya
kepada Fauzan. Fauzan sedikit kaget dengan permohonan Syifa. Beberapa lama ia
terdiam dan berpikir. “Oke, tapi aku juga punya permintaan. Berjanjilah akan
memenuhinya kalau aku sudah memenuhi permintaanmu!” Ketika Syifa menayakan
permintaan Fauzan ia hanya berkata “Setelah permintaanmu ku penuhi akan aku
beritahukan.” Fauzan pun tersenyum.
“Hei Fauzan, apa kau akan datang kesini setiap hari meskipun hujan tidak
turun?” Tanya Syifa. Melihat Fauzan mengangguk sambil tersenyum hatinya terasa
lega. “Yah, setidaknya aku tidak kesepian sampai akhir.” Lanjut Syifa.
***
Biasanya setiap hari Fauzan
mengunjungi Syifa meski tidak dalam waktu yang lama. Namun beberapa hari ini
Fauzan sama sekali tidak datang. Susan pun menyadari akhir-akhir ini Fauzan tidak
seperti biasanya. Wajahnya terlihat begitu lelah dan penuh keragu-raguan.
Terkadang ia berhenti sejenak sebelum masuk ke ruang rawat Syifa. Tidak ada
yang tau apa yang sedang dipikirkan Fauzan.
“Tante Susan, apa aku terlalu
membebaninya? Aku menyuruhnya datang setiap hari agar aku tidak kesepian. Tapi
sepertinya akhir-akhir ini ia Nampak lelah dan tidak banyak bicara. Dan juga
sepertinya banyak yang ia pikirkan. Meski begitu ia tetap tersenyum padaku dan
berkata kalau dirinya baik-baik saja. Aku takut, mungkin saja dia sudah lelah
menemuiku setiap hari dan akhirnya ia memutuskan untuk berhenti.” Tangan Syifa
menggenggam erat selimut yang menutupi kakinya.
Melihat keponakannya memasang wajah
seduhnya ia menggenggam erat kedua tangan Syifa dan berkata “Percayalah
padanya, karena kepercayaanmu akan membuatnya tetap di sisimu” Susan tersenyum
memberi semangat kepada Syifa. Hatinya lega setelah melihat Syifa mengangguk
sambil tersenyum.
Malam itu kondisi Syifa memburuk,
dia mengalami gagal jantung. Untung saja dokter masih sanggup menolongnya.
“Waktunya sudah tidak banyak, kita harussegera menemukan donor” tentu saja
perkataan dokter tersebut merupakan pukulan besar bagi keluarga Syifa.
Syifa tersadar di pagi hari. Ia
melihat ibunya sedang menangis di samping tempat tidunya. Syifa segera mengusap
air mata ibunya dan tersenyum “Semua akan baik-baik saja”. Kata-kata itu keluar
begitu saja dari mulut Syifa, membuat ibunya berhenti menangis dan tersenyum
padanya. “Mama, aku ingin bertemu Fauzan. Dia sudah berjanji mau memenuhi
permintaanku” lanjut Syifa.
Sore itu awan mendung menyelimuti
langit dan hujan turun tak lama kemudian. Syifa hanya bisa memandang hujan di
luar jendela dari tempat tidurnya hingga ia mendengar suara seseorang membuka
pintu. Ya, pada akhirnya orang yang ditunggu akhirnya datang juga. Fauzan masuk
dengan mendorong sebuah kursi roda. Dia menyodorkan tangan kanannya kepada
Syifa. “Baiklah tuan putri, hari ini permintaanmu akan menjadi kenyataan”
Fauzan membantu Syifa naik ke atas kursi roda. Mereka naik lift dan tiba di
lantai teratas. Fauzan berhenti, ia berjongkok di depan Syifa seraya
memunggunginya. “Naiklah!” ujar Fauzan. Tanpa berkata apapun Syifa menuruti
kemauan Fauzan. Suara derasnya hujan semakin terasa dekat di telinga mereka.
Fauzan menggendong Syifa menaiki tangga hingga lantai teratas. Ia membuka pintu
angin menerpa wajah mereka. “Kau sudah siap?” Tanya Fauzan sambil menurunkan
Syifa dari punggungnya.
Fauzan masuk ke dalam hujan. Sekarang
tubuhnya basah kuyup. Syifa menadahkan kedua tangannya membiarkan air hujan
memenuhinya. Ia bisa merasakan dinginnya tetesan air hujan, hal yang belum
pernah ia rasakan sejak kecil. Syifa terkejut ketika Fauzan menarik tangannya
agar seluruh tubuhnya masuk ke dalam hujan. Awalnya ia memejamkan mata,
merasakan air hujan menetes di seluruh tubuhnya. Begitu ia membuka matanya,
Fauzan tersenyum. Saat itu Syifa merasakan kebahagiaan yang sangat besar. Ia
tertawa lepas sambil berputar putar di tengah hujan dengan tangannya yang
direntangkan.
Lima belas menit kemudian, hujanpun
berhenti dan berubah jadi gerimis. “Lihat!” Fauzan menunjuk ke arah lengkungan
setengah lingkaran berwarna-warni. “Waah… pelangi” mata Syifa berbinar. “Itu
bonus” kata Fauzan sambil tertawa. “Dan satu lagi” lanjut Fauzan. Ia menarik
tangan Syifa ke sisi berlawanan. Pemandangan matahari terbenam menanti mereka.
Sinarnya yang kemerahan benar-benar sebuah pemandangan yang indah. “Terima
kasih untuk segalanya” Syifa tersenyum pada Fauzan dengan senyuman yang manis. “Syukurlah, sampai akhir aku masih bisa
melihatmu tertawa dan tersenyum seperti ini.” Fauzan tersenyum kepada Syifa.
“Aku… ingin hidup” air mata Syifa jatuh saat mengatakannya. “Kalau begitu
berjuanglah untuk hidup, demi dirimu sendiri bukan demi orang lain” Fauzan
menyemangati dengan senyum. Lagi-lagi senyum itu membuat semangat juang Syifa
bangkit. Senyum yang tak pernah berubah selama Sembilan tahun, senyum yang
selalu ia tunggu.
“Ayo kembali ke kamar” ajak Syifa.
Fauzan baru menyadari Syifa memegangi dada kirinya sejak tadi. “Tenang, aku
baik-baik saja cuma sakit sedikit.” Ujar Syifa sambil tersenyum.
Saat ia berbalik seseorang muncul di
pintu atap. Itu ibu Syifa dan tantenya disusul oleh dokter yang merawat Syifa.
“Kau bisa berjalankan? Pergilah, mereka mengkhawatirkanmu.” Setelah
mengatakannya Fauzan mendorong Syifa agar ia berjalan. Ibu dan tantenya berlari
menghampiri Syifa. Pada akhirnya Syifa meminta maaf karena telah membuat mereka
khawatir.
Bruk…
terdengar suara di belakangnya. Suara itu membuatnya ketakutan apalagi saat
dokter yang ada di belakang ibunya berlari ke arah datangnya suara. Ia berbalik
dan melihat Fauzan sudah tak sadarkan diri. Ia ingin menghampirinya namun
dadanya terasa sakit. Lebih sakit dari sebelumnya namun ia berusaha untuk tetap
melangkah hingga pandangannya menjadi gelap.
***
Satu minggu setelahnya Syifa
sadarkan diri dan mereka bilang mereka mendapatkan donor yang sesuai. Syifa
merasakan detakan jantung barunya. Detakannya terasa hangat membuatnya ingin
menangis. “Mama dan tante akan bicara pada dokter sebentar, kau akan baik-baik
saja sendirian?” Tanya ibu Syifa. Melihat syifa mengangguk ibunya tersenyum
lalu keluar dariruang rawat.
Sepucuk surat tergeletak di meja
samping tempat tidur Syifa bertuliskan untuk
Syifa di bagian luarnya. Ia duduk dan mengambil surat itu lalu membacanya.
Untuk
Syifa,
Sejak dulu aku menyukai hujan karena hujan selalu
menyembunyikan air mataku. Saat hujan
aku bisa puas menangis tanpa rasa takut. Sampai akhirnya hujan mempertemukan
kita. Seorang gadis kecil dengan tatapan sedihnya melihat tetes demi tetes air
hujan yang jatuh dari langit.
Aku ingin mengenalnya, aku ingin tau tentangnya. Lalu
aku mencari tau tentang dirinya, tentang rasa sakitnya, tentang rasa
kesepiannya. Akhirnya aku berani menyapanya, melambaikan tangan kepadanya,
setiap kali hujan turun. Ia mulai
tersenyum, senyumnya sangat manis dan ia membalas lambaian tanganku Lalu aku
memutuskan, aku ingin bicara dengannya
Namun takdir tidak memutuskan demikian. Sembilan tahun
akhirnya harapanku jadi kenyataan namun hal pertama yang aku katakana telah
menyakiti hatinya, Maaf. Maaf telah membuatmu merasa terkhianati, maaf telah
membuatmu kesepian dan kehilangan senyuman. Tapi aku akan berusaha memperbaiki
semuanya. Setidaknya itu hal terakhir yang bisa aku lakukan.
Ah… mengapa aku begitu peduli dengan gadis ini? Aku
mulai berpikir demikian. Mungkin karena kita berbagi nasib yang sama. Namun
akhirnya aku menyadari bahwa aku menyayanginya. Bahwa senyumnya adalah hal yang
berharga.
Aku hanyalah tetesan air hujan yang akan segera
menguap tak bersisa ketika mentari kembali bersinar. Terima kasih karena sudah
membiarkanku menyirami tanah yang tandus agar bunga-bunga yang indah dapat
tumbuh dan bermekaran di atasnya.
Karena sudah mengabulkan permohonanmu, aku akan
memintanya sekarang. Maaf tidak bisa mengatakannya secara langsung. Tapi kau
punya kewajiban memenuhinya. Permintaanku sangat sederhana. Syifa, hiduplah
dengan penuh keceriaan. Bukan demi orang lain, tapi demi dirimu sendiri. Jangan
pernah kehilangan senyumanmu lagi. Aku yakin kau tidak akan pernah merasa
kesepian lagi.
Fauzan.
Syifa memeluk erat surat di tangannya, air matanya tak
terbendung lagi.
TAMAT
======================================================================
Word from author:
Cerpen ini pernah dikirim lomba, tapi ga ada kabar setelahnya, jadi aku pos aja di blog ini, kritik dan saran boleh ditulis di kolom komentar - Terimakasih sudah menyempatkan membaca ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar