Rabu, 20 Januari 2016

[Chapter 4] THE LOST MEMORY

CHAPTER 4
WHO ARE YOU?
Hari itu sekolah hanya setengah hari karena semua guru akan mengadakan rapat. Salman hari itu tidak pulang bersama Hilmi karena sudah ada janji dengan keluarganya. Akhirnya Hilmi pulang sendirian dari sekolah. Di tengah perjalanan ia berhenti sembentar untuk membeli minuman dingin. Ia masih harus berjalan beberapa blok lagi. Ia duduk sebentar di kursi sebelah toko kelontong tersebut untuk menikmati minumannya.
Hilmi terperanjat ketika melihat wajah gadis yang tak asing berlari kearahnya. Sekelompok orang berbaju hitam mengejarnya. Itu gadis yang ditemuinya di pasar pikirnya. Hilmi menarik tangan gadis itu dan bersembunyi di dalam toko kelontong tempatnya membeli minuman. Gadis itu melihat wajah Hilmi dengan terbelalak. Seketika itu juga Hilmi mengeluarkan telunjuknya dan menempelkan ke mulutnya sendiri “Sssttt…..” Gadis itu hanya bias diam. Hingga akhirnya mereka melihat orang-orang bersetelan jas hitam itu berlalu dan tidak menyadari keberadaan mereka.
“Aku akan lihat keadaan sebentar, kau tetaplah disini” Hilmi keluar melihat kekanan dan kirinya disepanjang jalan. Orang-orang dengan jas hitam itu sudah pergi. Hilmi mengacungkan jempol ke gadis yang masih di dalam toko kelontong itu menandakan situasi sudah aman. Melihat tanda dari Hilmi gadis itu keluar dari toko dan melihat sekelilingnya untuk memastikan sekali lagi.
“Mereka sudah pergi” jelas Hilmi. “Apa mereka melakukan sesuatu yang buruk kepadamu?” Mendengar ucapan Hilmi gadis itu hanya diam dan tidak melepaskan wajah keheranannya. Beberapa detik kemudian akhirnya ia sadar apa yang harus dilakukan. “Ah… te… terima kasih banyak sudah menolongku” mendengar ucapan gadis itu Hilmi merasa sedikit lega dan akhirnya tersenyum. Melihat senyuman Hilmi entah kenapa wajah gadis itu memerah.
“Aku Hilmi, ini kedua kalinya aku melihatmu di dekat sini. Pertama saat kau salah mengambil barang di toko di pasar dan yang kedua kau sedang dikejar keja seperti ini.” Mendengar ucapan Hilmi wajah gadis itu semakin memerah. “Sepertinya selalu di saat kejadian memalukan hehe… Ah… Aku dikejar bukan karena mencuri atau semacamnya! Jangan salah paham” Gadis itu memalingkan wajahnya dari Hilmi.
“Eh… Hahaha…” Hilmi tertawa terbahak-bahak membuat gadis itu keheranan. “Aku bahkan memikirkan bahwa merekalah yang berbuat jahat padamu, jadi tidak usah khawatir, aku sama sekali tidak berpikir begitu.” Jelas Hilmi. “Jadi, namamu?” Hilmi akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
“Namaku… Diana” Gadis itu entah kenapa terlihat ragu menyebutkan namanya sendiri. “Jadi Diana, apa mereka sudah berbuat jahat kepadamu?” Tanya Hilmi. Diana menggeleng “Mereka hanya menjalankan tugas, aku juga tidak bias menyalahkan mereka” Diana tersenyum. Melihat senyum Diana, Hilmi serasa bernostalgia dengan kenangan lama. Ada sebersit kenangan yang terlintas, hanya sedikit tapi Hilmi melihat senyuman yang sama. Senyuman yang membuat pikiran dan hatinya tenang.
“Hey Diana, Apa kita pernah mengenal sebelumnya?” meski Hilmi ragu dengan pernyataan yang dilontarkannya, hatinya mendorongnya untuk mengatakannya. Mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulit Hilmi entah kenapa Diana mengerutkan dahinya namun ia mengembalikan raut wajahnya seketika menahan dan mengatur kata-kata yang akan terlontar dari mulutnya. Pandangan Hilmi berubah menjadi serius. “Kita pernah mengenalkan? Jauh dimasa lalu, iya kan? Kau ini sebenarnya siapa?” Hilmi akhirnya mempertegas pertanyaannya. Matanya melihat lekat ke mata Diana menunggu jawaban yang akan diutarakannya, menunggu apakah masa lalunya benar-benar akan terkuak denga jawaban yang akan keluar dari mulut gadis dihadapannya itu.

--------------------------------------------------------------------------------------- BERSAMBUNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar