CHAPTER
4
WHO
ARE YOU?
Hari itu sekolah hanya setengah hari karena semua guru
akan mengadakan rapat. Salman hari itu tidak pulang bersama Hilmi karena sudah
ada janji dengan keluarganya. Akhirnya Hilmi pulang sendirian dari sekolah. Di
tengah perjalanan ia berhenti sembentar untuk membeli minuman dingin. Ia masih
harus berjalan beberapa blok lagi. Ia duduk sebentar di kursi sebelah toko
kelontong tersebut untuk menikmati minumannya.
Hilmi terperanjat ketika melihat wajah gadis yang tak
asing berlari kearahnya. Sekelompok orang berbaju hitam mengejarnya. Itu gadis
yang ditemuinya di pasar pikirnya. Hilmi menarik tangan gadis itu dan
bersembunyi di dalam toko kelontong tempatnya membeli minuman. Gadis itu
melihat wajah Hilmi dengan terbelalak. Seketika itu juga Hilmi mengeluarkan
telunjuknya dan menempelkan ke mulutnya sendiri “Sssttt…..” Gadis itu hanya bias
diam. Hingga akhirnya mereka melihat orang-orang bersetelan jas hitam itu berlalu
dan tidak menyadari keberadaan mereka.
“Aku akan lihat keadaan sebentar, kau tetaplah disini”
Hilmi keluar melihat kekanan dan kirinya disepanjang jalan. Orang-orang dengan
jas hitam itu sudah pergi. Hilmi mengacungkan jempol ke gadis yang masih di
dalam toko kelontong itu menandakan situasi sudah aman. Melihat tanda dari
Hilmi gadis itu keluar dari toko dan melihat sekelilingnya untuk memastikan
sekali lagi.
“Mereka sudah pergi” jelas Hilmi. “Apa mereka
melakukan sesuatu yang buruk kepadamu?” Mendengar ucapan Hilmi gadis itu hanya
diam dan tidak melepaskan wajah keheranannya. Beberapa detik kemudian akhirnya
ia sadar apa yang harus dilakukan. “Ah… te… terima kasih banyak sudah
menolongku” mendengar ucapan gadis itu Hilmi merasa sedikit lega dan akhirnya
tersenyum. Melihat senyuman Hilmi entah kenapa wajah gadis itu memerah.
“Aku Hilmi, ini kedua kalinya aku melihatmu di dekat
sini. Pertama saat kau salah mengambil barang di toko di pasar dan yang kedua
kau sedang dikejar keja seperti ini.” Mendengar ucapan Hilmi wajah gadis itu
semakin memerah. “Sepertinya selalu di saat kejadian memalukan hehe… Ah… Aku
dikejar bukan karena mencuri atau semacamnya! Jangan salah paham” Gadis itu
memalingkan wajahnya dari Hilmi.
“Eh… Hahaha…” Hilmi tertawa terbahak-bahak membuat
gadis itu keheranan. “Aku bahkan memikirkan bahwa merekalah yang berbuat jahat
padamu, jadi tidak usah khawatir, aku sama sekali tidak berpikir begitu.” Jelas
Hilmi. “Jadi, namamu?” Hilmi akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
“Namaku… Diana” Gadis itu entah kenapa terlihat ragu
menyebutkan namanya sendiri. “Jadi Diana, apa mereka sudah berbuat jahat
kepadamu?” Tanya Hilmi. Diana menggeleng “Mereka hanya menjalankan tugas, aku
juga tidak bias menyalahkan mereka” Diana tersenyum. Melihat senyum Diana,
Hilmi serasa bernostalgia dengan kenangan lama. Ada sebersit kenangan yang
terlintas, hanya sedikit tapi Hilmi melihat senyuman yang sama. Senyuman yang
membuat pikiran dan hatinya tenang.
“Hey Diana, Apa kita pernah mengenal sebelumnya?”
meski Hilmi ragu dengan pernyataan yang dilontarkannya, hatinya mendorongnya
untuk mengatakannya. Mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulit Hilmi entah
kenapa Diana mengerutkan dahinya namun ia mengembalikan raut wajahnya seketika
menahan dan mengatur kata-kata yang akan terlontar dari mulutnya. Pandangan
Hilmi berubah menjadi serius. “Kita pernah mengenalkan? Jauh dimasa lalu, iya
kan? Kau ini sebenarnya siapa?” Hilmi akhirnya mempertegas pertanyaannya.
Matanya melihat lekat ke mata Diana menunggu jawaban yang akan diutarakannya,
menunggu apakah masa lalunya benar-benar akan terkuak denga jawaban yang akan
keluar dari mulut gadis dihadapannya itu.
--------------------------------------------------------------------------------------- BERSAMBUNG
Tidak ada komentar:
Posting Komentar